| Rabu, 06 Desember 2006 | OLAHRAGA |
Salam dari DohaLulus Tes Masuk, Langsung Kelas II SDMEDALI atas nama Magfira Salmanisa tergantung di dinding. Penghargaan itu didapat pada kontes mengeja dalam bahasa Inggris (spelling bee) yang diadakan Global International Academy, Doha. ''Grade I,'' begitu tertulis di dalamnya. Anak sulung pasangan Muhammad Rofiq Budi Cahyono dengan Marsi Daud itu sekarang duduk di kelas III. ''Namun sekarang tak lagi sekolah di situ. Dia belum lama saya pindahkan,'' tutur sang ayah tentang anaknya yang berusia delapan tahun tersebut. Rofiq yang menamatkan pendidikan S1-nya di Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro pada 1991, harus memindahkan sekolah putrinya karena kesulitan mengurus penggantian biaya pendidikan yang disediakan kantornya. Pria asal Randublatung, Kabupaten Blora itu tercatat bekerja di QP, nama populer untuk Qatar Petroleum. BUMN tersebut menanggung biaya pendidikan untuk anak-anak karyawannya. ''Penggantiannya penuh sampai kelas IV. Mulai kelas V, saya harus menanggung 25 persennya, yang langsung dipotongkan dari gaji,'' ujarnya. Tetapi, karena kerja sama antara Global International Academy dengan QP belum mantap, penggantian biaya sekolah tidak mulus diterima. ''Fira lalu saya masukkan ke Choeifat. Waktu mengurus surat pindah, pihak Global bilang kalau kerja sama dengan QP sudah beres. Namun, tetap saya pindahkan supaya satu sekolah dengan adiknya,'' tutur Rofiq. Anak keduanya, Muhammad Rifky Yakub tahun ini lulus dari Bright Future, sebuah TK yang ditangani institusi pendidikan asal Pakistan. Dua sekolah dituju untuk kelanjutan pendidikan bocah berusia enam tahun itu. Rifky didaftarkan ke Global dan Choeifat. Keduanya sama-sama sekolah internasional yang dikelola lembaga yang berpusat di Lebanon. ''Di Choeifat juga diajarkan bahasa Prancis,'' kata Marsi, sang ibu yang berasal dari Aceh. Dalam tes, ternyata hasil yang didapat Rifky berbeda. Choeifat menerimanya di kelas II, tetapi Global kelas I. Orang tuanya memilih yang langsung duduk di kelas II. Apalagi urusan kerja sama antara QP dengan lembaga pendidikan itu telah lama beres, sehingga keluarga Rofiq dipastikan tak dipusingkan dengan persoalan uang sekolah. Lima Tahun Menjadi karyawan QP, tak hanya kemudahan dalam pendidikan anak yang didapat. Untuk biaya kesehatan, satu keluarga ditanggung penuh. ''Tetapi, kalau memasukkan anak ke rumah sakit karena kecelakaan di rumah, urusannya bisa sampai ke Kepolisian. Rumah sakit memang langsung akan mengobatinya, tetapi setelah itu mereka diminta untuk memastikan kecelakaan itu bukan karena kekerasan dalam rumah tangga. Polisi jadi ikut dilibatkan,'' jelas Rofiq. Lima tahun dia bekerja di perusahaan negara yang bertanggung jawab terhadap semua fase pengolahan minyak dan gas negeri itu. Sebelumnya, dia bekerja di perusahaan yang bergerak dalam industri kimia, Chandra Asri, di Cilegon sejak 1994. ''Saya masuk saat proyek masih berlangsung. Mulai dari tanah sampai jadi pabrik.'' Setelah tujuh tahun di perusahaan yang pemegang sahamnya antara lain Prayogo Pangestu itu, dia merantau ke luar negeri. Pada saat pertama datang sampai sekarang, tinggalnya di Al-Ibreez Street, kawasan Mughalina. Mulanya sewa apartemennya 1.600 riyal Qatar sebulan. ''Makin banyak saja perantau yang datang membuat harga sewa properti melonjak. Sekarang saya harus membayar 3.500 riyal/bulan (Rp 8,75 juta),'' kata Marsi. Namun, tunjangan perumahan yang diterima suaminya dari QP melebihi jumlah itu. Rofiq menerima sebesar 5.100 riyal (Rp 12,75 juta) sebulan dari kantornya, hanya untuk perumahan. Belum gajinya. Untuk para karyawannya, QP sedang membangun perumahan di kawasan Um Saeed. Namun, perumahan hanya bagi para karyawan yang bekerja di darat. Sedangkan Rofiq tercatat sebagai karyawan proses produksi di lepas pantai. Karena itu, masuk dan liburya berturut-turut. Setelah masuk seminggu, libur seminggu giliran didapat. (Ananto Pradono, dari Doha-28) |