logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Desember 2006 WACANA
Line

Aa Gym dan Tubuh Perempuan

  • Oleh Hendro Basuki

Jagalah hati, jangan kau nodai Jagalah hati lentera hidup ini... (Syair KH Abdullah Gymnastiar) ITU lagu wajib ibu-ibu pengajian. Dengan syahdu lagu itu dinyanyikan, kadang dengan menangis sesenggukan. Panggung dirancang sedemikian megah, sound system dengan kekuatan penuh, dan berdiri di sana seorang kiai muda berserban dengan sapaan yang santun, menyejukkan, dan sering membuat tertawa. Lalu, orang bilang, "Inilah kiai muda yang sedang naik daun....". Yang merasa ditunjuk tak rela disebut naik daun, lalu KH Abdullah Gymnastiar segera mengoreksi. "Yang naik daun hanyalah ulat, bukan ustad." Nah.

Sepanjang pekan ini, media massa baik cetak maupun elektronik dipadati berita tentang poligami Aa Gym. Istri yang lebih dulu, Teh Ninih Mutmainah, dengan senyum yang agak dipaksakan dan bibir bergetar mengatakan, awalnya marah, tetapi buat apa marah jika memang hukum Islam memungkinkan itu.

Lalu, bergegas pula Aa membela diri dengan mengatakan, orang mengecam poligami karena orang itu kurang ilmu. Lalu, Aa juga memperkenalkan istri keduanya kepada para santri dan ketika keluar dari ruang pertemuan, Alfarini berjalan menunduk. Tentu tak ada orang yang tahu, pikiran apa yang sedang berkecamuk di benaknya.

Banyak orang marah. Seorang ibu rumah tangga, "pemuja" Aa sampai-sampai harus membuang beberapa kaset penyejuk hati yang dimilikinya ke jalan. Para pengendara pun tersenyum, entah simpul atau kecut. Barangkali itulah sebagian dari pemandangan dalam seminggu terakhir ini, setidaknya setelah mendengar Aa menikah lagi, atau berpoligami.

Perempuan Luar Biasa

Orang lalu menerka-nerka dan mengonstruksi pikiran tentang latar belakang kenapa kiai muda itu menempuh jalan poligami? Kenapa pula pernikahan itu dilakukan diam-diam bahkan sudah tiga bulan yang lalu? Bagaimana mereka merajut hubungan sebelum sampai ke pernikahan? Benarkah untuk melakukan itu, Aa kabarnya telah mempersiapkan selama lima tahun?

Mari kita hubungkan antara syair di atas dan keadaan Teh Ninih. Perempuan hebat itu telah melahirkan tujuh anak dari rahimnya. Suatu jumlah yang tidak sedikit untuk musim sekarang. Jika harus dibandingkan dengan rata-rata rumah tangga, kehadiran jumlah anak yang sedemikian itu tergolong luar biasa. Lebih luar biasa lagi adalah kekuatan untuk melahirkannya satu demi satu. Hanya tubuh perempuan kuat saja yang bisa seperti itu.

Dengan anak-anak yang masih kecil, pastilah setiap hari terdengar rengekan satu dengan lainnya. Si kecil yang masih berumur dua tahun, pastilah bisa panas badan, berkeringat buntet yang tidak nyaman dan menangis karenanya. Jika saat demikian, sang "bapak" tidak ada di tempat karena sedang berusaha berbuat "adil", kepedihan ibu itu harus "diletakkan" di mana?

Jagalah hati, jangan kau nodai. Jagalah hati lentera hidup ini...

Wajah lelah Teh Ninih sangat kuat terpancar. Guratan bagian tertentu di wajahnya kuat terlihat. Melahirkan bukan pekerjaan sederhana, membutuhkan energi yang besar, dan taruhan nyawa. Setidaknya, sekian kali melahirkan, sekian kali pula mempertaruhkan nyawa.

Penulis bahkan merasa tidak perlu menambah anak ketika melihat betapa beratnya istri melahirkan anak kedua. Setiap kali melihat anak-anak yang mungil, terbersit untuk "kepengin" lagi. Akan tetapi, pada saat yang sama, terbayang betapa beratnya istri saya menggendong "drum band" sembilan bulan lebih lamanya.

Menunggu istri melahirkan, dada terasa sesak. Menunggu proses "pembukaan" yang ada hanyalah doa. Dan, mendengar rintihan istri menjelang melahirkan, tak kuat untuk tidak meneteskan air mata... Belum lagi pada saat-saat yang begitu melelahkan setelah melahirkan.

Lega Hatikah?

Sebuah pemandangan yang "elok" ketika Aa bersama dua istrinya berjalan. Istri lebih dulu, berusaha mesra dengan senyuman bersama sang suami, sedangkan istri berikutnya, tertunduk. Wajah yang satu terlihat lelah, dan satunya masih terlihat "ranum". Orang Jawa mengatakan, randha kempling. Meminjam salah satu bait dalam nyanyian Campursari. Pemandangan itu tentu menimbulkan tafsir.

Kenapa yang terjadi selalu seperti itu, istri berikutnya selalu dipilih lebih muda, lebih cantik, dan lebih fresh. Kenapa pula yang terjadi bukan sebaliknya, istri berikutnya yang lebih tua, lebih bergurat, lebih lelah, dan seterusnya.

Perih tetapi penuh senyum dari Teh Ninih bisa ditafsirkan berbeda. Apakah dia lega hati saja karena suaminya poligami? Ataukah ia terlepas beban untuk melahirkan dan melahirkan lagi? Hanya hati nurani Teh Ninih yang bisa menjawab. Yang kita tahu, perempuan biasanya lebih banyak "bekerja" dengan perasaan, sedangkan laki-laki dengan logikanya.

Perasaan banyak dikendalikan hati nurani, sedangkan otak lebih mendorong nafsu. Pengelolaan hati nurani secara terus-menerus akan memberikan ruang yang makin luas bagi pribadi untuk makin bijak, lembah manah, tawaduk, mudah sekali menghadirkan Tuhan dalam dirinya, dan sebagainya. Sedangkan bersandar pada otak hanya akan melahirkan sikap-sikap penuh nafsu, jumawa, merasa dirinya lebih hebat, dan segala jenis sikap rumangsa.

Perasaan yang makin halus, pertanda hati nurani semakin hidup. Dominasi hati nurani itulah yang menjadikan manusia lebih berbudi, yang pada akhirnya mendorong sampai pada kesadaran, kebijaksanaan, kekasihsayangan, kebenaran, kesucian, kebertanggungjawaban, dan kekuatan sejati. Sebaliknya, nafsu yang didorong oleh kekuatan otak hanya akan melahirkan nepsu-nepsu yang tidak terkendali, yakni cenderung berbuat tidak suci seperti menipu (Sengkuni), serakah dan angkara murka (Duryudana), suka merebut hak orang lain (Rahwana). Maka, manusia yang sudah pada tataran mampu memperhalus budi, menguasai hati nurani akan mampu pula menguasai keempat nafsunya, yakni nafsu merah (amarah), nafsu hitam (aluamah), nafsu kuning (supiah), dan nafsu putih (mutmainah).

Para sanyasin (manusia suci) adalah orang-orang yang mengerti agama yang tidak lagi berada di tataran ilmu, tetapi sudah berada di tahapan agama itu laku. Mengerti saja tidak cukup, karena itu hanyalah pekerjaan otak. Sebaliknya, mempraktikkan dan menjiwai dalam perilaku mampu mendorong pada tataran jumbuhing kawula Gusti. Di setiap sepersekian detik, di hatinya selalu ada Tuhan. Agama yang hanya dimengerti saja hanya menjadi konsumsi otak yang akhirnya hanya akan mendorong nafsu saja, yakni rumangsa ngerti.

Mengerti secara ilmu belum cukup karena harus pula dibarengi dengan hati nurani. Maka, sebenarnya "jagalah hati jangan kau nodai" itu secara teks ajaran benar. Nah, implementasinya yang berat. Syair yang dibantu dengan suara empuk dan peralatan rekam yang canggih bisa melenakan, tetapi ketika tidak dilaksanakan, dampaknya sungguh amat dahsyat.

Dan, ketika para ibu sedang menggugat, malah dibilang sebagai "kurang ilmu", penulis menjadi ragu, apakah benar kebesaran Aa bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu. Baiklah, jika memang "kurang ilmu", lalu di mana syair tentang hati itu harus dinyanyikan dan ke mana harus ditujukan? Apakah hanya kepada orang lain? Lalu, di mana posisi pengarangnya?

Pertanyaan yang sering menggoda untuk ditujukan kepada para pelaku poligami adalah, apa motivasi paling dasar ketika memilih jalan itu. Tanyalah pada hati nurani, dan biarlah "dia" yang menjawab. Bukankah untuk pelampiasan "kelebihan" nafsu? Atau yang terjadi malah bisa sebaliknya, memilih poligami agar bisa disebut lelaki gagah, kuat, atau penuh talenta? Lelaki merasa menjadi hero ketika dirinya seolah-olah telah memenangi peraihan atas diri perempuan. Lelaki merasa dirinya menjadi super ketika dirinya telah "mengoleksi" sekian perempuan dalam kehidupannya.

Padahal, yang terjadi adalah penampakan kelemahan yang amat sangat. Tidak ada dalam satu kamus pun bahwa lelaki bisa memenangi seks dengan perempuan. Tidak pernah terjadi. Maka, tidak ada obat kuat untuk perempuan. Yang ada, mulai dari jamu-jamuan sampai pil yang paling heboh sekalipun diperuntukkan kaum lelaki. Dengan memiliki sekian banyak istri "seolah-olah" dirinya kuat. Justru yang terjadi sebaliknya. Mesakke ! Para peserta poligami justru menunjukkan ketidakmampuan menguasai diri terhadap tubuh perempuan.

Ilmu dengan Laku

Kalau yang dimaksud Aa Gym bahwa mereka yang mengecam poligami karena "kurang ilmu" maka kita mesti mengonstruksi lagi pengertian ilmu itu. Apakah sekadar ajaran dalam teks dan dalil yang sepi praktik, ataukah seperti yang diuraikan dalam Serat Wedhatama, Pocung 33 yang menyebutkan: Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani setya budya pangekese dur angkara. Artinya, penghayatan ngelmu dalam kehidupan nyata adalah berupa laku atau lampah batin yang sungguh-sungguh.

Karena ilmu agama itu berhubungan tentang ilmu batin manusia, maka akan menjadi berarti kalau dilaksanakan, dimiliki disertai dengan laku utama dan budi pekerti yang senantiasa mengendalikan hawa nafsu. Dan, penerapan ilmu pengetahuan merupakan pembinaan akal budi yang kuat dan dapat diarahkan untuk menyertai pembentukan sebuah pribadi yang berkesadaran luhur. Penguasaan ilmu yang tinggi, ditambah dengan kesadaran beragama yang tinggi, seharusnya mampu melepaskan dari gairah hawa nafsu. Pemahaman literer tentang poligami itu benar, tetapi tidak tepat. Bener ning nora pener.

Ketika seorang Begawan sekelas Aa yang masih terperangkap "hanya" pemahaman seperti itu, dan ternyata itu "melukai" begitu banyak ibu-ibu rumah tangga, lalu apakah hati Aa bisa dengan enteng mengatakan, "sak karepku to. Salahmu mengagumiku ...?" Duh. Bukankah Begawan itu harus senantiasa bijak?

Ada yang unik lagi dari Aa ketika memberikan tanggapan atas keresahan ibu-ibu itu. Katanya, jika langkah saya melukai hati ibu-ibu saya mohon maaf... Sampai di sini Aa tidak lagi beda dengan yang lain karena meskipun meminta maaf, niatnya berpoligami jalan terus. Lalu, apa makna dari minta maaf itu? Sama akhirnya dengan sebagian besar pemimpin bangsa ini yang meminta maaf karena menaikkan harga BBM, tetapi kenaikan itu jalan terus. Lho, lalu apa artinya minta maaf. Kan, sangat kuat kesannya basa-basi saja.

Padahal meminta maaf kan harus dengan hati yang tulus. Jagalah hati, jangan kau nodai...

Dan, episode Aa berpoligami ini segera menyadarkan penulis tentang akar dari penindasan terhadap perempuan yang bersumber pada sistem gender yang sangat patriarkis. Di setiap relasi perempuan dan laki-laki yang selalu dimenangkan adalah supremasi laki-laki. Sistem opresi yang berbasis kontrol laki-laki atas perempuan itu berlanjut pada pembentukan nilai-nilai, emosi, dan logika di setiap tahapan penting kehidupan manusia. Dan, perempuan baru bisa terbebas jika kontrol laki-laki di sektor kehidupan publik dan domestik dihilangkan. Ketatnya kontrol laki-laki atas perempuan itu telah merasuk dalam kehidupan keluarga, religi, bahkan akademisi, dan keadaan itu kian melegitimasi subordinasi perempuan. Muncullah kemudian rasa inferioritas perempuan terhadap laki-laki. Dan, meskipun Teh Ninih telah memberikan pengorbanan "toh nyawa" 7 kali, seolah menjadi tak begitu berarti dengan hadirnya istri yang lain.

- Penulis adalah wartawan "Suara Merdeka".


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA