| Kamis, 07 Desember 2006 | WACANA |
Debat: Kemerosotan Prestasi Olah RagaSenang Ribut Kok Ingin Berprestasi
ASIAN Games XV di Qatar, tanggal 1-15 Desember, nampaknya tidak begitu menarik perhatian masyarakat. Di samping kurang tersosialisasikan dengan baik, masyarakat sendiri sepertinya sudah cuek dengan peranserta Indonesia dalam kancah prestasi olah raga di luar negeri. Hal demikian bisa dimaklumi. Masyarakat mikirin kehidupan sehari-hari saja sudah susah, mengapa mikirin Asian Games segala? Banyak bencana di negeri ini, dan itu lebih penting untuk dipikirkan dan diatasi. Kalangan politisi dan birokrat saja tidak banyak tertarik, karena sibuk dengan politik dan proyek birokrasinya. Belum lagi dengan adanya fakta kalau prestasi olah raga Indonesia di berbagai event selama ini sangatlah memprihatinkan. Lebih memprihatinkan lagi, karena dalam berbagai kesempatan berprestasi dengan saudara sendiri pun yang terjadi justru keributan. Ada kejenuhan pada diri sebagian besar masyarakat Indonesia, sehingga banyak yang tak peduli terhadap prestasi olah raga di Indonesia. Apalagi pemerintah juga tidak banyak memberi dukungan positif berupa pembinaan dan dukungan dana bagi pengembangan prestasi olah raga. Jaminan masa depan yang baik bagi olahragawan berprestasi pun tidak diberikan. Sangat wajar tentunya kalau prestasi olah raga di Indonesia terus merosot dari waktu ke waktu. Prestasi ini akan terus merosot kalau tidak ada keberpihakan yang lebih baik dan nyata dari pemerintah terhadap bidang olah raga. Kalau ingin prestasi olah raga bangsa Indonesia tidak terus merosot, pemerintah harus berani jujur meneliti faktor-faktor penyebabnya. Pemerintah tidak tegas terhadap aturan dalam olah raga dan hukum. Bila ada yang merusak ya harus ditindak tegas. Adanya banyak pertandingan olah raga yang berujung keributan itu merupakan buah dari ketidaktegasan pemerintah selama ini, yang berkesan toleran terhadap keributan-keributan tersebut. Pemerintah juga tidak pernah mau belajar dan berusaha untuk mengantisipasi munculnya keributan dalam pertandingan olah raga. Pemerintah juga tidak adil dan bertindak diskriminatif terhadap cabang-cabang olah raga. Misalnya di Kota Semarang, alokasi dana bantuan pemerintah untuk cabang olah raga tertentu sangat tidak sebanding dengan cabang-cabang olah raga lainnya. Bahkan berkesan sangat tidak rasional dan jelas tidak mungkin mampu mendukung terwujudnya prestasi olah raga yang bagus. Upaya menekan kemerosotan prestasi olah raga merupakan tanggung jawab pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah harus memperbaiki cara pembinaan, penegakan aturan, dan pengembangan prestasi seluruh cabang olah raga secara berkesinambungan. Bukan asal-asalan, musiman, dan jangan sampai dipolitisasi. Yang paling mendesak untuk dilakukan adalah jangan membiarkan budaya keributan terjadi dalam setiap pertandingan olah raga. Kalau yang terjadi selalu keributan, mana mungkin olah raga di Indonesia bisa lebih berprestasi? (32) |