| Senin, 11 Desember 2006 | OLAHRAGA |
Salam dari DohaLulusan D3 Minimal Bergaji Rp 17 JutaDENGAN tiket 10 riyal Qatar (Rp 25.000), seorang pengunjung Aspire Hall bisa menonton beberapa cabang olahraga sekaligus. Gedung itu tak hanya indah dengan desain artistik nan futuristik, tetapi juga amat luas. Pantas saja kalau punya slogan ''Aspire today, inspire tomorrow (Aspirasi hari ini, inspirasi untuk hari esok)''. Tetapi, tak salah kalau kalimat itu juga bisa diartikan ''Aspire hari ini menginspirasi masa depan'', mengingat Aspire sendiri sebenarnya adalah nama akademi olahraga. Sebuah velodrome balap sepeda ada di dalamnya. Kolam renang juga. Beberapa bagian lainnya bisa digunakan untuk pertandingan tinju dan sejumlah cabang olahraga berbeda secara bersamaan. Di gedung tersebut, bulu tangkis yang menjadi ''parfum'' bagi dunia olahraga Indonesia memainkan pertarungan-pertarungannya. Teriakan-teriakan ''Indonesia...! Indonesia...!'', ''Ayo Taufik...!'' sampai ''Sayang kamu harus menang'' biasa terdengar. Warga Indonesia seperti tuan rumah di arena bulu tangkis, karena kesempatan memberi dukungan untuk atlet juga merupakan ajang silaturahmi. Terlebih sebagai pendatang, mereka ingin merasakan pula kebanggaan punya rekan sebangsa yang hebat. Tentu saja saya bisa membayangkan betapa kecewa mereka ketika dukungan berapi-api yang telah diberikan kepada tim sepak bola di Khalifa Stadium -- yang letaknya tak jauh dari Aspire Hall -- beberapa minggu lalu, dibalas dengan kekalahan telak. Saat melawan Irak dalam babak prakualifikasi Asian Games XV, menurut Duta Besar Abdul Wahid Maktub, ada 2.500 suporter yang datang. Namun, ternyata mereka menjadi saksi dari kekalahan 0-6. PSSI U-23 pun akhirnya ''khallas'' (habis), setelah ditumbangkan Suriah 1-4 dan ditahan Singapura 1-1. Wajar kalau kekecewaan itu ingin mendapat balasan dari cabang bulu tangkis. Ruang berkapasitas 2.000 orang pun didominasi pekerja Indonesia saat final perseorangan, Sabtu malam lalu. Jumlah yang datang diperkirakan 3.000 orang, sehingga banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Terpaksa mereka harus menonton dari televisi layar lebar yang dipasang di dalam gedung. Ada yang juga yang nekat berdesak-desakan di depan pintu, cuma untuk melongok papan skor dan mengintip tayangan televisi di salah satu meja panitia pelaksana. ''Tak apalah saya tak bisa duduk, yang penting bisa berkumpul dengan teman-teman,'' kata Edi, seorang pria asal Blitar yang bekerja di perusahaan industri petrokimia Qatar Vinyl Company. Silaturahmi Pemberian dukungan untuk para atlet memang dimanfaatkan juga sebagai ajang silaturahmi. ''Ada 22 ribu orang tenaga kerja kita di sini,'' tutur Abdul Wahid Maktub. Enam ribu orang di antaranya adalah tenaga terampil, yang umumnya bekerja di industri minyak, gas, dan petrokimia. Mereka biasanya disertai anak dan istrinya. Berbeda dari 18 ribu TKI lainnya, yang umumnya hanya datang sendiri. Dengan menghitung anggota keluarganya, diperkirakan ada 40 ribu lebih warga Indonesia di Qatar. Sebuah potensi yang besar untuk penggalangan dukungan bagi atlet. ''Kita memang meriah kalau menonton pertandingan,'' ujar Naun Nuriansyah, yang bekerja sebagai seorang sopir. Bahkan dia mengaku pernah ditangkap polisi, karena dianggap terlalu gaduh saat memberi dukungan dalam kejuaraan tenis meja yunior internasional beberapa tahun lalu. Polisi yang menangkapnya berasal dari Sudan. ''Setelah jauh meninggalkan arena saya dilepas,'' ujar pria asal Subang, Jawa Barat, yang sudah tujuh tahun berada di negeri semenanjung itu. Dia mengaku harus meninggalkan anak dan istrinya di Tanah Air, karena biaya hidup mahal. Tingginya biaya hidup, bagi pekerja di perusahaan tertentu bisa langsung dikompensasi. Misalnya untuk karyawan Qatar Petroleum (QP), mereka mendapat ganti biaya kesehatan, pendidikan anak, dan apartemen. Menurut Dubes, Indonesia telah mendapat nama baik dalam penyediaan tenaga kerja untuk minyak dan gas. Salah satu penyebabnya, ada orang-orang yang terlibat dalam produksi gas pertama pada 1991. Mereka sebelumnya bekerja di kilang LNG Arun. Cadangan minyak dan gas negeri itu masih sangat besar. 13,2 miliar barel untuk minyak (tertinggi di dunia secara per kapita) dan 900 triliun kubik feet untuk gas (nomor dua per kapita setelah Rusia). Melihat angka itu dan telah diakuinya kinerja pekerja-pekerja Indonesia pada industri tersebut, negeri itu seakan-akan mengatakan, ''Ta'ala! (datanglah!)'' pada tenaga-tenaga serupa di Indonesia. Pendapatan yang dijanjikan pun menggiurkan. Memang, rata-rata orang Indonesia enggan berbicara terbuka mengenai penghasilannya bekerja dengan status sebagai tenaga profesional di Qatar. Hanya ada gambaran, untuk lulusan D3 yang baru masuk, penghasilan minimal Rp 17 juta bakal didapat bila bekerja di QP. (Ananto Pradono-28) |