logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 17 Desember 2006 OLAHRAGA
Line

OFFSIDE

Deret Minus Dua yang Menakutkan

  • Oleh Ananto Pradono

ATLET boling Indonesia, Ryan Lalisang, sebenarnya punya beban berat. Dua kali seminggu ayahnya harus cuci darah. Tetapi, dia tetap bisa mengoptimalkan konsentrasinya pada hari-hari awal cabang boling Asian Games XV dikompetisikan di Qatar Bowling Centre, Doha.

Urutan pertama dalam nomor perorangan putra akhirnya digapai. Keberhasilan itu merupakan medali emas pertama sepanjang keikutsertaan Indonesia dalam boling Asian Games, sekaligus yang pertama pula bagi kontingen yang berangkat ke ibu kota Qatar itu.

Sosok Ryan pun jadi perbincangan. Terlebih dia belum banyak memberi ''tanda'' sebelumnya. Prestasi menonjolnya barulah runner-up dalam kejuaraan berlevel Asia. Dengan demikian tentu dia tak bisa diposisikan sebagai unggulan utama dalam pesta olahraga empat tahunan itu. Terlebih, kejuaraan tempat dia menjadi runner-up itu digelar di Jakarta .

Ternyata memang sebenarnya seperti itulah pasukan Indonesia yang berangkat ke Doha. Belum ada atlet atau tim yang menjanjikan benar bisa membawa pulang medali emas.

Peraih emas lain bagi negeri ini, Taufik Hidayat, peringkat internasionalnya juga anjlok. Gelar juara dunianya telah lepas. Timnya, regu putra bulu tangkis Indonesia, juga tak lagi pemegang Piala Thomas. Dengan demikian, dua medali emas sebenarnya merupakan hal yang mengejutkan.

Padahal, dengan perolehan dua emas itu pun, wajah keolahraagaan Indonesia makin memprihatinkan. Bayangkan saja, dalam tiga Asian Games terakhir, perolehan emas kita seperti barisan bilangan dengan rumus tertentu.

Dari enam di Bangkok 1998, turun jadi empat di Busan 2002, dan akhirnya melorot lagi tinggal cuma dua di Doha. Akankan ''pola minus dua'' itu berlanjut empat tahun mendatang ketika Guangzhou menjadi tuan rumah?

Bila itu yang terjadi, pasukan Merah Putih bakal pulang tanpa medali emas pada 2010. Sebuah proyeksi yang sah-sah saja muncul, karena memang dunia olahraga Indonesia terus saja menunjukkan kemunduran.

Kegelisahan akan suramnya prestasi olahraga negeri ini sebenarnya langsung direspons ketika pulang dari Busan, empat tahun lalu. Medali dan peringkat yang anjlok, direspons dengan digulirkannya Program Indonesia Bangkit.

Pemilihan terhadap atlet-atlet yang dipandang bisa mengangkat kembali prestasi Indonesia di kancah internasional dilakukan. Langkah itu dibarengi dengan pencanangan target medali emas yang akan direbut di Doha. Muncul perhitungan sepuluh.

***

Seiring perjalanan waktu, ditambah anjloknya reputasi Indonesia dalam SEA Games di Vietnam 2003 maupun di Filipina 2005, akhirnya angka sepuluh emas itu terevisi hanya menjadi empat. Ternyata target itu pun tak kesampaian. Dengan hanya dua medali emas, banyak sudah negara-negara Asia Tenggara yang berada di atas kita dalam klasemen akhir pengumpulan medali.

Kita ada di urutan 22. Begitu jauh selisih dengan Thailand, yang mampu masuk lima besar. Malaysia dan Singapura yang ada pada urutan ke-11 dan ke-12, perolehan emasnya empat kali lipat di atas Indonesia. Filipina dan Vietnam juga mengungguli kita, setelah mengoleksi tiga keping.

Dengan demikian, dibandingkan dengan sesama negara-negara Asia Tenggara kita ada di urutan keenam. Jadi, potret kekuatan olahraga kita sebenarnya memang tercermin di Doha. Tahun lalu, kita nomor lima dalam SEA Games di Filipina.

SEA Games bakal digelar tahun depan. Hasil di Doha memberi sinyal betapa kita mungkin juga bakal kesulitan mempertahankan diri di urutan kelima. Namun, Pemerintah ternyata berani mencanangkan target masuk tiga besar.

Semoga saja itu bukan ucapan emosional, seperti ketika Program Indonesia Bangkit dicanangkan dulu. Bagaimanapun juga, deret minus dua emas dalam tiga Asian Games terakhir memang menakutkan. Ketakutan itu harus disadari, dengan mencanangkan sasaran yang realistis. Bukan harapan yang bombastis. Target adalah janji yang akan selalu dikenang masyarakat. (*-40)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA