logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Desember 2006 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Media dalam Sengkarut Kehidupan

- Siapakah sang pemenang dalam silang sengkarut pemberitaan skandal rekaman mesum anggota DPR Yahya Zaini dengan artis dangdut Maria Eva? Siapa pula yang paling diuntungkan dari geger berita pernikahan kali kedua pimpinan Pondok Daarut Tauhid Aa Gym dengan Alfarini Eridani? Kalau kita mau menilai secara jujur, lingkaran sengkarut terjadi pada lalu-lalang beritanya, sedangkan skandal Yahya-Maria dan pernikahan Aa Gym-Rini sebenarnya merupakan ragam biasa dalam dinamika kehidupan manusia. Ada saat pasang, ada masa surut, ada momen keterpelesetan, ada kondisi kekhilafan, ada pula keputusan yang disadari melawan citra diri.

- Dalam teori dan praktik lazim dunia media, ragam biasa menjadi ragam istimewa sehingga mempunyai nilai karena para pelaku atau yang terlibat adalah orang-orang yang tergolong extra ordinary people. Beredarnya rekaman mesum dua pegawai negeri sipil di Klaten tak seheboh skandal Senayan karena pelakunya termasuk ordinary people yang bisa jadi hanya menjadi percaturan di tingkat lokal. Pengaruh sosial-politik dari sebuah skandal akan ikut mengangkat "kualitas" sengkarut udara pemberitaan, dan terjalinlah interaksi antara media dan publik. Realitas media terkonsumsi sebagai realitas publik dengan aneka "intervensinya".

- Kita bisa mengangkat justifikasi bahwa pemberitaan media akan memberi keuntungan kepada publik, karena dengan demikian terjadi proses kontrol sosial. Lalu apa sebenarnya hak masyarakat untuk mengontrol? Apakah karena Yahya Zaini di lingkup konsituennya membawa aspirasi, amanat, dan kepercayaan sebagai wakil rakyat yang terhormat? Apakah karena Aa Gym sebagai tokoh teladan dan idola tidak seharusnya membuat sekecil apa pun cacat dalam kehidupan pribadinya? Apakah karena penggagas manajemen qolbu itu - dengan pembenaran hukum apa pun - dituntut mampu menghindari pilihan yang masih sulit diterima secara sosiologis?

- Media, boleh jadi adalah penangguk keuntungan terbesar dari sebuah sengkarut kehidupan. Namun apakah benar selalu termaktub nilai edukasi dari berita-berita skandal dan pilihan langkah yang dinilai kontroversial dari seorang tokoh pujaan? Mungkin itulah yang disebut hikmah, atau nilai-nilai pembelajaran hidup yang patut diserap dari suatu kejadian sepanjang penikmat media membutuhkan dan mampu menyerap setiap pesan dari sebuah pemberitaan. Sebagian orang boleh saja menuding media melakukan blow up yang berorientasi gosip, tetapi sesungguhnya di balik berita berlangsung proses pemfilteran, dan selalu ada yang dituntut menjadi gate keeper.

- Pemfilteran itu, misalnya, dibutuhkan ketika lalu-lalang berita tidak mungkin terhindar dari kepentingan setting tertentu, dan hal itu potensial membentuk bingkai berpikir masyarakat. Terdapat realitas subjektif yang ditebar untuk membentuk realitas publik. Serangkaian wawancara tunggal dengan Maria Eva bisa membentuk frame opini hanya dari satu pintu jika stasiun-stasiun televisi tidak secara arif mencoba memberikan stimulan keberimbangan dari pihak Yahya. Akan terjadi setting pemahlawanan seseorang, sebaliknya pemecundangan pada pihak yang lain. Padahal realitas media sangatlah kuat dalam membangun realitas publik.

- Proses pembelajaran kepada publik diyakini berlangsung di tengah lalu lintas informasi dan pernyataan. Kita tidak akan cepat memvonis karena selalu ada second opinion. Sebaliknya kita menjadi makin kritis untuk tidak cepat memercayai sebuah pernyataan dan menaruh iba walaupun hal itu disampaikan dengan raut memelas atau linangan air mata. Bahkan penjelasan Aa Gym dan pernyataan "ikhlas" Teteh Ninih pun tidak serta-merta membentuk bingkai berpikir dalam realitas objektif. Akhirnya kita lebih percaya pada kearifan publik untuk menyaringnya, dan media mesti punya tanggung jawab moral untuk memberi arah yang maslahat.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA