| Rabu, 06 Desember 2006 | WACANA |
Menggugat Kecendekiawanan ICMI
Mulai sekarang harus ada reorientasi kerja ICMI. Kerja yang sifatnya elitis harus diubah menjadi kerja yang sifatnya humanis dan merakyat. Karena status kecendekiawanan seseorang atau organisasi tidak terletak pada label atau bendera yang dikibarkannya. Tetapi pada konteks yang paling pokok adalah terletak pada komitmennya untuk selalu berpihak pada masyarakat bawah. ENAM belas tahun yang lalu tepatnya pada 6 Desember 1990 di kota dingin Malang digelar perhelatan besar dalam sejarah perjalanan intelektual Indonesia. Pada saat itulah di gedung Student Center Universitas Brawijaya ratusan orang mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sebagai wadah pengabdian para intelektual muslim Indonesia pada bangsa dan agamanya. Di awal kelahirannya sampai sekarang perjalanan ICMI selalu mengundang polemik dan kontroversi yang tinggi dari berbagai kalangan, terutama dari berbagai pakar disiplin ilmu penegetahuan. Poin yang paling dikritisi adalah komitmen dan orientasi perjuangan ICMI dalam konteks keindonesiaan. Tentu saja hal itu menimbulkan pro dan kontra. Bagi yang pro dengan kehadiran ICMI memandang bahwa ICMI akan menjadi kekuatan vertikal umat Islam dalam memberikan peran dan kontribusinya dalam membangun bangsa dan negara Indonesia. Dengan alasan karena sudah waktunya umat Islam memainkan peran sentral dalam percaturan politik nasional. Alasan ini muncul karena pada waktu itu Islam masih terkesan di luar pagar peta politik nasional. Islam masih berstatus sebagai penonton belum bisa menjadi pemain. Kalau perasaan di luar pagar umat Islam ini terus berlarut-larut maka menurut almarhum Nurcholis Madjid sangat membahayakan. Alasannya umat Islam bisa jadi akan menjadi oposan, melihat apa yang datang dari negara sebagai sesuatu yang tidak baik. Hal semacam ini tentu mudah sekali menimbulkan konflik. Sementara bagi mereka yang kontra tentu saja mempunyai alasan tersendiri. Antara lain kehadiran ICMI akan digunakan segelintir orang untuk meraih kekuasaan. Dengan tujuan yang semacam ini ICMI akan menjadi politik aliran yang eklusif dan primordialis atas nama Islam, sehingga Islam dianggap tidak begitu strategis dalam memberikan kontribusinya dalam konteks pembangunan dan perkembangan umat Islam Indonesia. Spirit Kecendekiawanan Terlepas dari pro dan kontra di atas, hal yang paling penting untuk kita kritisi pada era sekarang ini adalah komitmen kecendekiawanan ICMI. Sebagai komunitas intelektual, kaum cendekiawan, manusia terpelajar atau apa pun namanya ICMI seharusnya memosisikan diri sebagai kekuatan pemberdayaan masyarakat. Karena secara moral tugas dan tanggung jawab seorang intelektual, apalagi intelektual muslim, adalah memperjuangkan dan membela hak-hak masyarakat bawah, terutama ketika berhadap-hadapan dengan pihak penguasa. Dalam sejarah peradaban Islam terlihat jelas bagaimana para nabi dan rasul berjuang keras membela umatnya dari penindasan para tiran. Baik penindasan secara teologis, politis maupun ekonomis. Seperti Nabi Ibrahim yang dengan gigih melawan kesewenang-wenangan raja Namrud, Nabi Musa yang dengan perkasa menghancurkan kediktatoran Fir'aun sampai nabi Muhammad yang gagah berani menentang kebiadaban kaum bangsawan Arab seperti Abu Jahal, Abu lahab dsb. Selain peristiwa historis para nabi di atas, semangat kerakyatan dan kemanusiaan intelektual muslim tersebut juga ditegaskan oleh cendekiawan muslim asal Iran, Dr. Ali Shariati (1991) , bahwa para intelektual Muslim hanya akan memiliki makna dan fungsi bila mereka selalu berada di tengah-tengah massa rakyat, menerangi masa, membimbing massa dan bersama-sama massa melakukan pembaruan ke arah kehidupan yang lebih baik, lebih Islami. Satu hal yang menjadi masalah dalam tubuh ICMI sampai sekarang ini adalah belum konkretnya misi kecendekiawanan tersebut dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat muslim. Hal ini terbukti dengan statusnya ICMI yang masih elitis dan berdiri di menara gading. Belum ada itikad dari ICMI untuk dekat masyarakat bawah (grass root). Bahkan orientasi ICMI sampai sekarang lebih terfokus pada wilayah struktural politik daripada ke wilayah kultural masyarakat, sehingga budayawan Emha Ainun Nadjib(1995) dengan nada kritiknya yang khas mengatakan bahwa ICMI justru menjadi suatu jenis aristokrat gaya baru yang kesiapan utamanya adalah dijunjung, dikagumi dan dibenarkan. Sebuah cendekiawan yang sudah merupakan sebuah jenis kekuasaan dalam sejarah. Kritikan dan celotehan seperti di atas tentu bukan hanya dari Emha semata, dari pakar yang lain juga banyak yang melontarkannya terkait elitisme ICMI. Sebagai komunitas yang mengaku sebagai agen cendekiawan, anggota ICMI seharusnya tidak alergi untuk turun ke bawah melihat realitas langsung masyarakat dengan segala problematikanya. Dari dulu sampai sekarang, program yang digarap oleh ICMI pun, secara nyata, masih belum menyentuh probelmatika umat. Bahkan ICMI seakan-akan menutup mata ketika melihat permasalahan riel masyarakat, sehingga para cendekiawan yang seharusnya populis, familiar dan akrab dengan masyarakat justru asing dengan masyarakat. Kalau kenal dengan masyarakat saja susah bagaimana bisa mengetahui problematika umat, kalau permasalahan umat saja tidak tahu bagaimana bisa menyelesaikannya, kalau tidak bisa menyelesaikan problematika umat bagaimana bisa dikatakan dengan cendekiawan? Maka, dengan usianya yang ke -16 ini saatnya dipertanyakan komitmen kecendekiawanan ICMI terhadap problematika rakyat kecil. Apa peran ICMI sekarang ketika melihat masyarakat bawah, secara kasat mata, ditimpa musibah seperti kasus lumpur panas, gempa bumi, busung lapar, keterbelakangan, penggusuran sewenang-wenang, biaya pendidikan tinggi, pengangguran dan seabrek permasalahan wong cilik lainnya. Fakta yang ada sekarang ICMI hanya bungkam dan terkesan cuek dengan permasalahan masyarakat tersebut. Pada hal sebenarnya, secara moral, masalah tersebut adalah tanggung jawab para cendekiawan. Maka idealnya ICMI juga turut berada di garda depan untuk melakukan kerja sosial yang bertujuan menyelesaikan permasalahan tersebut. Oleh karena itu mulai sekarang harus ada reorientasi kerja ICMI. Kerja yang sifatnya elitis diubah menjadi kerja yang sifatnya humanis dan merakyat. Karena status kecendekiawanan seseorang atau organisasi adalah tidak terletak pada label atau bendera yang dikibarkannya. Tetapi pada konteks yang paling pokok adalah terletak pada komitmennya untuk selalu berpihak pada masyarakat bawah. Kalau ICMI tidak bisa mengaktualisasikan komitmen seperti itu tidak perlu mengaku sebagai komunitas cendekiawan. (11) - Muhammad Muhibbuddin, staf Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta
(LKKY) dan aktivis Jaringan Islam Kultural Yogyakarta.
|