| Selasa, 05 Desember 2006 | KEDU & DIY |
Sebagian Usaha Mikro Tak Punya KomputerPERANGKAT teknologi tinggi seperti komputer ternyata hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja, terutama strata pendidikan dan ekonomi menengah ke atas. Penelitian Acces Markets International (AMI) menunjukkan sebagian besar, 75% usaha mikro (di Indonesia disebut usaha kecil dan menengah-Red) tidak mempunyai komputer dan bahkan belum pernah menyentuh alat itu. ''Padahal bisnis mikro berkembang sangat pesat di wilayah Asia Pasifik termasuk Indonesia dan menjadi sumber lowongan pekerjaan terbesar,'' ungkap Corporate Marketing Hewlet-Packard (HP) Indonesia, Sonita Galad ketika memberikan materi kepada sejumlah LSM dan UKM di Hotel Hyatt baru-baru ini. Para ahli menyatakan tingkat pengangguran tinggi di negara-negara dengan jumlah penduduk besar seperti China dan India, dapat dikelola lebih baik dengan cara mendorong setiap anggota masyarakat mengembangkan usaha kecil. Sayangnya, adopsi mereka terhadap teknologi sangat rendah dan ini merupakan penghambat pokok pertumbuhan usaha. Kondisi tersebut mendorong HP melakukan terobosan baru, memberikan bantuan kepada usaha kecil, LSM, organisasi nirlaba, yayasan, lembaga pendidikan dan institusi sejenis. Bantuan berupa pemberian perangkat komputer yakni laptop, mobile card, printer dan asesorisnya, mesin fotokopi, scanner, akses nirkabel dan server guna menunjang kegiatan masing-masing lembaga. Pelatihan Bantuan tidak hanya dalam bentuk produk tapi juga tunjangan sebesar 30.000 US Dolar untuk kurikulum pelatihan bertajuk ''Smart Technology for a Smart Business''. Sisanya, 50.000 US Dolar diberikan dalam bentuk produk mulai dari laptop dan perangkat lain. ''Program ini memang ditujukan bagi agen-agen pembangunan organisasi nonprofit, LSM atau institusi yang terlibat dalam pengembangan usaha mikro di seluruh Indonesia,'' ujar perempuan berjilbab yang berhidung mancung itu. Mereka yang akan memperoleh bantuan harus membuat proposal lengkap dengan atau tanpa Bahasa Inggris. Dia menyadari tidak semua organisasi apalagi UKM mahir berbahasa asing. Karena itu pengajuan proposal bisa disampaikan menggunakan bahasa Indonesia dan pihaknya akan membantu menerjemahkan. ''Siapa saja bisa mengajukan permohohan, bebas, namun lebih disukai apabila mendukung inisiatif gender, menunjukkan komitmen yang memastikan adanya partisipasi perempuan. Pasalnya selama ini kaum hawa masih dimarjinalkan, inilah yang coba kami angkat,'' tandas Sonita. Dia menjelaskan, UKM, LSM dan organisasi nirlaba lain bisa mengajukan proposal secara online ke sonita.galad@hp.com, paling lambat 29 Desember 2006. Pihak HP akan menyeleksi dan mengumumkan peserta yang berhak memperoleh bantuan tanggal 22 Januari 2007. (Agung PW-39) |