logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Desember 2006 SEMARANG
Line

Dua Hari Bisa Produksi Majalah

JARI-JARI Ati' Sayidatul Ula (14), atau akrab disapa Ula, bergerak cepat memencet tuts-tuts keyboard laptop di depannya. Jam sudah menunjukkan pukul 01.15 dini hari, tetapi dia tak bisa tenang karena garapannya belum selesai. Hari itu, Ula bersama empat temannya harus bisa menyelesaikan sebuah majalah dengan 12 halaman. Sementara deadline ditetapkan pukul 06.00.

Rubrikasi dibuat layaknya majalah-majalah profesional, ada sapa redaksi, susunan pengurus redaksi lengkap, laporan utama, laporan pendukung, profil, artikel, hingga cerpen dan puisi.

Mereka adalah pelajar Sekolah Alternatif Qoryah Toyyibah Kalibening Salatiga, yang tergabung dalam satu kelompok dalam Workshop Jurnalistik Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Missi Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Acara yang diselenggarakan Kamis-Minggu (31/11-3/12) tersebut diikuti enam kelompok, termasuk peserta dari mahasiswa. Bagi para pelajar, memproduksi majalah adalah pengalaman baru. Mereka melakukan semua pekerjaan redaksi hanya dalam dua hari, hingga merelakan waktu tidur malamnya berkurang. Melakukan rapat redaksi untuk menentukan tema tulisan, liputan ke lapangan, wawancara dengan berbagai narasumber, hunting foto, dan menuangkan dalam tulisan. Selain itu, dituntut untuk mahir menerapkan program-program komputer, seperti Microsoft Word, Adobe Photoshop, dan Adobe Pagemaker.

Meski lelah, ternyata mereka mengaku senang mampu menyelesaikan majalah edisi perdana. Salah satu pengalaman mereka tertuang dalam tulisan di rubrik ''Salam Redaksi'', yang termuat di Majalah Geger, yang dimotori Ula dan kawan-kawan.

Begitu hangatnya Tuhan, memeluk tubuh kita dengan tangan kasih sayang-Nya/Inspirasi-inspirasi hidup begitu deras mengalir/Bahkan mengguyur hati dan pikiran kita dengan bersahabat/...../Alhamdulillah edisi perdana Majalah Geger bisa terselesaikan sesuai dead line/Meski sebenarnya masih banyak yang begitu berantakan/...

Memperhatikan usia mereka yang masih muda dan kemampuan membuat majalah sendiri, prestasi itu tak bisa dimungkiri. Ini tak lain dikarenakan dorongan kegiatan tulis-menulis cukup kuat di sekolah itu.

Fina, seorang peserta berharap kegiatan jurnalistik bisa terus dikembangkan di sekolah tersebut. Selain itu, dia kini juga bisa memahami bagaimana kinerja seorang pekerja media. Selama ini, sekolah tersebut telah memfasilitasi murid-muridnya yang berbakat menulis dengan menerbitkan novel dan cerpen karya-karya mereka. ''Dengan pendampingan ini, kami akan terus mengembangkan kemampuan,'' ungkapnya. (Moh Anhar, Saptono JS-62s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA