| Senin, 11 Desember 2006 | RAGAM |
InfomedikaKedelai Turunkan Risiko Kanker PayudaraKHASIAT kedelai bagi kesehatan makin nyata. Penelitian sekelompok ilmuwan dari AS memastikan, asupan makanan dari kedelai secara teratur pada masa kanak-kanak berdampak positif bagi kesehatan karena mampu menurunkan risiko terkena kanker payudara. Sementara itu, menyantap ikan beberapa kali dalam waktu seminggu membuat risiko terkena kanker usus jauh lebih rendah. Hasil penelitian ini menambah sejumlah hasil temuan mengenai peran pola makan atas serangan kanker. Para ahli yakin dua pertiga dari kasus kanker berasal dari faktor gaya hidup, antara lain kebiasaan merokok, pola makan yang tidak tepat, serta kurangnya melakukan olahraga. Dr Larissa Korde dari Lembaga Kanker Amerika di Universitas Hawaii mempelajari kasus kanker payudara yang diderita 597 wanita AS keturunan Asia dan membandingkannya dengan 966 wanita lain yang tidak mengidap penyakit itu. Orang tua (ibu) dari sebagian wanita yang ikut dalam penelitian juga ditanyai mengenai jenis makanan yang mereka berikan kepada putri-putrinya saat usia kanak-kanak. Wanita yang sering menerima asupan makanan terbuat dari kedelai seperti tahu dan miso ketika berusia 5 - 11 tahun mengalami penurunan risiko terkena kanker payudara 58 %. Tidak jelas bagaimana kedelai dapat mencegah kanker, walaupun senyawa yang ditemukan di dalamnya yang disebut isoflavones, memiliki sifat yang memberikan efek serupa dengan estrogen. Penelitian kedua memperlihatkan, mereka yang mengonsumsi ikan lima kali dalam seminggu mengalami penurunan risiko terkena kanker usus dibandingkan dengan mereka yang menyantap ikan kurang dari sekali dalam sepekan. Sebaliknya, kebiasaan menyantap daging berwarna merah (daging sapi, kambing, atau domba) meningkatkan risiko terkena kanker payudara di kalangan wanita. Virus Rekayasa Bunuh Kanker Otak SUATU bentuk virus yang telah direkayasa bisa menulari dan membunuh sel glioma yang menular. Sementara, sel normal tidak terpengaruh. Vesicular stomatitis virus (VSV) adalah virus yang memiliki kemampuan untuk membunuh kanker dalam sejumlah jenis sel tumor, termasuk tumor otak yang disebut glioma dan dapat mengakibatkan kematian. "Kami merekayasa VSV untuk membuatnya lebih aman," kata Dr Peter A Forsyth dari Clark Smithe Integrative Brain Center di University of Calgary, Kanada, mengenai hasil penelitiannya itu. Para peneliti mengevaluasi kelemahan jaringan sel menular glioma terhadap infeksi dan pembunuhan oleh VSV hasil modifikasi. Virus tersebut menulari dan membunuh 14 jajaran sel, tapi tak berdampak pada jaringan sel normal, demikian tim peneliti itu melaporkannya dalam Journal of the National Cancer Institute. Pada tikus yang berisi sel menular manusia glioma, tumor yang kemampuannya menurun setelah disuntik dengan VSV hasil rekayasa. Ketika sel itu dimasukkan melalui urat nadi, tikus diberi VSV mutan hidup yang mampu bertahan lebih lama dibandingkan dengan sel yang disuntikkan virus mati. Hal itu, kata Forsyth, berarti VSV mutan dapat diberikan melalui urat nadi daripada yang disuntikkan langsung ke dalam orak. Jadi lebih mudah bagi pasien dibandingkan dengan operasi. Kalau perlu virus tersebut dapat diberikan beberapa kali kepada pasien rawat jalan. VSV hasil rekayasa "menjanjikan pada tikus dan Forsytha bersemangat
mengenai itu. Hanya saja perlu berhati-hati dan terus menilainya sebelum
memasuki uji-coba klinis.(Silvi-11)
|