logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Desember 2006 PANTURA
Line

Perajin Pesawat Mainan Kesulitan Modal

  • Produksi Turun 30 Persen

BREBES - Perajin pesawat mainan anak-anak (pesawat otok-otok) di Desa Glonggong, Kecamatan Wanasari, Brebes, kini mengaku kesulitan modal. Akibatnya, jumlah produksi mereka menurun cukup tajam hingga 30 persen. Padahal, produk yang dibuat secara tradisional itu pasarannya sangat baik. Bahkan, sudah menembus luar negeri.

Kuriah (45), seorang perajin, mengatakan, kondisi tersebut sudah dialami cukup lama, tepatnya sejak harga bahan bakar minyak (BBM) naik. Semula satu perajin setiap minggu mampu memproduksi 1.000 buah, namun saat ini paling banyak 700 buah.

Menurutnya, kondisi demikian terjadi karena harga bahan baku naik. Bahan utama pesawat buatan Glonggong itu dari barang bekas, seperti limbah karet sisa pembuatan sandal dan plastik limbah pabrik.

"Harga karet sekarang Rp 7.000 per kilogram (kg), sebelumnya hanya Rp 5.500 per kg. Harga plastik yang semula Rp 5.000 per kg, kini Rp 6.500 per kg," paparnya.

Hal senada dikatakan perajin lainnya, Tantoro (30). Menurutnya, kesulitan modal diperparah dengan harga bawang merah yang terus tidak stabil. Padahal, hasil pertanian tersebut selama ini menjadi pendukung kebutuhan modal.

"Kalau harga bawang merah baik, kesulitan kami masih bisa diatasi dengan meminjam modal kepada juragan bawang. Sebab, selain menjadi perajin mainan, warga di sini juga mayoritas petani bawang," ujarnya.

Hingga Malaysia

Dia mengungkapkan, di desanya ada 20 perajin. Di samping untuk memenuhi kebutuhan lokal, produksinya juga dipasarkan ke luar pulau, seperti Sumatera dan Kalimantan. Bahkan, hingga Malaysia dan Brunei Darussalam.

"Untuk pasaran luar pulau dan luar negeri biasanya dikirim sebulan sekali 500 unit. Namun, seiring kendala modal, pengiriman ikut turun. Karena itu, kami sangat berharap adanya bantuan modal dari Pemkab Brebes," ungkapnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Brebes, Ir Iskandar MM, mengatakan, tahun ini memang tidak ada bantuan modal, karena minimnya anggaran. Tetapi, tahun 2007 mendatang, pihaknya akan memberikan bantuan modal.

Bentuknya bukan uang, melainkan peralatan yang dibutuhkan perajin. Hal itu untuk mengantisipasi modal digunakan tidak secara tepat, seperti pengalaman tahun sebelumnya.

"Bagi perajin yang membutuhkan modal uang, telah disediakan pinjaman dengan bunga ringan melalui Badan Kredit Kecamatan (BKK)," jelasnya. (bs-29h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA