logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Desember 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Tentang Amoral Anggota Dewan

Lagi-lagi berita tentang perilaku amoral anggota DPR yang terhormat menghiasi beberapa media massa. Mereka yang dipilih rakyat secara langsung ini seyogianya bisa menjaga kehormatan dan menjadi panutan masyarakat. Tersebarnya video porno salah satu anggota Dewan dari Fraksi Partai Golkar ini membuat gerah rekan khususnya yang satu partai.

Bahwa setiap kasus yang terjadi pada elite atau politikus tidak bisa dipungkiri pasti ada motif politiknya. Maka seharusnya anggota yang terlibat segera mengklarifikasi agar tidak berkembang menjadi asumsi negatif masyarakat.

Tindakan amoral seperti ini makin memperburuk citra lembaga negara yang seharusnya memiliki kewibawaan dalam penyelenggaraan negara. Saya prihatin atas kasus ini dan menunggu solusinya. Harapan kepada para elite politik, sadarilah bahwa stempel sebagai anggota Dewan maupun aparat negara merupakan amanah rakyat yang harus dijaga.

Maulana Yusuf

Gapuro Rt 4/Rw 1 Warungasem, Batang

***

Polisi Menggeledah

Tanpa Surat Tugas

Pada 13 Oktober 2006 pukul 23.30 keluarga saya kedatangan 4 anggota polisi berpakaian preman mau menangkap saya. Mereka awalnya mendatangi rumah mertua saya, H Triman untuk menanyakan keberadaan saya. Ketika dijawab tidak ada, tanpa banyak bicara mereka langsung menggeledah semua ruangan.

Selama menggeledah rumah, mereka tidak menunjukkan surat tugas. Setelah tidak menemukan saya, mereka kemudian mendatangi ke rumah saya di daerah Kecapi juga pada pukul 24.00 dengan menggedor pintu rumah yang kebetulan kosong, sehingga mengundang perhatian tetangga.

Mereka juga mendatangi rumah kakak dan kemudian pukul 01.00 ke rumah bapak saya. Tindakan polisi tersebut berawal dari saingan bisnis saya yang melaporkan dugaan penipuan cek kosong yang disangkakan kepada saya, namun tidak terbukti dengan telah dikeluarkannya SP3 (Surat Penghentian Perintah Penyidikan).

SP3 dikeluarkan karena semua cek yang saya berikan ke saingan bisnis ternyata sudah bisa diuangkan semua. Perlakuan oknum polisi tersebut telah mencoreng nama baik saya dengan masuk rumah orang di tengah malam tanpa menunjukkan surat tugas.

Bapak pimpinan Polri, apakah perilaku polisi sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat memang demikian. Secara moral saya dan keluarga tidak bisa menerima, apalagi setelah kejadian tersebut orang tua saya shock berat dan akhirnya meninggal dunia.

Edy Siswanto

Kecapi Rt 26/Rw 5 Tahunan, Jepara

***

Operasi KB Safari

Pada 15 November 2006 pagi, istri saya operasi steril di RS. Panti Wilasa Dr Cipto Semarang. Dia ikut program Safari KB dari Kecamatan Semarang Selatan tanpa dipungut biaya sepeser pun. Lazimnya operasi, pasien biasanya dibius dulu untuk menghindari rasa sakit.

Yang terjadi, bagian perut yang akan dioperasi hanya diolesi cairan (mungkin obat bius lokal) ditambah suntik di pantat. Dalam operasi tersebut dia merasa kesakitan. Mengetahui hal tersebut, dokternya berkata dengan nada tinggi. Katanya, kalau tidak ingin kesakitan ya jangan mau program KB Safari tapi ikut KB Mandiri dengan membayar Rp 2 juta.

Operasi tetap berjalan terus dan istri saya pun menangis kesakitan. Kini giliran perawat pembantu dokter yang berkata, kalau teriak terus nanti calon pasien lain takut dioperasi. Bahkan petugas PLKB dan dari kecamatan yang mendampingi istri saya juga kena semprot dokter, katanya bawa pasien kok suka menangis.

Setelah operasi selesai tanpa disuruh istirahat, pasien langsung disuruh turun dan keluar kamar operasi. Sambil menahan sakit, istri saya pun keluar dari ruang operasi tapi karena tidak kuat menahan rasa sakit akhirnya jatuh pingsan.

Saya yakin tidak semua dokter di RS tersebut seperti itu. Tapi langkah dokter seperti ini akan merugikan. Mohon tanggapan RS tersebut apakah memang seperti ini prosedur dan layanan kepada pasien tidak mampu seperti istri saya ini.

Siswo Urilliyanto

JI Jeruk VIII/38, Semarang

***

Super Liga, Harus...

Saya tertarik tulisan Sdr Gunarso pada rubrik olahraga yang dimuat 13 November 2006. Saya setuju bahwa dengan regulasi dan format kompetisi di Indonesia yang berubah-ubah, tidak akan berdampak positif bagi pembinaan pemain untuk kepentingan timnas. Juga tidak akan tercipta kompetisi yang matang.

Tetapi saya tidak setuju jika rencana PSSI menggulirkan Super Liga sebagai suatu yang tak terencana. Memang rencana tersebut berkesan dadakan. Tetapi alasan menggulirkan Super Liga sebenarnya untuk mematuhi peraturan FIFA.

Organisasi sepak bola dunia ini mengharuskan bahwa kompetisi tertinggi ideal pada setiap negara beranggotakan maksimal 18 klub. Jika tidak melaksanakan aturan tersebut, bukan tidak mungkin akan mendapat sanksi.

Negara di Eropa pun banyak yang telah menyusun rencana untuk melakukan penciutan jumlah peserta kompetisi tertinggi di masing-masing negara. Jadi, sangat wajar jika PSSI mengadakan Super Liga sebagai jenjang kompetisi tertinggi.

Semoga Super Liga 2008 merupakan perubahan regulasi kompetisi terakhir mengingat aturan yang ditetapkan FIFA. Mari songsong dan dukung Super Liga Indonesia.

Amy Purwa Aditia

Jl Kalicari Timur I/5, Semarang

***

Perempatan Kejambon

Perlu Dilebarkan

Sampai kini perempatan Kejambon di Tegal masih sempit sehingga mengganggu arus lalu lintas. Dari ketiga jalan raya yang bertemu di perempatan tersebut, Jl Werkudoro yang paling sempit. Untuk kota sebesar Tegal, pelebaran di lokasi itu sangat penting terlebih juga menyangkut ketertiban dan keindahan kota.

Pemkot mulai sekarang harus memikirkan untuk melebarkan Jalan Werkudoro. Untuk mendukung gerakan tertib lalu lintas di kota ini, Pemkot juga harus membenahi jaringan jalan raya ini karena perempatan Kejambon sebagai pintu gerbang masuk Kota Tegal dari arah selatan (Purwokerto).

Adrila Trismiadhi

Kp Sumur 44 Rt 10/Rw 2 Klender

Durensawit, Jakarta Timur

***

Soal Kantor Pos Moga

Terima kasih Sdri Sri Hartati, Moga RT 2/RW 3, Pemalang tentang layanan kantor Pos Moga beberapa waktu lalu. Kami jelaskan, di semua kantor Pos termasuk Moga ada layanan weselpos bayar bila ingin kartu balasan weselpos dengan biaya Rp 2.000. Kartu akan dikirim kepada pengirim agar tahu bila weselposnya sudah diterima oleh yang dituju.

Biaya weselpos bayar dengan kartu balasan Rp 2.000 bukan Rp 20.000. Untuk dana BOS yang dipotong sebesar Rp 20.000/sekolah, kami coba uji sampling ke 7 sekolah dan berbicara langsung kepada kepala sekolah. Kami juga membuat kuesioner sekolah penerima dana BOS di Kecamatan Moga, terkumpul jawaban 24 sekolah.

Dari kunjungan langsung dan jawaban kuesioner tidak ada satu pun sekolah yang merasa pernah dipotong Rp 20.000. Bahkan beberapa merasa pelayanan kantor Pos sudah baik sesuai harapan. Kami berusaha mencari alamat Sdri Sri Hartati bahkan warga sekitar dan ketua RT.2/RW 3 Moga tidak mengenalnya.

Maksud kami untuk klarifikasi apakah yang dipotong itu biaya weselpos bayar dengan kartu balasan atau memang benar ada pemotongan sebesar Rp 20.000. Karena alamatnya tidak jelas maka kami anggap tulisan itu tidak benar. Kami berterima kasih bila Sdri menyampaikan keluhan ke kami atau langsung ke kepala kantor Pos Pemalang sebagai masukan berharga untuk meningkatkan pelayanan.

Sugiyanto

Humas Kanwil Usaha Pos VI Jateng/DIY

-Nama dan alamat dan tanda tangan penulis jelas, Sri Hartati, Moga 2 Rt 2/Rw 3 Moga, Pemalang sesuai KTP No 11.1213.580366.6247 berlaku s.d 18 Maret 2009, ditandatangani Camat Drs Hadi Sutikno-Red

***

Penemuan Perhiasan

Saya menemukan perhiasan berharga berupa sebuah gelang emas seberat 10 gr di objek wisata Bandungan, tepatnya di sekitar hotel Kartika Wisata pada hari Minggu 12 November 2006. Pemilik bisa hubungi saya dengan membawa bukti.

Sri Lestariningsih

Jl Silandak Sltn III Rt 9/Rw 1 Ngaliyan, Semarang


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA