logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 05 Desember 2006 OLAHRAGA
Line

Salam dari Doha

Rezeki Minyak Qatar Begitu Terasa

''ENAM anak saya,'' kata Shamira, seorang wanita yang menjadi salah satu petugas sukarela Asian Games XV sembari tersenyum. Selama pesta olahraga berlangsung, dia meninggalkan pekerjaan sehari-harinya sebagai karyawati sebuah rumah sakit di Doha. ''Ya, kami memang kaya anak,'' lanjutnya.

Meskipun menanggung anak sebanyak itu, dia mengaku relatif tak dipusingkan dengan beban ekonomi. Hal demikian bisa terjadi mengingat biaya pendidikan dan kesehatan sangat murah.

''Bahkan bila belajar di sekolah negeri, anak-anak tidak membayar,'' tutur perempuan berusia 43 tahun tersebut.

Untuk menutup biaya kesehatan, setiap penduduk diwajibkan mengikuti asuransi, dengan biaya premi 100 riyal (Rp 250.000) setahun. Bila sakit, pasien hanya menanggung ongkos obat yang 2 riyal (Rp 5.000) per jenis. Biaya rumah sakitnya bebas.

Pada masa lalu, negeri yang tiga sisinya dibatasi laut itu mengandalkan perikanan dan perdagangan mutiara. Sekarang, pelabuhan-pelabuhan mereka makin berarti karena industri minyak dan gasnya tumbuh cepat.

Bahkan dengan minyak dan gas, Qatar mampu meroketkan kemampuan ekonominya, yang dibuktikan pada keberhasilan memberikan kesejahteraan memadai bagi rakyatnya. Ibarat ada gula ada semut, kekayaan itu akhirnya menarik penduduk dari belahan dunia lain untuk datang mengadu peruntungannya dengan berburu pekerjaan.

Pendapatan per kapita warga Qatar pada 2005 mencapai 45.000 dolar AS. Sekitar 30 kali lipat pendapatan per kapita warga Indonesia.

Melimpahnya minyak juga sangat terasa dalam pembebanan harga di dalam negeri.

Harga untuk warganya amat terjangkau. Satu liter tidak sampai 1 riyal. Untuk premium dipatok 65 dirham (Rp 1.700), sedangkan yang super hanya lebih mahal lima riyal. Bandingkan dengan harga premium di Indonesia yang Rp 4.800/liter.

Air Mineral

Tak heran kalau warga Qatar membayar lebih mahal untuk satu liter air mineral. Mereka harus mengeluarkan 1 riyal untuk mendapatkan satu liter air mineral. Dengan penduduk yang sekitar 750 ribu jiwa, persediaan minyak per kapita mereka menjadi yang tertinggi di dunia. Sedikitnya jumlah penduduk itu yang agaknya membuat keemiran tersebut tidak begitu peduli dengan naik turunnya harga minyak dunia.

''Dulu bahkan jauh di bawah itu. Kalau tidak salah, baru tiga tahun lalu dinaikkan, kemudian stabil sampai sekarang,'' ujar Shamira.

Padahal dalam periode tiga tahun terakhir harga minyak dunia bergolak, yang di Indonesia sangat dirasakan warganya karena harus mengalami kenaikan harga yang tinggi persentasenya.

Pada perekonomian makro, kontribusi minyak juga terasa lewat eksistensi Qatar Petroleum. Perusahaan milik negara tersebut menarik banyak tenaga kerja asing datang, termasuk dari Indonesia. Banyak dari mereka yang bekerja di anjungan-anjungan minyak lepas pantai.

Qatar Petroleum juga merupakan pemilik perusahaan penyalur bahan bakar minyak, WOQOD. Mereka adalah distributor tunggal, sehingga semua BBM yang diperlukan selama Asian Games ini hanya mereka yang memasok.

Selain BBM, industri gas juga cerah. Bahkan mereka menjadi negara penghasil gas terbesar ketiga di dunia. Malah bila dihitung dalam persediaan gas per kapita, hanya Rusia yang bisa mengalahkannya. (Ananto Pradono, dari Doha-28)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA