| Kamis, 07 Desember 2006 | WACANA |
Masih Adakah Soe Hok Gie?Umurnya memang pendek, bahkan berakhir tragis, yaitu tewas akibat menghirup gas beracun dalam suatu pendakian di Gunung Semeru, 16 Desember 1969. Tetapi pada usia yang pendek itu pula, ia meninggalkan idealisme, semangat, dan perjuangan yang sangat mengagumkan. Masih adakah Soe Hok Gie pada masa sekarang? PERTANYAAN tersebut perlu dilontarkan, mengingat kekecewaan demi kekecewaan kita terhadap sejumlah mantan aktivis mahasiswa yang justru mengarungi dunia yang dulu dibencinya: politik! Politik (juga pemerintahan), dalam konteks di negeri yang ''anomalis'' seperti Indonesia, memang menjadi objek kritik tak berkesudahan bagi para aktivis mahasiswa. Banyak aktivis mahasiwa yang pada tahun 1998 memimpin gerakan reformasi di berbagai bidang, sekarang malah bergabung dengan partai yang pernah menjadi pilar Orde Baru. Sebagian lagi memasuki partai yang pernah berkuasa, tetapi gagal memperjuangkan nasib wong cilik. Ketika mereka telah menjadi wakil rakyat, dan berada di dalam gedung perwakilan rakyat yang megah serta sejuk, lupalah mereka kepada siapa yang mestinya diwakili. Yang diingat justru partai yang mencalonkan dia dan mengantarnya ke gedung sejuk itu. Recall menjadi momok yang mena-kutkan, dan membuatnya sangat setia kepada partai, meski partai tersebut tidak atau kurang memihak kepentingan rakyat. Keprihatinan ini seperti mengulangi kembali kiprah sebagian aktivis mahasiswa angkatan 1966 yang sukses membantu kelompok tertentu ketika menumbangkan rezim Orde Lama. Sebagian dari mereka diangkat jadi menteri atau posisi strategis lainnya dalam pemerintahan, dan melupakan apa yang telah diperjuangkannya semasa mahasiswa. Tesis yang mengatakan gerakan mahasiswa, juga organisasi kemahasiswaan dan organisasi kepemudaan, merupakan batu loncatan untuk menjadi politisi atau pejabat birokrasi agaknya sulit dibantah. Tapi bukan itu yang dipersoalkan, melainkan kiprah mereka yang lemah dalam membela kepentingan rakyat tatkala ambisi atau jabatan sudah digenggamnya. Kritis-Konstruktif Masih adakah Soe Hok Gie di zaman sekarang, yang tak pernah lelah dan takut ketika harus menyuarakan kebenaran, kejujuran, dan ketidakadilan yang dialami rakyat di negeri ini? Masih adakah Gie di era sekarang yang tak hanya piawai menggerakkan aksi demonstrasi mahasiswa, tetapi juga dapat memberi pencerahan melalui tulisan-tulisan di media cetak? Masih adakah Gie yang selalu diperhitungkan pemerintah, baik ketika berencana melakukan demo maupun ketika artikel kritis-konstruktifnya muncul di media cetak? Ia tak hanya bergerak di ranah praksis, melainkan juga dalam tataran analisis yang rasional dan teoritis. Gerakan mahasiswa tahun 1998 agaknya sudah putus di tengah jalan. Upaya menumbangkan rezim Orde Baru memang berhasil, tetapi tak ada konsep, kiprah nyata, apalagi kontrol terhadap pelaksanaan agenda-agenda reformasi. Kalau pun masih ada aksi-aksi yang menuntut pelaksanaan reformasi secara tuntas, itu hanya terjadi secara sporadis dan lokalis. Tak ada kesinambungan antara gerakan mahasiswa 1998 dan gerakan mahasiswa terkini, bahkan jaringan (link) di antara kedua generasi itu sudah terputus. Reformasi seperti mati suri, dan tak terkawal lagi. Konsolidasi gerakan mahasiswa menjadi sesuatu yang urgen untuk dilakukan, agar tak terjadi bias orientasi dalam perjuangan mereka Padahal gerakan mahasiswa sebagai prime mover tak perlu diragukan lagi. Kekuatan mereka sudah terbukti di berbagai negara. Mulai dari penggulingan Juan Peron di Argentina (1955), Soekarno (Indonesia, 1966), Ayub Khan (Pakistan, 1969), Reza Pahlevi (Iran, 1979), Chun Doo Hwan (Korsel, 1987), Ferdinand Marcos (Filipina, 1985), dan Soeharto (Indonesia, 1998). Konteks tulisan ini bukanlah penggulingan kekuasaan, namun bagaimana gerakan mahasiswa punya posisi tawar yang lebih baik daripada kondisi saat ini. Dibutuhkan belasan hingga ribuan Gie yang sengaja memilih jalur kultural ketimbang struktural dalam sumbangsihnya membenahi kondisi negeri yang carut-marut ini. Jalur Kultural Jalur kultural ini dapat ditempuh dengan mensinergikan lembaga kemahasiswaan antarperguruan tinggi dan antaraktivis mahasiswa. Kedua sinergi ini pernah dilakukan pada tahun 1998, meski tak dibarengi dengan orientasi ke depan secara jelas. Ketika menjadi ketua umum Senat Mahasiswa Fakultas Peternakan UGM (1987-1989), saya dan beberapa aktivis mahasiswa di Kampus Biru pernah dimintai asupan mengenai lembaga pengganti Dema. Pemerintah kemudian memunculkan lembaga kemahasiswaan, seperti Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang formatnya mirip usulan para ketua senat mahasiswa di UGM saat itu. Hanya saja peran yang diberikan kepada BEM, SMPT, serta Senat Mahasiswa Fakultas sangat minim: tidak sebesar peran yang dimainkan Dema. Bahkan ada tudingan lembaga kemahasiswaan sekarang hanya jadi kepanjangan tangan organisasi-organisasi ekstra kampus. Kegiatannya seringkali jauh dari atmosfir kampus yang penuh idealisme dan kritisis. Mereka mandul dalam melakukan kontrol terhadap pemerintah. Mestinya lembaga kemahasiswaan bisa memobilisasi mahasiswa dalam jumlah besar, untuk menjadi kelompok penekan terhadap kebijakan pemerintah yang dirasa kurang memihak masyarakat. Kemandulan ini juga disebabkan kontrol ketat pihak rektorat, baik dalam keuangan dan penentuan rencana kegiatan. Wajar kalau kemudian muncul tudingan bahwa para elit mahasiswa lebih sering ''menghabiskan'' (anggaran) daripada ''menghasilkan'' (kritik-konstruktif). Kata Gie, tugas seorang mahasiswa bukan sekadar belajar dan pacaran saja, tetapi punya tanggung jawab sosial-kemasyarakan. Mungkin, kalau Gie masih hidup di zaman sekarang, ia akan berkata tak perlu masuk ke dalam sistem yang cenderung menafikan intelektualitas, karena lebih dikuasai nafsi-nafsi dan berbagai dalih yang direkayasa. (Dudung Abdul Muslim-32) |