logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Desember 2006 WACANA
Line

Debat: Kemerosotan Prestasi Olah Raga

Indonesia Kurang Percaya Diri

  • Oleh Yulina Kutami : Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Walisongo

UPACARA pembukaan Asian Games XVI di Doha (Qatar) sudah berlangsung Jumat (1/12) malam lalu. Ini berarti seluruh atlet yang mengikuti multievent ini telah siap untuk bertarung membela bangsa dan negara.

Indonesia telah mempersiapkan tidak kurang 130 atlet untuk berjuang membawa harum nama bangsa. Indonesia pada Asian Games tahun ini tidak muluk-muluk untuk membawa pulang medali emas. Ketua Umum KONI Pusat Agum Gumelar hanya menargetkan empat medali emas saja.

Mengapa target tersebut sangat minim? Kenyataannya memang demikian. Dalam penyelenggaraan Asian Games sebelumnya di Busan (Korsel), empat tahun lalu, Indonesia hanya berhasil membawa pulang empat medali emas dan berada di urutan ke-14 dari 36 negara peserta.

Rasa pesimistis para atlet Indonesia untuk meraih medali emas lebih dari empat keping membuktikan kalau prestasi atlet-atlet kita di ajang internasional makin merosot. Ini disebabkan kurangnya semangat optimistis dan rasa percaya diri, yang memang kurang berakar pada diri atlet-atlet Indonesia saat ini.

Pemerintah dan masyarakat harus sadar betul, apa penyebab kemerosotan atlet-atlet Indonesia di setiap pertandingan. Pertama, sarana dan prasarana penunjang kemajuan prestasi olah raga Indonesia jauh lebih rendah daripada negara-negara lain yang maju.

Kedua, kesejahteraan hidup para atlet -dalam hal ini gaji dan jaminan hari tua- belum diperhatikan. Bagaimana mau maju jika para atlet harus memikirkan perut dirinya dan keluarganya. Ketiga, atlet-atlet yunior kurang diberi kesempatan untuk mengikuti lebih banyak ajang pertandingan. Akibatnya, tak ada generasi yang tangguh ketika seniornya sudah pensiun.

Masalah-masalah di atas sudah jelas menjadi penyebab kemerosotan prestasi atlet Indonesia.

Usaha yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat adalah: Pertama, membangkitkan kembali optimisme dan percaya diri kepada seluruh atlet dalam rangka membangun jiwa-jiwa pemenang.

Kedua, memberi pendidikan dan latihan yang maksimal, serta dilengkapi dengan sarana-prasarana yang memadai untuk membangun kualitas atau prestasi kepada seluruh atlet.

Ketiga, kesejahteraan hidup para atlet harus benar-benar diperhatikan dan tidak boleh tinggal diam kepada para atlet yang sudah pensiun. (32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA