| Selasa, 05 Desember 2006 | SEMARANG |
Mewaspadai Mendung Tebal di Kota AtasBENCANA sering kali tidak datang tiba-tiba. Alam pun sebenarnya telah memberikan berbagai tanda. Sayang, kadang warga tak memahami tanda-tanda tersebut. Ketika bencana benar-benar terjadi, mereka pun tak siap dan akhirnya menjadi korban. Pengetahuan semacam itu antara lain disampaikan kepada peserta pelatihan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat), yang diselenggarakan PMI Kota Semarang. Dalam pelatihan yang diselenggarakan dua hari, mulai Sabtu (2/12) lalu, Nasrun, pelatih PMI Jateng memberikan beberapa contoh sederhana. Kalau di kota bagian atas terlihat mendung tebal, kata dia, warga yang tinggal di daerah rawan banjir harus waspada. Contoh sederhana lain, jika warga melihat ada rekahan di tebing, kemungkinan longsor di tempat itu akan terjadi. ''Tanda-tanda semacam ini bisa langsung diinformasikan kepada warga lain,'' kata dia. Penyampaian informasi juga bisa dilakukan dengan berbagai cara, bahkan yang sederhana seperti menggunakan kentongan atau pengeras suara di masjid-masjid. ''Cara yang digunakan harus berdasarkan kesepakatan masyarakat,'' ujarnya. Dengan melaksanakan cara-cara semacam itu, warga telah menerapkan sistem peringatan dini, walaupun dalam bentuk paling sederhana. Rawan Bencana Selain peringatan dini, dalam pelatihan tersebut peserta juga diberi gambaran tentang kondisi Kota Semarang yang memang rawan bencana. Wakil Ketua PMI Daerah Jawa Tengah, H Thobari HR mengemukakan, potensi bencana di Kota Semarang dipengaruhi geografis, geologis, dan demografis. Dia juga mengemukakan peran tim satuan penanggunalan bencana (Satgana). Menurutnya, tim tidak hanya berperan saat terjadi bencana, tetapi juga pada pra dan pascabencana. Pada masa pra-bencana, tugas Satgana antara lain memetakan lokasi rawan bencana, membina hubungan dengan warga di daerah rawan bencana, mengawali kantor cabang secara bergantian, dan menyebarluaskan prinsip-prinsip gerakan Palang Merah. Sementara saat terjadi bencana, mereka bertugas mengumpulkan informasi serta mengorganisasi kegiatan evakuasi SAR dan dapur umum. (Purwoko-62s) |