logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 06 Desember 2006 KEDU & DIY
Line

Catatan Jogja Fashion Week 2006

Desainer Muda Rancang Identitas Yogya

BATIKKAH busana identitas Yogya? Barangkali, akan ada banyak kepala yang mengangguk seketika saat pertanyaan itu dilontarkan. Itu pula yang terlihat pada lomba cipta busana yang digelar dalam rangkaian Jogja Fashion Week (JFW) 2006 di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Ya, dari 60-an desainer muda yang mengikuti ajang itu, busana berbahan dasar batik terlihat amat dominan. Terutama, batik sogan yang berkelir cokelat kehitaman yang memang berasal dari Yogyakarta.

Ada yang menggunakan batik sebagai bahan utama, ada pula yang memanfaatkannya sebagai pemanis saja. Di sela itu, menyelip satu-dua busana berbahan lurik dan tenun.

Rupanya, para desainer yang berdatangan dari pelbagai daerah itu tak mau repot mencari identitas lain selain batik.

Atau, jangan-jangan para perancang itu terlampau patuh pada juklak yang disodorkan panitia, yakni mereka-reka busana malam yang bernuansa Yogya?

Padahal, kalau mau dikupas, sebenarnya terbuka peluang untuk memanfaatkan berbagai kekayaan budaya Yogya. Tema yang diusung pada JFW 2006 menyiratkan peluang itu, ''The Expression of the Tradition''. Tak bisakah tetap terasa ''Jogja banget'' tanpa batik?

Kalau menilik dari judul rancangan, saat disebutkan oleh master of ceremony (MC), sebenarnya terasa begitu kreatif, variatif, dan imajinatif. Coba apa yang terbayang di benak Anda, ketika mendengar judul rancangan ''Skala 5,9 Sengkut Gumregut'', ''Nyai Roro Kidul'', atau yang lebih terasa kosmopolit ''Arjuna Mencari Cinta''? Di luar itu, banyak juga judul-judul rancangan yang STD (standar-Red), seperti ''Pesona Jogja'' atau ''Back to Nature''.

Kreatif

Baru ketika busana itu ditampilkan, terasa benar Yogya tengah dikepung batik. Tapi, benarkah tak ada hal menarik yang patut dicatat? Tentu saja ada, banyak malah.

Kreativitas! Ya, walaupun sedikit ''terbelenggu'' oleh batik, kreativitas para desainer muda itu patut memperoleh acungan jempol. Mereka berhasil memunculkan diri lewat pemberontakan-pemberontakan kecil, lewat rancangan yang diperagakan oleh peragawati-peragawati cantik dari LPK Papmi Yogya. Lihatlah, hasil modifikasi ''edan-edanan'' dari kebaya pada rancangan salah satu peserta, yang hanya menyisakan sebelah lengan dan sisi badan bagian atas.

Atau, kecerdikan Sofie yang mengusung tempurung kelapa, berhasil mencuri perhatian penonton. Walaupun, lagi-lagi, dia juga tidak ''berani'' meninggalkan batik. Busana malam yang mengeksplorasi tempurung kelapa terlihat elegan dan seksi. Sofie memanfaatkan tempurung sebagai cup, untuk menutup payudara pemakai rancangannya. Tak lupa, dibubuhkan obi, semacam ikat pinggang yang diadaptasi dari busana kimono, yang juga ditempeli tempurung kelapa.

Tak terlampau salah, kiranya, trio juri-Ika Mardiana, Ninik Darmawan, dan Esti Susilarti-memilih Sofie sebagai jawara.

Menyusul di belakangnya, Septi Widiastuti dengan rancangan ''Inspiration of Ketawang'' sebagai juara II dan Maria Dita ''Sang Dewi'' sebagai juara III. (Achiar M Permana-39v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA