| Minggu, 17 Desember 2006 | BINCANG BINCANG |
Mendaki Merapi hingga Sepuluh KaliJIKA ingin tahu relasi antara Merapi dengan Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis, tanyakan sudut-sudut gunung Merapi sebelah mana yang tidak diketahui, maka dengan detail diaakan bertutur dengan rinci setiap jengkal gunung paling aktif di dunia itu. "Saya sudah mendaki Merapi hingga 10 kali," tutur tokoh Katolik dan salah satu budayawan terkemuka Indonesia ini. Pria yang kemudia lebih dikenal sebagai Prof Dr Franz Magnis-Suseno SJ ini memang bergairah jika diajak berkisah tentang kegemaran mendaki gunung di Jawa Tengah itu. Kali pertama mendaki Merapi dari desa Kinahredjo pada 1968, Magnis yakin dia ditemani oleh seseorang yang sekarang dikenal sebagai Mbah Maridjan. "Tapi waktu itu dia masih muda," katanya tersenyum. Kali terakhir pendakiannya terjadi pada 2001. Kala itu pria kelahiran Eckersdorf, Silesia, Jerman, 26 Mei 1936, ini berangkat dari desa Selo, Boyolali. "Saya lebih sering berangkat dari Selo, dari rumah Pak Wito." Selanjutnya, dengan binar yang sangat tampak di paras yang kian menua, Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, ini mendongeng tentang seluk-beluk gunung yang sangat dicintai itu. "Saya tahu pijar-pijar api di sebelah mana yang bisa dinikmati pada malam hari. Bahkan saya mampu menjadi guide yang baik jika dibutuhkan." Namun karena sejak menginjak usia 70 tahun hobi terfavoritnya itu musti "dimusyawarahkan" dengan kesehatan. Kedua tempurung kakinya memang tidak sekokoh dulu, meski hampir saban hari tetap naik turun tangga. Untuk mengganti kegemaran tersebut sekarang yang bisa dilakukan hanyalah joging. "Kalau diukur mungkin saya sudah joging 35.000 Km." Bahkan belum lama ini, Romo Magnis yang datang kali pertama ke Indonesia pada 1961, baru saja mendaki beberapa gunung di Alpen. Meski beberapa gunung yang didaki di Alpen tidak termasuk gunung yang masyhur, namun cukup mengobati keinginan untuk menyalurkan hobinya itu. "Saya masih berkeinginan mendaki Merapi sekali lagi, sekaligus ingin melihat keadaannya setelah ledakan kemarin." Selain mendaki, apa kegemaran selanjutnya Romo yang melakukan naturalisasi menjadi warga negara Indonesia pada tahun 1977 itu? "Hampir seluruh waktu saya habis untuk membaca dan menulis" Bahkan, dalam hitungannya dalam setahun dipastikan 80 sampai 100 tulisan telah dihasilkan. Di luar itu tentu saja penulis buku Etika Jawa dan Etika Politik, ini sibuk dengan kegiatan belajar mengajar serta seminar-seminar. Lalu apa yang membuat lulusan Philosophissche Hochschule, Pullach, Munchen (1957-1960), Institut Teologi Filsafat Yogyakarta (1968), dan Ludwig-Maximilians, Universitat Munchen, Jerman (1971-1973) ini begitu mencitai Indonesia? "Indonesia lebih hidup". " Rangsangan Indonesia terhadap dirinya untuk terus mengasah intelektualias dan memberikan pelayanan inilah yang membuatnya tidak pernah menyesal menjadi warga negara Indonesia. Atas ketekunan, pengabdian, dan pemikirannya pula, STF Driyarkara didirikan, diarahkan, dan menampung semua siswa dari latar belakang agama, suku, ras, etnis, dan golongan. "Dengan cara apa lagi saya harus menyatakan cinta saya kepada Indonesia kalau tidak melalui pengabdian besar terhadap lembaga ini," katanya dalam intonasi yang sangat njawani. (Benny Benke-35). |