| Rabu, 06 Desember 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANAAkhirnya Lapindo Bertanggung Jawab- Setelah melalui pembahasan cukup panjang, akhirnya PT Lapindo Brantas menyetujui membeli tanah dan bangunan milik korban luapan lumpur dengan harga sesuai dengan tuntutan warga, yaitu Rp 2,5 juta/m2 untuk tanah dan bangunan serta Rp 120.000/m2 untuk tanah sawah. Ini bentuk pertanggungjawaban Lapindo yang pantas dihargai. Pada satu sisi, kita tahu betapa berat beban yang harus ditanggung perusahaan itu karena musibah semburan lumpur itu. Kabarnya, tidak kurang dari Rp 1,3 triliun. Namun pada sisi lain, kita pun sangat bisa merasakan bagaimana kepedihan warga yang menjadi korban dan kehilangan tempat tinggal masing-masing. - Siapa yang tak menghendaki musibah datang? Luapan lumpur panas yang terjadi di Sidohardjo itu memang sangat dahsyat karena rasanya belum pernah terjadi selama ini. Rumah yang terendam 2.284 buah. Lahan sawah yang terendam 366,71 hektare. Di samping itu, masih ada lagi 20 pabrik. Dan, yang lebih vital lagi jalan tol yang menjadi urat nadi perekonomian di Jawa Timur. Nilai kerugian secara ekonomi termasuk dalam hitungan materiil sangatlah besar dan melebihi dari nilai pembelian atas tanah dan bangunan milik penduduk. Akan tetapi kembali pada pertanyaan: siapa yang menghendaki musibah seperti itu datang. - Salah satu pola penyelesaian adalah dengan resettlement, penggantian rumah atau tempat tinggal yang rusak atau tenggelam luapan lumpur. Lapindo pun menawarkan pilihan berupa rumah baru di sebuah kompleks perumahan yang akan mulai dibangun awal 2007. Namun jika yang dikehendaki pembelian tanah dan bangunan, juga sudah disepakati harganya. Waktu yang dibutuhkan untuk keseluruhan proses, yaitu dua tahun. Warga meminta, kalau bisa dipercepat tentu akan lebih baik. Namun, kita tentu bisa memaklumi bagaimana kerumitan administrasi sehingga dua tahun pun bisa jadi sangat singkat. - Bukan berarti setelah tercapai kesekapatan harga dalam pembelian tanah dan bangunan itu dan proses pembayaran telah dilakukan, segala sesuatunya selesai. Kita masih dibuat prihatin dengan penanganan luapan lumpur yang belum juga diketahui kapan berhenti. Meskipun demikian, ada perasaan lega karena setidaknya musibah itu tidak memakan korban penduduk yang tidak berdosa. Mereka bisa dikatakan tidak rugi secara ekonomi karena tanah dan bangunannya dibeli dengan harga di atas nilai jual objek pajak (NJOP) dan bahkan harga pasar. Namun, penderitaan selama ini termasuk harus mencari dan beradaptasi di tempat baru cukup berat. - Tanggung jawab PT Lapindo merupakan sesuatu yang luar biasa. Rakyat juga menderita tetapi sudah terkurangi beban itu dengan kebijakan pembelian. Sebelumnya, kabar tentang bagaimana proses penyelesaian masih simpang siur. Warga dibuat bingung dan resah sehingga mereka pun terus berunjuk rasa. Apalagi setelah terdengar kabar tentang rencana penjualan Lapindo kepada pihak lain yang bisa diartikan sebagai upaya melepas tanggung jawab. Semula kita pun sanksi, Lapindo mau membayar sebesar itu. Perusahaan tersebut sudah menanggung beban kerugian sangat besar. - Apa yang telah diputuskan sekarang merupakan sebuah langkah bijak yang patut dihargai. Kita bersimpati kepada warga yang menjadi korban. Namun, kita pun bersimpati kepada pemilik dan manajemen PT Lapindo yang sedang menerima cobaan sangat berat. Semua hendaknya dijadikan pelajaran berharga. Di balik sebuah kejadian, tentu banyak hikmah yang bisa dipetik. Apakah semua itu terjadi karena kecerobohan, kekuranghati-hatian, ataukah karena faktor alam yang benar-benar di luar kekuasaan manusia. Yang penting, tanggung jawab itu telah dipikul dan kita telah meminimalkan jumlah korban. Dengan demikian, masalahnya mulai akan dapat diselesaikan. |