logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Desember 2006 OLAHRAGA
Line

Salam dari Doha

Tamu yang Menjadi Tuan Rumah

SEBUAH pentas yang bukan untuk warga Qatar. Begitulah yang terasa dalam beberapa hari awal penyelenggaraan Asian Games XV. Gairah penduduk setempat hanya terlihat saat upacara pembukaan dan ketika tim sepak bolanya bertanding.

Itu pun tidak seheboh di Indonesia. Memang ada arak-arakan mobil dengan bendera putih-merah maron berkibar-kibar ketika timnya menang 4-1 atas Uni Emirat Arab, semalam. Namun, di tempat partai itu digelar, Stadion Al-Sadd, Doha, penonton tidak membludak. Padahal pertandingan tersebut sangat menentukan bagi Abdulla Obaid Koni dkk.

Karenanya bisa dibayangkan bagaimana jumlah pengunjung pada arena-arena lain. Di arena tenis yang berlokasi di Khalifa Sports Complex misalnya, keramaian hanya ditimbulkan oleh kehadiran para sukarelawan, wartawan, serta atlet dan ofisialnya. Penonton paling sejumlah suporter negara tertentu, yang kebetulan bekerja di sini.

Namun, bila suatu negara punya semacam ''olahraga nasional'', pengerahan penontonnya terasa serius. Seperti terjadi dengan banyaknya orang Malaysia di arena sepak takraw dan menbanjirnya orang Indonesia di tempat pertandingan bulu tangkis.

Fenomena demikian semakin menguatkan kesan pesta olahraga itu memang bukan arenanya penduduk Qatar. Apalagi para sukarelawan kebanyakan datang dari luar negeri.

Banyak dari mereka pernah bertugas pada Olimpiade Athena 2004 dan Olimpiade Musim Dingin Turin 2006. Pekerja-pekerja di luar kepanitiaan Asian Games umumnya juga pendatang.

Di restoran yang beroperasi di Main Media Centre, warga Filipina mendominasi. Hanya delapan orang datang dari Indonesia, namun seorang dipulangkan karena sakit. ''Atasan langsung saya orang Suriah,'' kata Khoirul, pelayan restoran yang datang dari Madura.

Bahasa Jawa

Kesan orang-orang Qatar bukanlah tuan rumah yang ''terlibat'', paling nampak di kursi penonton. Jadilah warga negara asing seperti penguasa stadion. Karena banyaknya orang Indonesia yang bekerja di Qatar, mereka dominan di arena bulu tangkis. Bahasa Jawa pun mudah terdengar di Aspire Hall.

Malah ada seorang wartawan yang kaget karena tiba-tiba dipanggil nama kecilnya oleh penonton, sesuatu yang hanya dialami kalau pulang ke asalnya di Surabaya.

Ternyata panggilan itu datang dari bekas murid mengaji bapaknya. Ada juga rekan wartawan yang setelah ngobrol dengan seorang suporter, langsung teringat memori masa lalunya karena berasal dari desa yang sama di Gresik. Kampungnya saja yang berbeda.

Kesan pertandingan itu berlangsung di Qatar seolah sirna. Apalagi bahasa Arab hanya muncul kalau MC mengumumkan jadwal dan hasil pertandingan. Itu pun diselingi bahasa Inggris.

Para tamu pun berubah jadi tuan rumah. Mereka bisa ''meneror'' lawan, seperti dialami tim putra bulu tangkis China saat semifinal menghadapi Indonesia. Pelatih Li Yongbo sampai memperlihatkan kemarahannya secara langsung, kepada pendukung Indonesia. Sebaliknya, tim sepak takraw Indonesia giliran menghadapi riuhnya dukungan pendukung Malaysia dalam semifinal, Selasa malam lalu. Bedanya tim bulu tangkis China mampu menang, sementara tim sepak takraw Indonesia kalah.

India juga berpotensi menjadi tuan rumah pada arena tertentu, karena mereka juga punya banyak warganya di sini. Malah harian berbahasa Inggris Qatar Tribune mangakui potensi warga India di negeri itu, yang tersirat dari pemberitaan di halaman I kemarin.

Koran tersebut tidak tanggung-tanggung mengangkat prestasi Sania Mirza cs. Kemenangan mereka 2-1 atas tim tenis putri Thailand jadi headline halaman muka. Padahal itu baru lolos ke semifinal.

Dalam berita itu, sedikit disinggung tentang nasib tim putra Qatar. ''Tuan rumah, yang tak memperoleh dukungan suporternya, harus tersingkir setelah dikalahkan Korea Selatan,'' tulis harian itu.

Melihat rendahnya kepedulian warga Qatar pada Asian Games, panitia patut berterima kasih pada pendatang yang ingin menunjukkan cinta pada negaranya. Tanpa semangat seperti itu, sulit membayangkan cabang di luar sepak bola bakal bergairah. Demikian antusiasnya, para tamu itu jadi seperti penonton tuan rumah saja. (Ananto Pradono, dari Doha-28)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA