| Sabtu, 02 Desember 2006 | OLAHRAGA |
Salam dari DohaMaunya Mengistimewakan, Jadinya MerepotkanBEGITU pesawat Etihad yang terbang dari Abu Dhabi mendarat di Doha pada Kamis tengah malam waktu setempat (Jumat dinihari WIB), saya pun menghentikan pandangan dari layar di depan tempat duduk yang menyediakan berbagai pilihan tayangan. Saya lebih suka menikmati tayangan kamera di luar pesawat, yang memberi dua pilihan penyajian: tampak depan atau tampak bawah, daripada beraneka ragam program hiburan. Setelah merasa cukup menikmati dua versi secara bergantian Doha dan pantainya dari udara, saya dikejutkan oleh suara awak pesawat yang meminta para atlet maupun perwakilan media yang datang untuk kepentingan Asian Games XV, supaya tidak turun lebih dahulu. Dua wanita memasuki pesawat, usai para penumpang non-Asian Games keluar. Di pesawat itu sebenarnya tak hanya para ofisial dan atlet tenis yang ikut terbang, tetapi juga Menpora Adhyaksa Dault. Itu nampak dari adanya petugas lain yang mengacun-acungkan kertas berisi nama itu, sebagai tanda dia melakukan penjemputan khusus. Menpora ternyata tak jadi terbang dengan maskapai milik Pemerintah Uni Emirat Arab tersebut. Penjemput itu pun berlalu. Namun, dua wanita yang dari logat bahasanya bukan orang Qatar, tetap bertahan dan menemani sejumlah wartawan dan kontingen tim tenis Indonesia naik bus. Bus itu ternyata menuju terminal khusus, yang penuh dengan spanduk dan baliho Asian Games. Petugasnya begitu banyak, sementara tamu yang berdatangan sedikit. Begitu berbeda dari terminal umum, yang sebelumnya dilewati bus kami. Penumpang berjubel di sana. Dalam terminal khusus, petugas imigrasi dengan cepat memeriksa paspor dan visa. Namun, para petugas lain lupa memberikan bunga sebagai bentuk sambutan resmi pada pendatang yang datang untuk keperluan Asian Games. Kejadian demikian baru terasa setelah sejumlah tamu lain, yang di antaranya datang dari Kazakhstan, menerima bunga dari para penyambut, tanpa kecuali. Soal bunga yang lupa barangkali bisalah dianggap sepele. Bagasi Permasalahan yang membuat jengkel muncul, karena ternyata tak ada persiapan memadai menyangkut pengantaran kopor-kopor yang disimpan dalam bagasi pesawat. Jadilah kecepatan dalam pengurusan visa, tidak banyak berarti, karena menunggu kedatangan barang bawaan cukup lama. ''Waduh, kita telantar nih,'' seloroh pelatih tim tenis putri, Suzanna Anggarkusuma. Untungnya kopor-kopor mereka seragam dan dilengkapi tanda sebagai milik kontingen Indonesia. Pengenalannya bisa cepat dilakukan, sehingga bisa segera disusulkan tak lama setelah komplain muncul. Seorang rekan wartawan yang iseng-iseng menandai kopornya dengan striker bendera Merah Putih dan tulisan Indonesia juga ikut diantarkan. Cara pengenalan bagasi dengan pengidentifikasian atribut agaknya tak bisa dibantah, karena ternyata beberapa saat kemudian datang lagi kopor serupa yang sebenarnya bukan milik anggota kontingen. Jadilah beberapa kopor dengan atribut Merah Putih dan tulisan Indonesia teronggok begitu saja. Barangkali pada saat yang bersamaan di terminal umum sejumlah orang kebingungan mencari barang-barang bawaannya. Karena tak ada atribut keindonesiaan, kopor-kopor milik enam wartawan lain tidak bisa cepat diantar, meskipun kode bagasinya telah diberikan. Maksud mengistimewakan, yang terjadi justru merepotkan. Akhirnya setelah menunggu sekitar 90 menit, barulah barang-barang itu datang. Padahal penerbangan dari Abu Dhab ke Doha hanya sekitar satu jam. Kejengkelan kami bertambah, karena meskipun visa dan identitas peliputan telah dimiliki, kami yang sudah digiring untuk menggunakan bus panitia menuju Main Media Centre (MMC) tak boleh naik gara-gara tempat penginapan yang dipesan bukan merupakan bagian dari jaringan yang bekerja sama dengan panitia penyelenggara. Langkah prosedural yang mengecewakan, karena sebenarnya mereka baru saja membuat jengkel akibat kurang rapi dalam mengkoordinasikan pengiriman bagasi dari terminal umum ke terminal khusus. (Ananto Pradono, dari Doha-28) |