logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 16 Desember 2006 NASIONAL
Line

Kematian Tragis Alda Risma (3-Habis)

"Tolong Jaga Mama, Kakak Pergi Dulu"


SAAT ini keluarga besar Alda Risma masih terpukul atas berita tewasnya penyanyi muda itu karena overdosis penggunaan narkotika. Mereka lebih menutup diri dan enggan untuk berkomentar perihal berbagai spekulasi yang bermunculan di seputar kematian Alda, apalagi dia ditemukan di sebuah kamar hotel saat sedang bersama kekasihnya, Ferry Surya Perkasa.

Yang jelas selain ditemukan beberapa jarum suntik, juga ditemukan beberapa buah kondom di tempat kejadin, di kamar 432 Hotel Grand Menteng Jakarta Timur.

Selalu saja ada saat terakhir di saat kepergian orang yang terkasih untuk selamanya. Hal itulah yang dialami oleh keluarga besar Alda termasuk Farah, salah seorang adiknya, yang sedang dirundung duka itu. ''Saya masih terpukul, sebab saya terakhir bertemu dengannya pada hari Minggu saat Kak Alda hendak berpamitan untuk pergi bersama Ferry,'' katanya.

Saat Minggu sore, Alda memanggilnya untuk berpamitan dan sudah mengenakan baju warna pink dan celana biru. ''Tolong bilangin mama, kakak pergi dulu, tolong jagain mama ya,'' kata Alda seperti ditirukan oleh Farah.

Farah sama sekali tidak mendapatkan firasat apa-apa tentang kepergian kakaknya itu untuk yang terakhir kalinya. Hanya saja pada tanggal 9 Desember lalu, Farah mendapatkan kado dari Alda yang sama sekali di luar kebiasannya. ''Ulang tahun saya kan masih seminggu lagi, tapi sebelum waktunya dia sudah memberikan saya bingkisan. Saya terkejut apa maksudnya,'' ujarnya.

Saat itu dia ingat dengan pesan Alda bahwa pemberian itu dari kakak, sebab takut tidak bisa memberikan sesuatu lagi. ''Ini kado dari kakak untuk tahun depan, dan tahun depannya lagi,'' ujarnya.

Barulah Farah merasakan bahwa itu mungkin adalah sebuah pesan yang terakhir kalinya yang dia dengar dari Alda langsung. Semenjak mengetahui berita tewasnya Alda, Farah lebih banyak murung dan dia sempat menjadi histeris saat Alda sudah dimakamkan. ''Saya ini dekat banget dengan dia, suka curhat tentang berbagai hal dan dia selalu memperhatikan saya dan membantu saya. Dia itu bisa menjadi teman, bisa juga menjadi sosok papa yang sudah lama meninggal dunia karena sakit. Kak Alda itu adalah tonggak keluarga dan dia orangnya sangat asyik dan enak untuk diajak ngobrol,'' ujarnya.

Tiba-tiba Nurhayati Aksaria, adik Alda yang lain menangis dan kembali meratapi kepergian kakaknya yang tiba-tiba itu. Dia menangis sesenggukan di sebelah Farah saat kami berusaha untuk mewawancarainya. ''Saya kaget saat mendengar Kak Alda tewas karena overdosis, padahal dia itu tidak ada tanda-tanda sebagai seorang pecandu,'' tandasnya.

Lebih Banyak Diam

Kepergian Alda juga diratapi oleh ibundanya, Halimah yang lebih banyak diam dan tidak mau berkomentar banyak. Dia hanya meminta kepada seluruh temanya dan sanak keluarga untuk mendoakan kepergiaannya. ''Saya tidak bisa lagi ngomong banyak, sebab semuanya sudah takdir. Saya hanya memohon kepada semuanya agar didoakan semoga arwahnya diterima-Nya,'' ujarnya.

Sejak ditinggal oleh papanya, Alda bersama dengan sembilan orang adiknya tinggal bersama dengan kakek neneknya di Bogor. Dan kepergian Alda untuk selamanya itu juga membuat kakeknya, Suwardi tidak mempercayainya. Banyak kesan manis yang ditinggalkan oleh cucunya. Salah satunya adalah renovasi mushala di lingkungan tempat tinggalnya.

''Dia itu menyumbang pembangunan mushala sehingga sekarang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar. Dia menyumbang sajadah, lantai keramik, dinding keramik, kipas angin dan lampu masjid. Pokoknya segala keperluan masjid dia menyumbang,'' tandasnya.

Suwardi sangat terkesan dengan kemurahan hati cucunya itu selain sebagai seorang tonggak keluarga. Alda juga sering bertukar fikiran dengannya sejak ditinggal mati oleh ayahnya. (Ali Imron Hamid-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA