| Kamis, 07 Desember 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANAKinerja Perekonomian 2006 Merosot?- Inilah hasil evaluasi Komisi I DPR tentang kondisi perekonomian kita. Disebutkan, kinerja tahun 2006 merosot dibanding dengan 2005, bahkan 2004. Penilaian itu antara lain didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan terjadinya peningkatan angka pengangguran dan kemiskinan pada tahun ini. Di samping itu, pertumbuhan ekonomi juga masih lambat, yakni tak akan mencapai 5,5%. Inilah yang mesti dijadikan pelajaran agar pemerintah segera tanggap dan mampu mendorong pertumbuhan lebih cepat pada tahun depan. Melihat berbagai persoalan yang dihadapi saat ini, ada kemungkinan tahun depan pun rasanya masih cukup berat. - Ketua Komisi VI DPR Didik J Rachbini yang juga pengamat ekonomi mengatakan, kemerosotan kinerja ekonomi tahun ini lebih disebabkan oleh ketidaksesuaian kebijakan ekonomi makro antara otoritas fiskal dan moneter sehingga berdampak negatif terhadap perkembangan sektor riil. Stabilitas makro masih dipertanyakan seberapa kuat pengaruhnya terhadap sektor riil. Atau bahkan bisa dikatakan sebaliknya bahwa sektor riil telah dikorbankan untuk stabilitas ekonomi makro tersebut. Yang jelas, penurunan suku bunga telah mulai didorong oleh Bank Indonesia melalui penurunan BI rate. Sayangnya, bunga kredit belum menyesuaikan, padalah itulah yang ditunggu dunia usaha. - Ada faktor lain yang berpengaruh pada peningkatan pengangguran dan kemiskinan. Yakni, terjadinya penyerapan anggaran yang rendah sepanjang tahun ini. Penyerapan anggaran yang rendah mengakibatkan pengangguran bertambah, terutama terkait dengan buruh atau pekerja proyek-proyek padat karya. Karena itu, bagaimana agar penyerapan anggaran bisa lebih meningkat pada tahun 2007 menjadi sangat penting. Belakangan diketahui, banyaknya pejabat atau pimpinan proyek (pimpro) yang takut jeratan KKN juga mengakibatkan semua serbalambat dalam melangkah. Tentu kondisi ini tak boleh dibiarkan dan sistem realisasi anggaran mesti diperbaiki. - Untuk mengurangi jumlah pengangguran dan kemiskinan tahun depan, pemerintah akan memprioritaskan belanja modal dan barang pada proyek-proyek padat karya sehingga akan langsung terjadi penyerapan tenaga kerja. Namun yang jauh lebih penting sebenarnya upaya meningkatkan daya beli masyarakat yang sangat menurun, terutama sejak kenaikan harga BBM sebanyak dua kali. Kelesuan pasar berdampak pada kelusuan dunia usaha. Di samping itu, gerak sektor riil dan investasi juga terhambat oleh berbagai kendala sehingga iklim investasi relatif buruk. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tidaklah menggembirakan karena minat investasi merosot. - Bisa dilihat misalnya realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) yang mengalami penurunan sampai 45,91% selama periode Januari-November 2006. Penurunan serupa juga terjadi pada penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar 37,14%. Penurunan itu antara lain diakibatkan oleh kebijakan pemerintah berupa kenaikan harga BBM, krisis ketenagalistrikan, masalah perburuhan, dan persoalan perpajakan yang belum tuntas. Keluhan investor lain terkait pula dengan soal kepastian hukum dan kelemahan infrastruktur pada umumnya. Pendek kata, masih banyak pekerjaan rumah terkait dengan perbaikan iklim investasi. - Kalaupun perekonomian tahun ini dinilai mengalami kemerosotan, sesungguhnya dari laju pertumbuhan kita melihat masih stagnan. Belum bisa beranjak naik, namun juga tidak lebih rendah dari dua tahun sebelumnya. Maka yang penting, kita segera menyiapkan berbagai langkah dan kebijakan menghadapi tahun 2007. Selain kebijakan fiskal dan moneter yang harmonis dan perbaikan sistem realisasi anggaran, yang lebih penting lagi bagaimana menggerakkan sektor riil dan meningkatkan minat investasi. Kendala yang begitu banyak mesti diurai satu per satu untuk dicari pemecahannya. Sebab, kondisi persaingan global makin tidak bersahabat. |