| Senin, 11 Desember 2006 | WACANA |
Menggalakkan Pendidikan Lingkungan
SEMENJAK Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden hingga saat ini bangsa Indonesia tertimpa berbagai macam bencana secara bertubi-tubi. Baik yang berskala besar maupun kecil. Baik bencana yang menelan korban harta dan nyawa sangat besar maupun bencana yang tidak terlalu banyak memakan korban harta dan nyawa, seperti halnya banjir, gempa, tsunami dan yang terkini tragedi lumpur panas Porong Sidoharjo . Menariknya berbagai bencana yang menimpa bangsa Indonesia secara beruntun itu mayoritas karena faktor alam. Realitas ini menunjukkan bangsa Indonesia saat ini sudah tidak ramah terhadap alam dan lingkungannya sendiri, sehingga wajar bila alam pun kini tidak ramah lagi terhadap bangsa Indonesia. Selama ini kita sebagai warga bangsa bukannya merawat, menjaga, melestarikan dan menghormati lingkungan, tetapi justru memperlakukannya dengan membabi buta, serampangan, sewenang-wenang dan seenak perut kita sendiri. Misalkan dengan mengeksploitasi secara berlebihan melalui penebangan hutan secara serampangan, membakar hutan sembarangan, penambangan membabi buta, mendirikan perumahan, pertokoan serta pabrik tidak ramah lingkungan, pengeboran tidak tahu aturan dan lain-lain. Tidak kalah pentingnya dalam kasus kecil keseharian kita sekarang juga telah ''mentradisikan'' membuang sampah sembarangan. Berbagai prilaku negatif seperti inilah yang menjadi faktor utama terjadinya bencana selama ini. Makanya apabila kita ingin bangsa Indonesia terhindar dari berbagai bencana alam, suatu keniscayaan saat ini seluruh warga bangsa untuk bisa menghormati dan memperlakukan alam lingkungan dengan arif, bijaksana dan sesuai perintah Allah SWT. Seperti dengan cara membangun, menjaga, melindungi dan melestarikan alam lingkungan kita. Jangan sampai ada lagi perilaku kita yang menjadikan alam lingkungan kita rusak, seperti halnya perilaku negatif di atas. Hal ini penting, sebab menurut Otto Soemarwoto lingkungan bagi kehidupan makhluk pada hakikatnya merupakan syarat mutlak bagi kelangsungan hidup secara menyeluruh. Jika kondisi lingkungannya menunjukkan keadaan yang baik berarti lingkungan tersebut menunjang terhadap kelangsungan hidup bagi makhluk hidup (Otto Soemarwoto, 1989). Begitu pula bagi bangsa Indonesia, bila kualitas alam lingkungan tetap terjaga kelestariannya dengan baik, maka hal ini dapat menunjang kelangsungan hidup bagi makhluk hidup yang ada di bumi pertiwi ini, khususnya kelangsungan hidup bagi anak-anak generasi bangsa. Sadar Lingkungan Dalam konteks inilah seluruh warga bangsa dituntut untuk sadar akan lingkungan. Sebab pada dasarnya kesadaran akan lingkungan merupakan syarat mutlak bagi pengembangan lingkungan secara efektif. Tanpa adanya kesadaran tentang lingkungan hidup bagi manusia, maka tentu pengembangan lingkungan ke arah yang bermanfaat tidak akan tercapai (Dr. M.Bahri Ghazali, MA, 2001). Mengingat kesadaran warga bangsa Indonesia masih rendah terhadap lingkungan, maka pendidikan lingkungan menjadi keniscayaan untuk digalakkan. Baik pendidikan lingkungan di sekolah, di keluarga maupun dalam masyarakat. Pendidikan lingkungan ini penting dan mendesak untuk dilakukan mengingat tanpanya masyarakat tidak akan sadar terhadap kelestarian lingkungannya. Hal ini sesuai dengan amanat UU Lingkungan Hidup Pasal 9, yang berbunyi; ''Pemerintah berkewajiban menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat akan tanggung jawabnya dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui penyuluhan, bimbingan, pendidikan dan penelitian tentang lingkungan hidup'' (UU No 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab III, Pasal 9). Pendidikan Lingkungan Pertama, pendidikan lingkungan di sekolah. Pendidikan lingkungan di sekolah hendaknya dilakukan mulai jenjang dasar. Hal ini penting, karena jika pendidikan lingkungan diberikan mulai tingkat dasar (SD), maka kesadaran siswa terhadap lingkungan sampai mendarah daging. Apalagi jika pendidikan lingkungan masuk dalam kurikulum pendidikan? Jelas hasilnya akan lebih maksimal lagi. Inilah cara dan strategi paling efektif bila bangsa Indonesia ingin terhindar dari berbagai bencana alam di masa-masa mendatang. Kedua, pendidikan lingkungan di keluarga. Pendidikan lingkungan dalam keluarga sepenuhnya tergantung pada seluruh komponen keluarga, utamanya bapak dan ibu. Sebab peran orang tua dalam pendidikan lingkungan di keluarga sangatlah penting dan dominan. Makanya para orang tua diharapkan untuk mau dan mampu memberikan pendidikan lingkungan pada anak-anaknya. Seperti menanamkan kesadaran akan pentingnya lingkungan pada putra-putrinya sejak dini. Mengajari bagaimana cara memperlakukan lingkungan, bagaimana cara merawat lingkungan, serta bagaimana cara menghormati lingkungan. Dalam dataran praksisnya para orang tua dapat memberi contoh langsung pada anak-anaknya. Misalnya dengan selalu membuang sampah pada tempatnya, tidak menebang pohon atau tanaman di sekitar rumahnya secara serampangan dan sembarangan dan lain-lain. Pada hakikatnya pendidikan lingkungan akan lebih mengena pada anak jika diberi contoh langsung sebagaimana uraian tersebut. Baiknya mutu pendidikan lingkungan itu sendiri, karena keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Ketiga, pendidikan di masyarakat. Harus kita akui bahwa pendidikan lingkungan di masyarakat sangatlah penting. Karena pendidikan lingkungan di masyarakat tidak hanya ditujukan pada anak semata, tetapi pada seluruh lapisan masyarakat. Pada prinsipnya pendidikan lingkungan di masyarakat merupakan kewajiban setiap individu. Tetapi akan lebih efektif dan efisien jika para tokoh masyarakat dan tokoh agama mau secara serius melaksanakannya. Dalam konteks ini para tokoh masyarakat dan tokoh agama diharapkan mau dan mampu bersatu padu untuk melaksanakan pendidikan lingkungan di masyarakat. Bagi tokoh agama, dapat melaksanakan dan menyampaikan pendidikan lingkungan dalam forum keagamaan. Dengan cara menyisipkan materi pendidikan lingkungan pada setiap ceramah keagamaannya. Begitu pula tokoh masyarakat, diharapkan mau dan mampu menyampaikan pendidikan lingkungan dalam forum warga. Seperti saat musyawarah RT, RW dan musyawarah desa. Tentu dengan cara menyisipkan materi pendidikan lingkungan dalam forum warga tersebut. Dengan ketiga komponen di atas mampu melakukan pendidikan lingkungan dengan baik, diharapkan seluruh warga bangsa memiliki kesadaran akan lingkungan serta mampu merawat, memelihara, menjaga dan menghormati lingkungannya. Dengan adanya warga mau dan mampu menghargai dan menghormati lingkungan, maka dipastikan bangsa Indonesia di masa mendatang akan terhindar dari berbagai bencana alam, baik yang berskala besar maupun kecil. (11) - Hevi Roro Prihati, pemerhati masalah lingkungan hidup, guru SDN 1 Putatsari Grobogan |