| Senin, 11 Desember 2006 | OLAHRAGA |
PERNIKDukung Luluk/Alvent di VelodromeTERBATASNYA tempat duduk di arena bulu tangkis Aspire Hall, memaksa banyak pendukung Indonesia dan Malaysia yang menyaksikan partai final ganda putra, Minggu dinihari WIB, pindah ke ruang lain. Daripada berdiri sehingga tak utuh menyaksikan jalannya pertandingan, mereka memilih menonton tayangan televisi melalui layar lebar. Layar lebar yang tersedia tepat berada di depan arena untuk balap sepeda, velodrome. Karena saat itu cabang balap sepeda telah memainkan perlombaannya, ruangan tak digunakan. Kursi-kursi yang ada lalu diduduki suporter kedua negara. (tok-28) Topi dan Rompi Dipenuhi Pin KETUA Federasi Baseball Filipina, Hector Navasero, menghiasi topi dan rompi yang dipakainya dengan pin. Sedemikian banyaknya pin yang dipasang, sampai seakan tak ada ruang yang tersisa. Dia mendapatkan pin-pin itu dengan tukar-menukar, hobi yang mulai ditekuninya sejak 1986. Karena hobinya, pria berusia 71 tahun tersebut biasa menghentikan orang yang berjalan di perkampungan atlet. Dia menawarkan pin yang dibawanya untuk dibarter. Kebiasaan tersebut membuat dirinya sangat dikenal di perkampungan atlet, yang letaknya tidak jauh dari pusat kota Doha. (tok-28) Tuduhan Ketidakadilan Muncul BINARAGAWAN Malaysia, Sazali Abdul Samad, Oktober lalu menjuarai kontes di Swiss. Kemenangan itu membawa dirinya mendapat gelar Mr Universe untuk kategori amatir. Tak ayal dirinya difavoritkan menjuarai kelas 65 kg Asian Games XV. Namun, ternyata hanya perak yang berhasil dibawa pulang. Medali emas direbut Mohammed Salem Abdullah Zahmi dari Uni Emirat Arab. Pelatih Sazali, Milos Sarcev, menuduh kekalahan anak asuhnya itu sebagai ketidakadilan. Sebelum datang ke Asia, dia mengaku tidak percaya ada keputusan wasit yang bias. Namun, setelah Sazali hanya meraih perak, dia mulai mempercayainya. (tok-28) |