| Selasa, 05 Desember 2006 | SEMARANG |
Sopir Angkot Jurusan Johar-Banyumanik Demo
BALAI KOTA- Sekitar ratusan angkutan kota (angkot) jurusan Johar-Banyumanik, Senin (4/12) menggelar demo di Balai Kota. Mereka mengeluhkan banyaknya bus antarkota dalam provinsi (AKDP) yang ''mengambil'' penumpang di jalur-jalur angkot. Akibatnya, pendapatan sopir angkot berkurang drastis. Angkutan kota itu mulai berdatangan sekitar pukul 10:00. Selanjutnya mereka memarkir kendaraan umum itu di sepanjang Jl Pemuda, depan Balai Kota. Karena jumlahnya yang mencapai seratusan, mereka parkir pada kanan-kiri Jl Pemuda mulai dari depan Balai Kota hingga depan Gedung Juang. Yanto (42), salah seorang sopir mengatakan, banyaknya bus AKDP yang ''mengambil'' penumpang pada jalur angkot sangat merugikan mereka. Akibat tindakan itu, penghasilan para sopir angkot menurun. ''Untuk memenuhi setoran saja, kami sudah keser-keser,'' katanya. Dipaparkannya, pihak pengusaha angkot mematok setoran Rp 100.000 per hari. Para sopir mengaku keberatan untuk mengejar target setoran itu karena harus berebut penumpang dengan bus AKDP. ''Dengan hasil kira-kira Rp 100.000, yang jelas-jelas untuk setoran, apa yang kami bawa pulang?'' Akibatnya, tak jarang para sopir hanya membayarkan Rp 80.000, dan membawa pulang sisanya, Rp 20.000. Karena itu, mereka sering dikenai KS (kurang setoran = kasus) oleh pemilik kendaraan. Budi, sopir lainnya menambahkan, para sopir meminta agar Dinas Perhubungan (Dishub) menertibkan bus AKDP yang mengambil penumpang sembarangan. ''Harusnya, mereka (awak bus AKDP-Red) tak boleh mengambil penumpang dalam kota. Itu kan haknya angkot.'' Koordinator Paguyuban Angkot Johar-Banyumanik, Sumitro mengatakan, demo itu terpaksa dilaksanakan karena kegusaran para pengemudi angkot pada sejumlah hal. Dalam demo itu, mereka menuntut agar Dishub menertibkan bus kota yang mangkal di depan Pasar Banyumanik karena pasar tersebut bukan terminal bus kota. Para sopir juga meminta agar Dishub mengevaluasi trayek bus kota Johar-Mangkang-Bukit Kencana. Diharapkan, bus kota itu tidak melewati Jl Dr Wahidin sebab trayek tersebut ''tumbukan'' dengan angkot C10. Sebagai alternatif, bus kota dialihkan di Jl Sultan Agung. ''Dishub juga perlu meninjau ulang dan menertibkan angkot Ngesrep-Pudakpayung, serta angkutan plat hitam di jalur selatan Kota Semarang,'' tandasnya. (H9, H12-56) |