logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 05 Desember 2006 KEDU & DIY
Line

Ketua PWNU Jateng Lontarkan Otokritik

''Pintar Bikin Gol ke Gawang Sendiri''

KEBUMEN - Ketua PWNU Jateng Drs HM Adnan MA melontarkan otokritik atas warga nahdliyyin. Menurutnya, kini warga NU merasa paling pintar, namun kurang dalam bekerja sama.

''Ibarat sepakbola, tim yang kuat adalah tim yang anggotanya bisa bekerja sama dan saling mengisi. Namun, orang NU sering bermain secara individu, dan pintar membuat gol ke gawang sendiri,'' ujar Adnan pada dialog di PCNU Kebumen, Minggu sore (3/12).

Acara dialog itu diadakan pada pelantikan pengurus cabang PMII Kebumen, bertema ''Zikir, Pikir dan Amal Saleh sebagai Perwujudan Solidaritas Gerakan dalam Membangun Bangsa''. Tampil juga sebagai pembicara, Ahmad Solekan dari PB PMII dan Koordinator Cabang PMII Jateng Mahbub Zaki.

Hadir juga pada acara tersebut, Ketua PCNU Kebumen Drs H Masykur Rozzaq, Pengasuh Ponpes Salafiyah Wonoyoso KH Muntaha Mahfudz, sejumlah ulama dan pengurus NU, serta mahasiswa aktivis PMII se-Kebumen.

Menurut Adnan, faktor kedua yang menyebabkan lemahnya NU adalah banyaknya pengurus dan kader yang memposisikan organisasi NU hanya sebagai kuda kepang. Yakni dinaiki, hanya saat diperlukan. Sesudah itu, kuda kepang digantungkan atau ditinggal begitu saja.

Adnan mengajak seluruh elemen warga NU tetap menegakkan ajaran ahlussunnah waljamaah . Ia juga meminta nahdliyyin menjadikan NU sebagai madrasah tempat belajar dan mengembangkan keilmuan.

Rebutan Santri

Sementara itu, Mahbub Zaki menandaskan, kebesaran NU perlu pembuktian lewat hikmah dan kinerja. Untuk bisa berhikmah, warga NU harus mau berkorban secara lillahi ta'ala. Sayangnya, belakangan ini sering dijumpai para kiai NU saling bermusuhan, rebutan santri. Ada pondok lor ada pondok kidul, ada pondok wetan ada pondok kulon.

''Mari kita sama-sama eling lan waspada. Eling kepada Gusti Allah, waspada terhadap keadaan,'' ujar aktivis yang mengakui Adnan sebagai dosen sekaligus orang tuanya itu.

Sementara itu, Ahmad Solekan meminta aktivis PMII tetap mengedepankan nilai-nilai Islam serta menjaga moralitas dalam melakukan gerakan.

Menurutnya, sering kali aktivis PMII merasa besar, namun mengabaikan sisi moralitas. Bila tak disadari, hal itu bisa mengancam eksistensi organisasi. (B3-24)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA