| Selasa, 05 Desember 2006 | SEMARANG |
Gaya Hidup Kelas Menengah
KEBUTUHAN akan hiburan serta gairah untuk bisa mengekspresikan diri dalam gaya hidup di kalangan wong Semarang, mungkin sama besar dan kuatnya dengan warga kota besar lain, seperti Jakarta, Bandung atau Surabaya. Apalagi kalangan kelas menengah Kota Lumpia, walau masih malu-malu kucing, kini mulai memperlihatkan eksistensinya. Secara tersamar ini tampak dari makin banyaknya warga Semarang berbelanja di butik terkenal di Jakarta, bahkan sampai ke Malaysia, Singapura, dan Hong Kong. Bahkan gaya busana para pengunjung kafe atau mal di kota ini -terutama pada hari libur- sudah menunjukkan fashionable. Rambut para gadis cantik bergaya hair stylist mutakhir, dengan aneka warna toning eksotik, dengan busana modis, dan sering menampilkan label kelas dunia. Gaya hidup kelas menengah juga makin tampak dengan kemunculan beberapa kafe dan restoran kelas atas. Perkembangan busana setiap musimnya selalu menggembirakan. Para perancang yang terhimpun dalam Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) Jateng pun selalu menampilkan rancangan yang selaras dengan tema ngetren di blantika mode dunia, atau paling tidak di Asia. Butik yang bagus juga semakin bertambah. Dan, perancang dari Kota ATLAS seperti Anne Avantie kian bersinar pamornya di tingkat nasional, dengan para ''pasien'' (istilah Anne untuk menyebut kliennya-Red) para selebriti dan kalangan atas Jakarta. Belum lagi beberapa nama seperti Inge Chu, Devi Rose atau Pinky Hendarto yang terbukti mampu memenuhi pesanan kalangan kelas menengah yang membutuhkan baju chic, terutama yang dirasa oleh mereka cukup berkelas. Tentu saja, semua itu seharusnya membuat para pemakainya membiasakan diri untuk lebih memperhatikan estetika dalam membatu penampilan dirinya. Bukan sekadar being trend, dengan segala label busana yang beken dari mancanegara. Idealnya, memadukan budaya lokal dan global di tubuh kita. Karena bagaimanapun, pasar bebas yang membuat butik kondang seperti Zara dan Mango mulai bertaburan di Ibu Kota, harus menghasilkan win-win situation, bukan pemujaan merek impor dengan melupakan bahwa kita sebenarnya punya unikum yang khas dalam fashion. Betapa tidak, kebaya kita sudah mewarnai peragaan Roberto Cavalli, yang dikenal sebagai perancang kelas A-Plus di Italia. Johji Yamamoto malah sudah lama membawa sarung tenun kita untuk penampilan peragaan busananya. Ketika terjadi persilangan budaya, seharusnya kita tak berjajar dalam tren yang membebek gaya Barat saja. Karena Semarang itu kan unik sebenarnya. Selain ke-Jawa-an yang kental, kota ini juga punya jejak kebudayaan Belanda (Arsitektur Kota Lama), menjadi dapur pembauran bagi Budaya Cina-Jawa (Lumpia misalnya, adalah makanan yang Semarang banget, bukan menu masakan China seperti yang dikira banyak orang). Juga ada jejak budaya India/Timur Tengah (kompleks permukiman Pekojan dan beberapa kawasan lain). Latar pembauran budaya seperti itu seharusnya menjadi paduan menarik bagi gaya hidup kelas menengah semarangan, yang pasti tampil berbeda sekali dibandingkan dengan fashion dan perilaku ala metropolitan yang serba-Jakarta minded. Jadi, semaraknya tema global harus diimbangi dengan pengembangan pribadi khas semarangan. Ciri khas kepribadian itu pada akhirnya akan menentukan gaya hidup sehari-hari orang Semarang di tengah haru birunya arus globalisasi kebudayaan. Paling tidak, di tengah hiruk pikuk tersebut, dengan gagah kita masih bisa berseru lantang, ''Ini gaya hidup semarangan, ndes!'' (56s) - Penulis adalah Pengajar Pengembangan Etika dan Kepribadian. |