logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Desember 2006 MURIA
Line

Petikan Sejarah Kudus di Sendratari Buka Luwur

HUJAN baru saja reda saat suara gamelan mulai terdengar dari Pendapa Kabupaten Kudus. Selasa (5/12) sore lalu, pendapa itu menjadi tempat gladi bersih Sanggar Tari Ratna Budaya, yang akhir minggu ini akan berangkat ke Jakarta. Pendapa tersebut sebelumnya sudah ditata menyerupai panggung pertunjukan berbentuk tapal kuda.

Pada penampilan pertama, sanggar yang dipimpin Lestari Rahayu SE itu menampilkan tari gambyong, disusul dengan manipuri dan jaranan. Ketiga tarian itu secara umum ditampilkan sebagaimana yang sudah jamak dipertunjukkan kepada khalayak. Bahkan, beberapa penari masih ada yang terlihat kaku dalam gerak atau tidak seirama dengan rekan-rekan yang lain.

Namun, memasuki tarian utama yang bakal disuguhkan di Jakarta nanti, para penari mulai menampakkan kepercayaan diri. Tarian yang dinamai Buka Luwur tersebut diawali dengan penggambaran Sunan Kudus sebagai Senopati Perang Demak yang berhasil menumpas kejahatan, sehingga masyarakatpun akhirnya perlahan-lahan memeluk agama Islam. Adegan itu digambarkan melalui tarian bedayan, yang diiringi musik Ketawang Mijil Dempel.

Sunan Kudus

Tarian Buka Luwur menggambarkan sejarah perjalanan masyarakat Kudus, setelah wafatnya Sunan Kudus.

Keceriaan dan kondisi masyarakat Kota Kretek saat ini misalnya, ditampilkan dalam bentuk tari giling rokok. "Hal itu sesuai dengan kenyataan bahwa mayoritas masyarakat Kudus bekerja di industri rokok," jelas Lestari.

Selain itu, Ratna Budaya juga menyisipkan kesenian barongan di dalam pertunjukan. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap pelestarian seni tradisi. Sebelum pementasan, nantinya kesenian tersebut bakal tampil di luar anjungan untuk menarik minat pengunjung agar mau masuk.

Menurut rencana, Ratna Budaya akan tampil di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah Minggu (10/12) pagi. "Kami akan berangkat Jumat (8/12), sehingga bisa tiba di sana Sabtu (9/12) pagi dan langsung berlatih pengenalan panggung. Minggu malam kami langsung kembali ke Kudus," terang perempuan, yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Industri, Perdagangan, Pariwisata, dan Dunia Usaha Bappeda Kabupaten Kudus tersebut.

Jumlah penari yang dibawa 24 orang ditambah 24 orang pemusik dan kru panggung. (Adhitia Armitrianto-29h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA