logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 05 Desember 2006 SEMARANG
Line

Dugem Yes, Narkoba No

TIDAK dapat dimungkiri lagi, dunia gemerlap (dugem), sudah menjadi gaya hidup anak muda sekarang. Bukan rahasia pula, gaya hidup tersebut begitu dekat dengan minuman alkohol, narkoba, hingga seks bebas. Bahkan, bagi sebagian clubbers, mereka yang tidak pernah dugem akan dianggap kuno dan cenderung dikucilkan dari pergaulan. Namun, benarkah semua clubbers menjalani dan melakukan hal tersebut?

Wista (24) mengungkapkan, dugem hanya dilakukan ketika memang sedang mood. Kegiatan itu juga lebih banyak dilakukan bersama teman-teman kerja ataupun teman kos.

"Kami selalu pergi bersama-sama, ya minimal empat orang. Kalau jumlah yang ikut kurang dari empat orang, biasanya nggak jadi dugem, tapi pergi ke restoran atau putar-putar Semarang aja," ungkap wanita pemilik Honda Jazz berwarna silver itu.

Untuk masalah bujet, perempuan yang mengaku bekerja di sebuah bank swasta itu menyatakan tidak pernah menganggarkan secara khusus. "Yang penting nggak melebihi gaji," katanya.

Disinggung mengenai rokok dan minuman alkohol, dia mengaku memang mengonsumsi keduanya. Namun untuk masalah seks dan narkoba, dengan tegas dia mengatakan dugem bukan untuk mencari pasangan, apalagi menjual diri. "Bagi aku, dugem itu cuma buat ngilangin stres dan cari fun aja. Tanpa pake (narkoba), aku juga udah bisa fun kok."

Mengenai penampilannya yang seksi dengan baju ketat dan rok mini, menurutnya karena memang merasa lebih nyaman dengan busana itu. "Aku udah punya cowok di luar kota, jadi nggak perlu dandan seksi buat cari perhatian lawan jenis," tuturnya sembari mengatakan selalu memberi tahu sang kekasih kalau akan pergi dugem.

Agenda Rutin

Helma (22), seorang model, mengungkapkan, dugem sudah menjadi agenda rutin mingguan. Bahkan dia mengaku kegiatan itu hampir dilakukannya setiap malam. "Tiap malam ada saja teman yang ngajak keluar. Yang jelas hari Rabu, Jumat, dan Sabtu aku pasti sempetin waktu buat dugem," tutur gadis cantik yang mengaku kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang itu.

Mengenai pengeluaran dalam sebulan, dia tidak bisa memastikan. Kisarannya Rp 1 juta - Rp 2 juta, bergantung pada banyak tidaknya acara yang menarik, seperti penampilan artis nasional ataupun tema khusus.

Apa sebenarnya yang dia cari lewat dugem? "Cuma pingin seneng-seneng aja," tegasnya.

Dia memang mengaku gemar minuman beralkohol, tetapi sama sekali tidak pernah mengonsumsi narkoba. "Kalau mabuk kan memang di sini (diskotek) tempat buat minum, tapi kalau pakai narkoba, aku nggak berani. Takut urusan sama polisi," katanya.

Berbeda dari keduanya, Adek (28), karyawan swasta, yang ditemui saat acara pembukaan Hugo's Cafe, menuturkan, dirinya datang ke tempat itu sebagai tamu undangan. Dia mengaku sudah tidak pernah dugem sejak empat bulan yang lalu. "Dulu aku dugem paling tidak dua kali dalam seminggu, tetapi sekarang sudah tidak pernah sama sekali karena jenuh dan capai. Lagian usia juga sudah hampir kepala tiga," ungkapnya.

Tidak berbeda dengan Wista dan Helma, Adek pun mengaku sudah tidak asing lagi dengan berbagai jenis minuman keras dan seks bebas. Namun untuk narkoba, dia tidak berani mendekatinya. (Hernandhono, Ida N-37n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA