| Kamis, 07 Desember 2006 | SEMARANG |
Dicaci, Bangunan Liar Tetap Digusur
SEMARANG - Pembongkaran sejumlah bangunan di kawasan ''Tanggul Indah'' (TI) kemarin menyedot perhatian pengendara yang melintasi Jl Majapahit. Belasan orang meneriaki petugas ketika tim gabungan Satpol PP, Polsek Sidodadi, dan Kecamatan Semarang Timur itu kembali merazia bangunan liar di bantaran Sungai Banjirkanal Timur. Petugas mulai bergerak ke lokasi di Jl Barito sekitar pukul 09.00. Kendati sudah disosialisasikan, penghuni terlihat kecewa ketika bangunan mereka satu per satu dibongkar paksa. Sejumlah ibu muda bahkan berteriak histeris dan mencaci-maki petugas. Seorang di antaranya menangis saat melihat rumahnya dari bahan bambu roboh. ''Apalagi? Nih, bawa saja semuanya. Bawa! Saya tidak takut!'' teriak seorang penghuni. Mendapat teriakan itu, petugas tampak tak menghiraukan. Suasana menjadi menegang ketika petugas hendak merubuhkan kandang ayam. Melihat gerak-gerik petugas yang akan mengangkut kandang ayam, sejumlah penghuni pun langsung berseru kompak. ''Omahku wis mbok bongkar, kandange ya ojo dibongkar!'' Mendengar teriakan keras itu, petugas akhirnya urung. Akhirnya, kandang itu menjadi satu-satunya ''bangunan'' yang masih utuh. Kepada Suara Merdeka, penghuni mengaku belum akan pindah. Bila harus diusir dari lokasi, mereka memilih tetap di TI dengan risiko harus tinggal di kolong jembatan Banjirkanal Timur, Jl Majapahit. ''Lha mau tinggal di mana lagi?'' keluh mereka. Pegawai Kecamatan Menurut Kasi Operasional dan Trantib Satpol PP Sumardjo SH, yang ditertibkan adalah orang-orang yang sebelumnya juga tinggal di TI. Dari 19 rumah yang sebelumnya telah dibongkar, ternyata muncul lagi sembilan bangunan liar baru. Kali ini, bangunan hanya terbuat dari kayu, bambu, tenda, atau seng. Sebelumnya, beberapa rumah bahkan sudah permanen atau semipermanen. Sekretaris Camat Semarang Timur Firdaus Setiawan mengatakan, penghuni bangunan liar TI umumnya warga pendatang dari Demak dan Grobogan. Di Semarang, mereka adalah pemulung dan buruh kebersihan. ''Mereka mulai ada sekitar 2-3 tahun lalu. Tadinya cuma satu-dua rumah, lama-lama jadi banyak. Kami sudah peringatkan. Malah salah satunya ada bekas pegawai kecamatan yang sudah pensiun tinggal di situ,'' ujarnya. (H12,H9-62) |