logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 Desember 2006 NASIONAL
Line

Cagub Independen Unggul

  • Bom Meledak saat Pilkada Aceh

BANDA ACEH - Hasil penghitungan suara cepat atau quick count yang dilakukan Jaringan Isu Publik (JIP) dengan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar memperoleh suara terbanyak. Pasangan dari jalur independen itu memperoleh perolehan suara sekitar 39,27 persen suara.

Demikian hasil quick count yang diumumkan oleh JIP dan Koordinator LSI Denny JA di Swissbel Hotel, Jl Lampinang, Banda Aceh, Senin (11/12).

Urutan kedua pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam itu ditempati oleh Ahmad Humam Hamid dan Hasby Abdullah (PPP) yang memperoleh 16,17 persen suara. Urutan ketiga ditempati Malik Raden dan Syaed Fuad Zakaria (Golkar, PDI-P, Demokrat dan PKPI) yang memperoleh 13,96 persen suara.

Posisi seterusnya ditempati pasangan Azwar Abu Bakar dan Nasir Jamil (PAN-PKS) yang memperoleh 11,07 persen suara, pasangan Gazali Abbas Adnan dan Solahudin Al Fatah (jalur independen) sebanyak 7,47 persen suara.

Pasangan Iskandar Husein dan HM Saleh Manaf (PBB) memperoleh 5,18 persen suara, pasangan Tamlicha Ali dan Harmen Nurikmar (PBR, PPNUI dan PKB) sebanyak 3,68 persen suara. Sementara mantan Pangdam Iskandar Muda Djali Yusuf yang berpasangan dengan Syaukat Rahmatillah (jalur independen) hanya mendapat 03,19 persen suara.

Dijelaskan Denny, batas kesalahan dalam pengitungan cepat ini berkisar antara 1-2 persen. Sedangkan untuk partisipasi pemilih dalam Pilkada di NAD ini sekitar 78,95 persen.

Untuk penghitungan suara ini, JIP dan LSI telah menurunkan 360 orang secara proporsional di seluruh tingkat kabupaten dan desa. Di tempat yang sama sejumlah pemantau yang lain juga akan mengumumkan hasilnya, tapi hasil itu belum bisa direkap secara pasti.

Bom Meledak

Pelaksanaan Pilkada Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Senin (11/12), dinodai ledakan bom. Hanya sekitar dua jam sebelum pemungutan suara, sebuah bom rakitan meledak di kawasan pedalaman, tepatnya di Desa Lhok Uyun, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Bom itu meledak tak jauh dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) II Lhok Uyun, pada sekitar pukul 05:45. Ledakan itu tidak menyebabkan korban jiwa maupun kerusakan bangunan.

Tak jauh dari tempat ledakan, ditemukan bom rakitan yang belum meledak. Petugas dari Tim Gegana Polda NAD segera menjinakkan bom tersebut sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gangguan pilkada.

Selain ledakan bom rakitan itu, ditemukan juga kasus intimidasi yang menggunakan granat tangan. Kasus itu terjadi di salah satu desa di Kecamatan Matang, Aceh Timur. Seseorang yang mengaku sebagai tim sukses salah satu pasangan, mengancam akan meledakkan granat itu jika calon yang didukungnya kalah.

Kepada wartawan, Kapolda NAD Irjen Pol Drs Bachrumsyah Kasman menjelaskan, kedua kejadian itu telah ditangani oleh petugas kepolisian dan tidak merembet pada gangguan pilkada.

Dikatakannya, secara umum pengamanan pesta demokrasi NAD berlangsung dengan baik, dan kondisi keamanan relatif bisa dikendalikan. Untuk pengamanan pilkada, diterjunkan 10.014 personel polisi dan didukung oleh 2.002 personel TNI.

''Tidak ada satu pun TPS yang tidak bisa melaksanakan kegiatan pemilihan sesuai rencana. Itu artinya, situasi damai sudah terwujud di Aceh,'' kata kapolda, pada jumpa pers di Pendapa Gubernur NAD, Banda Aceh, sore kemarin.

Selain kapolda, jumpa pers itu juga dihadiri oleh Penjabat Gubernur Mustafa Abubakar, Sekda Husni Bahri TOB, Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) NAD M Jafar, Ketua Panwaslih NAD Iskandar Muda, dan Ferry Mursyidan Baldan dari Komisi II DPR yang tengah melakukan monitoring. Menurut Kapolda, ledakan bom rakitan yang terjadi di Aceh Utara dan temuan granat di Aceh Timur, sama sekali tak mengganggu pelaksanaan pilkada. Bom rakitan di Aceh Utara sedang dalam proses penyelidikan petugas.

''Bom rakitan itu meledak jauh sebelum pemungutan suara berlangsung. Jarak dari TPS terdekat juga cukup jauh, sekitar 500 meter. Prioritas yang kami lakukan, pemungutan suara tetap bisa berlangsung,'' ujar dia.

Tentang granat di Aceh Timur, kapolda menjelaskan, pihaknya memperoleh laporan dari masyarakat bahwa ada seseorang mengancam akan meledakkan granat jika calon yang didukungnya kalah. Atas laporan itu, petugas kepolisian segera mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), dan meringkus pengacau tersebut. Selanjutnya, petugas melakukan penyisiran ke rumah yang bersangkutan, tapi tak ditemukan adanya granat lain.

''Kami belum bisa memastikan dia pendukung calon tertentu. Bisa saja dalam proses penyelidikan ditemukan hal lain,'' tandasnya.

Sementara itu, Penjabat Gubernur NAD Mustafa Abubakar menyampaikan, proses pemungutan suara berjalan relatif lancar. Dia memperkirakan, tak kurang dari 60% warga Aceh yang memiliki hak pilih aktif menggunakan haknya. Walaupun, dia tidak memungkiri, adanya kendala di sana-sini, terutama berkait dengan adanya pengungsi yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya.

''Salah satu indikasinya, Bandaaceh yang biasanya sibuk, hari ini (kemarin-Red) terlihat lengang. Kita tinggal tunggu saja hasil penghitungan nanti. Harapan saya, para kandidat siap untuk menerima kekalahan dan tetap menjaga iklim damai di bumi Aceh,'' kata Mustafa.

Pantauan Suara Merdeka, sepanjang pagi hingga siang kemarin, jalan-jalan utama di Banda Aceh memang terlihat relatif sepi. Sejak TPS dibuka pada pukul 8:00, masyarakat Banda berbondong-bondong mendatangi TPS untuk menunaikan haknya. Hanya saja, di sejumlah barak pengungsian, banyak warga yang tinggal di rumah karena tidak terdaftar sebagai pemilih.

Pelanggaran

Ketua Panitia Ad Hoc I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Drs H Sudharto MA, yang melakukan pemantauan langsung atas Pilkada Aceh mengatakan, pihaknya melihat banyak hal yang bisa dipelajari daerah lain dari Aceh. Pelaksanaan pilkada yang relatif aman dan damai merupakan keberhasilan yang patut ditiru, termasuk oleh Provinsi Jawa Tengah yang akan melaksanakan Pilgub pada 2008 mendatang.

''Dari pantauan pada sejumlah TPS di Banda Aceh dan Aceh Besar, simpulan saya, Pilkada NAD berjalan dengan lancar dan damai. Walaupun, ini yang saya sayangkan, banyak pengungsi korban tsunami yang tidak bisa melaksanakan hak pilihnya karena tidak terdaftar,'' kata anggota DPD asal Jateng itu. (H9-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA