| Rabu, 06 Desember 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANAMengurai Ancaman Perang Saudara di Lebanon- Gerakan penentangan yang dimotori kelompok Hizbullah pro-Suriah terhadap pemerintahan Perdana Menteri Fouad Siniora semakin meningkat menyusul pembunuhan atas Menteri Perindustrian Pierre Gemayel yang anti-Suriah, belum lama ini. Para pengunjuk rasa membangun tenda-tenda di pusat Kota Beirut, tidak jauh dari rumah PM. Kelompok oposisi menuntut pembubaran pemerintahan Siniora yang didukung negara-negara Arab dan Barat, di tengah upaya PM yang dipilih lewat pemilu demokratis itu memejahijaukan kasus pembunuhan PM Rafik Hariri (juga anti-Suriah) tahun lalu. Hariri diduga kuat dihabisi unsur pro-Suriah di Lebanon dan aparat intelijen Suriah sendiri. - Apa saja yang terjadi di Lebanon tak terlepas dari keterlibatan Suriah. Sejarah mencatat, berkat keterlibatan Damaskus, perang saudara yang membenturkan komunitas Muslim dan Kristen sejak awal 1980-an dapat dihentikan pada pertengahan dekade itu juga. Campur tangan Suriah menyelamatkan pasukan Kristen yang mulai terdesak. Perang saudara brutal terhenti dan pemerintahan pro-Suriah berkuasa hingga muncul PM Hariri. Namun sang PM bernasib tragis karena sikapnya yang anti-Damaskus. Pembunuhan Hariri memicu demo menentang Suriah. Berkat campur tangan Barat, pasukan Suriah akhirnya ditarik pulang setelah 20 tahun bercokol di Lebanon. - Tampaknya, kepulangan pasukan "pendudukan" Suriah tidak begitu saja bisa melepaskan Lebanon dari keterlibatan Damaskus. Apalagi kelompok Hizbullah - yang setia kepada Suriah - semakin kuat dari hari ke hari. Kelompok itu pula yang terus merusuhi Israel dengan serangan-serangan roket dari wilayah Lebanon selatan ke Israel bagian utara. Pembunuhan atas diri tokoh Kristen Gemayel menunjukkan pengaruh Damaskus masih kuat di kalangan sejumlah kelompok di Lebanon. Dukungan internasional pada pemerintahan Siniora tidak bisa menjamin pemerintahan itu bisa bertahan. Sang PM sendiri berisiko dihabisi karena sikapnya yang anti-Suriah dan pro-Barat. - Konflik di Lebanon menambah panjang ancaman perang saudara di Timur Tengah, setelah Irak dan Palestina bergolak terlebih dahulu. Perang saudara pun telah pecah di Irak. Kelompok mayoritas Syiah berhadapan dengan minoritas Suni, dan kaum Syiah garis keras berbenturan dengan siapa saja yang dianggap pro-AS. Media AS sudah tidak ragu lagi memakai istilah civil war. Di Palestina, kelompok garis keras Hamas - pemenang pemilu demokratis - bentrok melawan kubu mapan Fatah - unsur utama dalam PLO - yang mulai melemah terhadap Washington. Di Lebanon, sejauh ini yang saling berbenturan adalah faksi pro-Suriah dan anti-Suriah. - Namun kalau mau realistis, perkembangan di Lebanon justru paling menakutkan. Sebab, tidak tertutup kemungkinan konflik di negara itu pada akhirnya berkembang atau sengaja dikembangkan pihak tertentu menjadi permusuhan Islam versus Kristen seperti pada awal 1980-an. Pengalaman di mana saja menunjukkan, konflik antaragama selalu lebih kejam daripada konflik lain. Sentimennya bisa merambat ke seluruh pelosok dunia. Masyarakat internasional, khususnya PBB, harus lebih jeli dan segera mengambil inisiatif. Mumpung suasana hangat yang ditebar dari kunjungan "rekonsiliasi" Paus Benedictus ke Turki - sebuah negara muslim - belum mendingin. - Minta bantuan Damaskus, mengapa tidak? Ketimbang membiarkan Suriah secara diam-diam melakukan campur tangan negatif atas masalah intern Lebanon, bukankah lebih baik diminta terlibat terang-terangan untuk tujuan positif? Washington sendiri yang sudah kehabisan akal mengatasi perkembangan di Irak tidak malu meminta Suriah dan Iran membantu meredakan krisis di Irak yang diinvasinya pada 2003. Ketika mayoritas negara Arab kini tunduk kepada AS, tampaknya hanya Suriah dan Iran (yang bukan bangsa Arab) masih didengar suaranya oleh unsur-unsur militan Arab. Sepahit apa pun, pil harus diminum untuk menyembuhkan "penyakit maut" perang saudara. |