logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 05 Desember 2006 SEMARANG
Line

Perkembangan PAUD Dinilai Terlambat

SEMARANG - Pendidikan yang diperoleh anak di usia dini seringkali kurang mendapatkan perhatian dari para orang tua. Mereka acapkali berpikir, pendidikan di sekolah dasar lebih penting sehingga anak dianggap tak perlu lagi diikutsertakan dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

"Kondisi ini mengakibatkan PAUD di Indonesia masih rendah dan terlambat dibandingkan negara-negara lain,'' kata Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr Bambang Sudibyo MBA saat membuka semiloka Nasional Pendidikan Anak Usia Dini Tingkat Nasional dan Launching EFA Global Monitoring Report 2007, Senin (4/12) di Auditorium Unnes Sekaran.

Berdasarkan data 2006 yang dimiliki United Nations Educational, Scientific and Culture Organization (Unesco) menurut Programme Specialist Education Officer Unesco Jakarta, Alisher Umarov, persentase anak usia dini di Indonesia yang mengikuti PAUD hanya 25% dari sekitar 22 juta anak.

Persentase itu belum termasuk mereka yang tergabung dalam PAUD di bawah unit-unit milik Departemen Agama. Secara keseluruhan persentase mencapai 45%.

"Persentase itu masih berada di bawah negara-negara lain yang ada di Asia. Malaysia, Thailand, dan Filipina, persentasenya mencapai 70%,'' papar dia. Dia menyarankan agar pendidikan dasar bagi anak dikombinasikan dengan jenis pelayanan yang sudah ada, misalnya posyandu.

Interveni Sosial

Dijelaskannya, perlu adanya pendekatan melalui intervensi sosial. Misalnya pemberian pendidikan dasar dapat dilakukan di sela-sela pemberian vaksinasi serta penyuluhan nutrisi pada ibu. Pemberdayaan jenis-jenis pelayanan masyarakat pada skala kecil perlu lebih diberdayakan. Untuk lebih meningkatkan angka partisipasi dari PAUD itu pemerintah telah menyediakan dana untuk pelaksanaannya.

Untuk 2007, menurut Direktur Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Gutama, pemerintah telah menyediakan dana sebesar Rp 243 miliar. Tetapi setelah dilakukan penghitungan kembali, disetujui dana yang turun sebesar Rp 199 miliar.

"Selain APBN, pengembangan PAUD mendapat dukungan dari World Bank dan Unesco, terutama untuk yang ada di daerah-daerah miskin,'' tutur dia.

PAUD, lanjut dia, tak bisa dipisahkan dari layanan tumbuh kembang anak secara keseluruhan. Tumbuh kembang itu meliputi aspek gizi, kesehatan, dan layanan psikososial lainnya. Untuk itu dalam penanganannya diperlukan kerja sama dengan semua pihak terkait, termasuk orang tua.

"Karena itu pemberdayaan terhadap keluarga, masyarakat, dan pihak terkait menjadi sangat penting dalam penanganan PAUD,'' kata dia. (H31,H11-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA