logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Desember 2006 INTERNASIONAL
Line

Anak Palestina Operasi di Israel

HOLON - Meski saling bermusuhan, Israel dan Palestina ternyata bekerja sama dalam bidang medis. Belum lama ini, seorang anak Gaza menjalani operasi jantung di Israel.

Anak itu adalah Hala Ketnani, anak perempuan berusia 10 tahun dari Gaza. Dia menjalani operasi di Israel karena hal itu tidak bisa dilakukan di Gaza. Pasalnya, di jalur itu, banyak rumah sakit yang kondisinya makin buruk sejak embargo bantuan Barat diberlakukan tahun ini. Embargo tersebut untuk menekan pemerintah Palestina pimpinan Hamas agar mengakui Israel.

Berdasarkan program swasta Israel ''Selamatkan Jantung Anak'', para dokter di Wolfson Hospital dekat Tel Aviv memperbaiki kelainan jantung bawaan bagi anak-anak seperti Ketnani dari Palestina, Irak, Yordania, dan Afrika.

Lebih dari 1.000 anak, sekitar separonya berasal dari Gaza dan Tepi Barat, sejauh ini dibantu oleh program tersebut. Program itu sebagian didanai oleh Uni Eropa.

''Saya senang melihat pipi Hala merona lagi,'' kata nenek anak itu, Raisa Ketnani (65) sambil meletakkan kedua telapak tangannya ke dada. ''Saya sangat berterima kasih.''

Tentara Israel dan pemukim Yahudi meninggalkan Gaza pada 2005 setelah 38 tahun pendudukan militer, namun sejumlah besar orang Palestina di wilayah itu masih mengandalkan Israel dan Mesir untuk kebutuhan kemanusiaan seperti obat-obatan.

Kebutuhan itu meningkat dalam setahun terakhir karena tingkat pelayanan medis di Gaza dan Tepi Barat menurun sejak Hamas berkuasa, dan negara-negara Barat menghentikan bantuan langsung ke Otoritas Palestina.

Longgarkan Batasan

Meski Israel melarang warga Palestina memasuki wilayahnya sejak intifada dimulai pada 2000, negara Yahudi itu melonggarkan batasan untuk pelayanan medis.

Shlomo Dror, juru bicara Kementerian Pertahanan Israel, mengatakan sekitar 1.000 orang Palestina per bulan menerima perawatan medis di Israel, meningkat dari 600 pada tahun-tahun sebelumnya.

Izin masuk bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian medis di Israel biasanya disetujui dalam beberapa hari, meski orang dewasa menjadi sasaran screening keamanan, jelas Dror.

Namun nenek Hala mengatakan dia membawa cucunya itu dari Gaza karena ibu anak tersebut tidak diizinkan masuk Israel. Dror tidak mengomentari kasus itu. Namun dia menyatakan jika orangtua anak yang sakit menimbulkan masalah keamanan, otoritas Israel mengizinkan sanak keluarga lain menyertainya.

Israel meningkatkan screening itu sejak bom bunuh diri belum lama ini di pos pemeriksaan Gaza dan sebuah bom ditemukan pada wanita lain. Bom bunuh diri itu dilakukan oleh seorang wanita yang mengupayakan perawatan medis di Israel.

Program tersebut didirikan tahun 1995 oleh pakar kardiologi kelahiran AS, Amram Cohen. Program itu telah diperluas dengan mencakup pelatihan bagi dokter Palestina dan negara lain dalam hal operasi jantung.(rtr-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA