logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Desember 2006 WACANA
Line

Mereka Memilih Jalur Struktural

BEGITU sukses membantu menumbangkan rezim Orde Lama, soliditas Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menjadi pelopor gerakan mahasiswa 1966 langsung retak. Sebagian aktivis ''mabuk kekuasaan'', sehingga memilih bergerak di jalur struktural.

Beberapa eksponen Angkatan 1966 seperti Cosmas Batubara dan Abdul Gafur masuk dalam kelompok ini. Mereka menjadi anggota kabinet hingga beberapa periode. Dan, seperti pendapat Michael Foucault (1972), gerakan mahasiswa dalam jalur ini mudah terkooptasi sistem kekuasaan.

Keterlibatan mahasiswa dalam jalur struktural (politik praktis) -apalagi berafiliasi kepada salah satu partai- jelas bakal bertentangan dengan idealisme gerakan mahasiswa, yang mestinya menjadi gerakan moral dan pemberdayaan sosial. Bahkan keterlibatan dalam wilayah struktural hanya akan menambah tajam polarisasi di dalam tubuh gerakan mahasiswa itu sendiri.

Kelahiran Dewan Mahasiswa (Dema) pada awal 1970-an pun tak terlepas dari adanya friksi antareksponen 1966. Sebagian yang berseberangan dengan Cosmas dan Gafur, misalnya Hariman Siregar, tetap memilih jalur kultural.

Masa Keemasan

Jalur ini berada di luar sistem, sehingga mahasiswa tetap memelihara idealismenya di dalam kampus, lebih mengedepankan nilai-nilai moral dalam masyarakat, bahkan menyusun format lembaga kemahasiswaan (Dema) sebagai alat berorganisasi dan alat kontrol terhadap penguasa.

Dekade 1970-an merupakan masa keemasan bagi peran dan perjuangan lembaga kemahasiswaan. Ketika itu Dema menjadi alat yang cukup efektif untuk menyampaikan aspirasi dan koreksi baik terhadap birokrasi kampus maupun saat memprotes kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat.

Hariman Siregar dikenal sebagai pelopor aksi unjuk rasa mahasiswa dalam peristiwa yang dikenal sebagai Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974. Kasus inilah yang membuat rezim Orde Baru alergi dengan gerakan mahasiswa, sehingga tahun 1978 membekukan Dewan Mahasiswa, serta memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).

Apa yang dilakukan Cosmas dan Gafur ternyata diikuti pula oleh sejumlah aktivis mahasiswa yang ikut andil dalam gerakan reformasi 1998. Pius Lustrilanang bergabung dengan PAN (meski kemudian keluar), Rama ke PKS, dan Budiman Sudjatmiko ke PDI-P. Sedangkan mereka yang berada di luar sistem pun nyaris tidak bisa berbuat apa-apa.

Lembaga kemahasiswaan yang ada sekarang pun seperti tidak memiliki link dengan para seniornya yang sudah lulus. Lembaga ini gagal menjadi tempat advokasi bagi para mahasiswa yang tertindas, apalagi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih berada dalam posisi marjinal. (Dudung AM-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA