| Selasa, 05 Desember 2006 | KEDU & DIY |
Masyarakat Kandangan Dambakan Gedung SekolahWONOSOBO - Dusun Kandangan, Desa Banyumudal, Kecamatan Sapuran, Wonosobo, yang terletak di lereng Gunung Sumbing, selama 24 tahun terakhir ini tidak punya gedung sekolah. Sementara sekolah dasar terdekat dari dusun itu mencapai tiga kilometer. Untuk mencapai sekolah itu, siswa harus melewati jalan makadam di tengah hutan. Kondisi letak desa yang terpencil dan kurangnya prasarana pembelajaran, menjadi salah satu faktor besarnya angka penyandang buta aksara di desa tersebut. Jumlah penyandang buta aksara di Desa Banyumudal tercatat 400 orang lebih. Dari jumlah itu, 160 orang di antaranya ada di Dusun Kandangan. Kini, banyak anak berusia 7 tahun sampai 12 tahun yang tidak bersekolah. Beberapa warga Dusun Kandangan yang dihubungi Suara Merdeka mengaku tidak menyekolahkan anaknya ke SD atau MI, karena tidak bisa mengantar mereka tiap hari ke sekolah. Di sisi lain, mereka tidak tega melepas begitu saja anak usia 7-8 tahun untuk bersekolah ke dusun lain yang jauh jaraknya dan melewati hutan. Kenyataan yang memprihatinkan itu, oleh Kepala Dusun (Kadus) Kandangan, Amin Abdullah, dilaporkan kepada Wakil Bupati Wonosobo Drs H Muntohar MM. Aspirasi tersebut dilontarkan ketika Wakil Bupati meninjau korban kebakaran, Minggu (3/12). Dia menyebutkan, sekarang ini banyak anak-anak yang tidak bersekolah, sehingga warganya menginginkan ada sekolah di dusunnya. Menanggapi keinginan warga itu, Muntohar minta kepada Kadus Amin untuk menyediakan tanah seluas 1.000 - 2.000 meter persegi untuk lokasi gedung sekolah. "Pada tahap awal, di lokasi yang tersedia itu dibangun tiga ruang kelas, untuk menampung siswa kelas I - III. Tahap selanjutnya, dibangun tiga kelas lagi, hingga bisa menampung sampai kelas VI. Saya berharap, pada tahun 2007, hal ini bisa terealisasi," ujar Muntohar. Secara terpisah, Dewan Pendidikan Wonosobo mengusulkan agar di wilayah terpencil itu disiapkan tiga ruang kelas sebagai kelas jauh SD Banyumudal. Hal itu akan bisa mengurangi penyandang buta aksara serta menunjang Wajardikdas sembilan tahun. Sebelum tahun 1982, di Dusun Kandangan sudah ada bangunan SD. Namun ketika gedung sekolah itu porak poranda diterjang angin ribut, hingga sekarang tidak direhab. (P55-24) |