| Kamis, 14 Desember 2006 | NASIONAL |
LKBN Antara Perlu ReposisiSEMARANG- Di tengah persaingan antarmedia saat ini, Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara dituntut untuk mereposisi diri. Jika mengandalkan pola kerja yang sudah ada, bukan tidak mungkin lembaga tersebut akan tergeser oleh media lain yang sejenis. Hal itu disampaikan Pemimpin Redaksi Harian Suara Merdeka Sasongko Tedjo saat berbicara pada seminar "Peran LKBN Antara di Era Banjir Informasi" di Kantor Biro Semarang Jalan Veteran, Rabu (23/12). Seminar itu digelar dalam rangka memperingati ulang tahun ke-69 lembaga tersebut. Pembicara lainnya Wapemred Solopos Mulyanto Utomo. Kedua media itu selama ini menjadi pelanggan Antara. Seminar itu bertujuan untuk mengetahui keinginan pelanggan terhadap berita-berita yang selama ini disuplai oleh kantor berita milik pemerintah tersebut. Sasongko menambahkan, Antara harus melakukan pembenahan ke dalam. Dengan sumber daya yang dimiliki dan bisa menjangkau 33 provinsi di Indonesia, seharusnya lembaga itu mampu menyajikan berita yang cepat dan akurat. Akan tetapi mereka kini harus bersaing dengan media sejenis, salah satunya detik.com. Ketua PWI Jateng itu menilai detik.com lebih cepat dan lebih bervariasi dalam menyajikan berita. Selain itu, wartawan media online itu lebih kreatif dan memiliki strategi khusus dalam mencari narasumber meskipun akurasi datanya terkadang masih lemah. "Kami akui Harian Suara Merdeka selama ini belum bisa meninggalkan Antara, utamanya untuk berita dari luar Jawa dan luar negeri. Namun, persentase pemakaian berita dari detik dan Antara saat ini fifty-fifty," kata Sasongko. Karena itulah, lanjutnya, Antara harus berbenah guna menyajikan berita yang up to date dan akurat. Menurut dia, keunggulan kantor berita tersebut dibandingkan detik.com terletak pada akurasi beritanya, namun lemah dalam kecepatan penyajian. "Ini menjadi pekerjaan rumah bagi LKBN Antara agar menyajikan berita secara cepat dengan tingkat akurasi tinggi,'' tandasnya. Pembenahan Hal senada dikatakan Mulyanto Utomo. Solopos mengeluhkan lambannya foto yang disajikan kantor berita itu, terlebih ketergantungan media baru terbitan Solo itu terhadapAntara relatif tinggi. Koran itu hanya memfokuskan wartawannya di wilayah Karesidenan Surakarta saja. "Pasokan foto kadang sudah berhenti pada pukul 22.00. Seringkali foto peristiwa hari ini jika kejadiannya malam hari, baru tersaji keesokan harinya," kata Mulyanto. Menanggapi hal itu Kepala LKBN Antara Biro Semarang DD Kliwantoro mengatakan, lembaganya akan melakukan upaya-upaya pembenahan. Pihaknya akan berupaya meningkatkan kinerja wartawan di lapangan. Budaya kerja yang selama ini masih lemah akan ditingkatkan, terlebih tahun depan lembaga ini akan berubah status menjadi perusahaan umum (perum). "Persaingan media massa sekarang semakin ketat. Mereka berlomba-lomba untuk menyajikan berita secara cepat dan up to date. Lihat saja Kompas dengan membentuk Jaringan Kelompok Kompas Gramedia. Demikian juga Jawa Pos dengan JPNN yang memiliki 81 media jaringan dari Sumut Pos hingga Radar Sorong, dan masih banyak lagi," kata Kliwantoro. (H32-46) |