| Rabu, 27 Desember 2006 | KEDU & DIY |
Tahun 2007 Diramal Masih Ada BebenduBEBENDU yang terjadi selama tahun 2006, setiap hari nyaris menghantui umat manusia yang hidup di bumi pertiwi. Bencana seperti tsunami, gempa bumi, banjir, pesawat jatuh, kapal tenggelam, tanah longsor sampai semburan lumpur Lapindo dan banyak lagi lainnya yang menelan korban hingga ribuan jiwa manusia. Diprakirakan, pada tahun 2007 mendatang, sepertinya bebendu itu masih ada. Maka untuk meminimalkan bencana yang terjadi di tahun 2007, Perguruan Kebatinan Papan Kencono, Semarang, kemarin malam menggelar acara ritual di tempuran Sungai Opak, Depok, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul. Pada acara ritual yang digelar tengah malam hingga menjelang pagi itu, Ketua Perguruan Kebatinan Papan Kencono, Alwi Sasongko dan sejumlah anak buahnya dengan pakaian serba hijau mengaku sempat bertemu dengan penguasa pantai selatan Nyai Roro Kidul (Ratu Kidul). Dalam pertemuan itu, mereka sempat mendapat wejangan. Selain mereka sempat dialog dengan Ratu Kidul, lima cantrik Perguruan Kebatinan Papan Kencono sempat ada yang diberi 'tasbih' oleh penguasa pantai selatan tersebut. Kelima cantrik Papan Kencono yang mendapat oleh-oleh dari Ratu Kidul adalah Rahmat, Nunik, Nugroho, Rayo dan Yusron. Menurut Alwi Sasongko, acara ritual ini dimaksudkan untuk menolak bebendu yang bakal terjadi di tahun 2007. Acara ini digelar setiap menjelang tahun baru dan tahun baru Jawa. ''Menjelang pergantian tahun, kami selalu menggelar acara ritual seperti ini,'' kata Alwi Sasongko. Ketika ditanya saat bertemu enguasa Ratu Kidul, Alwi menjelaskan, Ratu Kidul berpesan kepada semua umat manusia hendaknya lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Sebab, tahun depan sepertinya masih banyak tantangan yang dialami bangsa ini termasuk di dalamnya ada bebendu. Oleh karena itu, manusia hendaknya lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta agar dalam mengarungi kehidupan ini bisa lebih tentram dan aman. Dijelaskan, sepertinya sepanjang tahun 2007 mendatang bangsa ini masih menghadapi cobaan, meski cobaan itu tidak seberat yang terjadi pada tahun 2006. Maka untuk meminimalkan bebendu tersebut, Perguruan Papan Kencono menggelar beberapa ritual yang digelar di sembilan tempat. Pertama ritual digelar di sekitar Candi Sanga Gedong Sanga yang dimulai pukul 20.00 hingga tengah malam, lalu dilanjutkan di Belerang Gedong Sanga, Gua Kiskendo Boja, Kali Pethuk Tambak Lorok, Makam Budha Bandungan, Makam Eyang Pecak Tondo Purwodadi, Raden Ayu Nawangsih Kudus, Eyang Kanigoro Salatiga dan terakhir Kali Petok Rahtawu Gunung Muria. Di berbagai tempat 'wingit' itu, sebelum ritual inti dimulai lebih dulu ketua pimpinan membakar srono dengan kelengkapan sesaji yang dibutuhkan (karena di masing-masing tempat lain sarananya). Setelah itu, dilanjutkan semedi dan diakhir dengan dzikir hingga upacara usai. Selama sembilan kali menggelar ritual, menurut Alwi Sasongko, yang paling menarik adalah ketika menggelar upacara di tempiran Sungai Opak, Depok, Kecamatan Kretek Bantul, karena di tempat itu mereka ditemui penguasa laut selatan. Bahkan Ratu Kidul sempat memberi pesan kepada Perguruan Kebatinan Papan Kencono dan para cantrik yang mengikuti upacara tersebut. Pesan Ratu Kidul, lanjut Alwi cukup baik. Pada intinya, kita diminta lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa. Perguruan kebatinan yang berakar dari Mataram ini, setiap menjelang tahun baru Jawa selalu menggelar acara ritual. Acara ini dimaksudkan agar para cantrik atau anggota Perguruan Papan Kencono selalu ingat kepada Sang Widhi, karena manusia hidup tidak lepas dari bimbingan-Nya. (Sugiarto-39) |