logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Desember 2006 SEMARANG
Line

Bayi dari Suruh Lahir Tanpa Tempurung Kepala

SALATIGA- Seorang bayi laki-laki putra pertama pasangan Rijang (25) dan Anita (18), Selasa (5/12), lahir tanpa memiliki tempurung kepala bagian atas. Anak pasangan warga RT 40 RW 10 Dukuh, Desa Plumbon, Kecamatan Suruh itu, kini dirawat intensif di RSUD Kota Salatiga.

Kondisi bayi yang lahir dengan bobot 2,4 kilogram dan panjang 40 sentometer itu cukup mengenaskan, karena tidak memiliki tempurung kepala. Akibatnya, ada sedikit bagian isi kepala yang keluar dan harus diperban dengan bahan khusus.

Menurut Sigit (21,) adik kandung Rijang yang menunggui di rumah sakit, bayi itu dibawa bidan dari Desa Mranggen, Suruh, Selasa (5/12) malam lalu. "Kakak ipar saya melahirkan putranya di rumah bidan itu. Karena ada kelainan, bidan selanjutnya membawa ke rumah sakit ini," tuturnya.

Sigit harus menunggui keponakannya itu, karena Anita saat ini masih dirawat oleh bidan yang membantunya melahirkan. Anita masih lemas dan shock ketika mendengar kabar putra pertamanya mengalami kelainan pada kepalanya. Sementara sang ayah, Rijang, Rabu (6/12) siang dalam perjalanan menuju rumahnya, karena selama ini bekerja sebagai buruh di Jakarta.

Menurut Sigit, selama Rijang berada di Jakarta, Anita tinggal bersama kakek dan neneknya, tidak jauh dari rumah mereka. Orang tua Anita saat ini tinggal di Jambi dan bekerja di sana. "Kasihan kakak saya, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan harus melahirkan putra dengan kondisi seperti ini," tuturnya.

Tidak Sehat

Secara terpisah, dokter spesialis anak Dwi Ambarwati menyatakan, secara umum kondisi bayi saat ini kurang sehat. Berat badan yang hanya 2,4 kilogram itu pun kurang ideal. Berat ideal seharusnya lebih dari 2,5 kilogram. Pihaknya merawat bayi tersebut di ruang Perinatologi, yakni ruangan untuk bayi yang berumur kurang dari 28 hari. "Kelainan tersebut merupakan bawaan, karena tulang atap tengkoraknya tidak terbentuk. Hingga kini belum ada cara khusus, untuk menangani anak tersebut," katanya.

Karena itulah, pihaknya tidak akan merujuk bayi itu ke rumah sakit yang lebih besar. Rumah sakit hanya memberi obat dan perawatan saja agar sang bayi bisa bertahan hidup lebih lama. Selain itu, bayi harus terus diberi oksigen, karena napasnya sesak. Dokter Ambar menyatakan, dalam kasus tersebut umumnya bayi tidak bisa bertahan lama, karena jaringan saraf dan otaknya sedikit.

Kepala humas, hukum, dan pemasaran RSUD Salatiga Zaenal Abidin menyatakan, orang tua bayi dibebaskan dari semua biaya. Hal itu karena keluarga tersebut memiliki kartu askeskin. (H23-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA