| Sabtu, 02 Desember 2006 | WACANA |
Surat PembacaSoal Ujian SIMTulisan saya di Surat Pembaca 18 November 2006 berjudul "Sulitnya Ujian SIM" mendapat banyak tanggapan dari berbagai pihak. Salah satu tanggapan simpatik datang dari Polres Semarang, menjelaskan kegiatan yang sudah dilaksanakan bagian Pendidikan rekayasa/Pendidikan masyarakat (Dikyasa/Dikmas). Antara lain penyuluhan keamanan ketertiban dan kelancaran lalulintas bagi sopir ojek, penyuluhan aturan dan etika berlalu lintas di sekolah - sekolah. Juga penyuluhan tertib lalu lintas di radio Rasika FM yang mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kemudian penyuluhan tata tertib lalu lintas bagi karyawan perusahaan/pabrik. Sedang kepada masyarakat melalui kelurahan serta banyak lagi kegiatan lain. Masyarakat berharap, pihak kepolisian dapat terus memberi penyuluhan melalui berbagai jalur, lintas program dan dalam berbagai kesempatan. Ani Taruastuti. Jl Mayjen Sutoyo 50, Ungaran *** Smackdown Olah raga gulat gaya bebas ala Amerika kini menimbulkan demam tersendiri di kalangan anak-anak di kampung saya bahkan mungkin di seluruh daerah. Promosi olahraga ini gencar dan menghebohkan. Bahkan stasiun Lativi disinyalir paling getol menyajikan acara seperti smackdown, tapi mulai kemarin dihentikan. Tokoh gulat seperti John Cena, Rey Misterio, Cane, King Booker dan Hulk Hogan seakan lekat di benak penggemarnya dan menjadi idola baru. Bagi orang dewasa tentu acara ini tak berpengaruh tapi bagaimana imbasnya bagi anak yang menonton. Lihat saja dari sisi kekerasan, olahraga gulat kok boleh memukul pakai kursi, batang besi hingga tangga alumunium dan itu sah-sah saja."Barang itu di sampluk sampluk-kan" ke tubuh lawan serta belum lagi gaya mencekik, memiting dan menonjok ke bagian tubuh yang mematikan seperti leher, dada dan kemaluan. Ngeri betul. Secara susila tayangan ini juga memprihatinkan. Simak makian kotor yang dilontarkan, pegulat wanita yang memamerkan bagian sensitif tubuhnya yang setengah telanjangdan lainnya. Acara semacam smackdown sejak dulu memang kontroversial, lucu dan terkadang menggelikan karena kesannya para pemainnya hanya berakting. Tayangan ini juga penuh kekerasan di luar batas namun aneh kenapa KPID diam saja. Pihak stasiun teve bisa saja berkelit, tayangan gulat bebas itu disiarkan malam hingga jauh.dari "jangkauan" anak- anak. Nyatanya siswa SD tempat saya mengajar, akrab dan terkadang mempraktikkan olahraga ini. Mereka juga rela nonton hingga larut malam yang berakibat esok harinya membolos. Aryo Widiyanto AMd Jl Sri Agung 234 Cepiring, Kendal *** Ruang Khusus di Ramayana Dept Store Tulisan saya di surat pembaca 16 November 2006 berisi kritikan untuk Ramayana Dept Store Mal Ciputra mendapat tanggapan dari staf humasnya yang datang ke rumah untuk meminta maaf sekaligus mengklarifikasi. Ternyata swalayan ini telah menyediakan ruang khusus untuk pengunjung yang dalam kondisi darurat misal sakit, pingsan dan kecelakaan. Termasuk untuk tempat menyusui bayi seperti yang saya butuhkan waktu itu. Mengenai perbedaan label harga dengan data kasir, mereka mengakui kelalaiannya dan minta maaf serta berjanji lebih teliti lagi. Semoga pihak Ramayana dapat menepati janjinya kepada konsumen sehingga tidak ada lagi yang dirugikan. Atas kesigapannya merespons kritikan konsumen, saya salut dan terima kasih. Semoga pelayanan ini dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Eko Tri Soetarmo Griya Mulyaloka A III/1, Semarang *** Masjid Megah dan Tangan Menengadah Saat elok purnama terlihat ayu berdandan di lengkung langit biru yang menawan, saya berkesempatan menikmati kemegahan Masjid Agung Jawa Tengah. Penyakit udik pun seketika kambuh, bulu roma merinding dan tubuh kurus ini seakan menyusut tinggal seonggok tulang tersungkur di pelataran masjid yang ngedap-edapi tersebut. Menatap kemegahan MAJT, sadar atau tidak serasa ada aliran kebanggaan menyelusup ke seluruh sel-sel tubuh, menggelitik cuping hidung, telinga hingga ubun-ubun pun berdesir tak karuan. Sesuai dengan namanya, kemegahan tentu menggambarkan tingkat kemakmuran umat muslim di daerah ini. Namun harus pula mengakui bahwa kemegahan masjid ini belum berbanding lurus dengan kesejahteraan umatnya. Umumnya masjid megah belum mampu menjadi jaminan menipisnya jumlah tangan-tangan yang menengadah. Justru malah makin mewabah. Bukankah dahi-dahi yang bersujud juga saudara bagi mereka yang sajadah pun tak punya?. Bukankah mereka yang bercucuran keringat dalam kayuh becak, onggokan sampah, debu jalanan, rendaman lumpur, badai lautan, juga saudara mereka yang bersujud di atas bentang sajadah empuk dan ruang yang sejuk?. Bangsa ini dihuni banyak pengusaha multijutawan yang berpeci mengkilap. Namun belum ada yang bertekad mengikis jurang antara kaya dan kaum papa. Akankah sepak terjang Muhammad Yunus si peraih nobel perdamaian dunia karena berhasil membabat kemiskinan dan mampu mengithik-ithik hati dan nurani Jusuf Kallla, Aburizal Bakrie, Taufik Kiemas untuk menggandeng tangan-tangan menengadah menjadi tangan kokoh berjuang?. Sang bijak berujar, dunia ini adalah jembatan akhirat, tentu tak masuk akal bermegah-megahan di atas jembatan. Betapa terlukanya kaum papa ditinggalkan para pemimpin yang sibuk membangun kemewahan. Tuhan, ampunilah para pemimpin yang membangun kemegahan dan melupakan kemakmuran rakyat. Indra Ari Bakalrejo Rt 5/Rw I Guntur, Demak *** Untuk Dokter Jakobus Mengerikan sekali jika membaca penuturan dokter Jakobus A SpPD, tentang diabetis di surat pembaca 26 November 2006. Namun yang saya sayangkan kesadaran masyarakat akan ancaman diabetis sepertinya dianggap enteng, sama seperti merespon soal korupsi. Diabetis dan korupsi hampir sama bahayanya. Dua-duanya akan menghancurkan bangsa ini. Sudah tahu ada koruptor yang mengemplang uang rakyat, sehingga kekayaannya meningkat cepat sampai negaranya terseok-seok, namun pengusutan dan penuntutan terhadap koruptor tidak dilakukan sungguh-sungguh. Akibatnya tidak terjadi efek jera, justru makin menggurita bak penyakit diabetis. Saya tidak ingin membicarakan koruptor lagi, karena capek dan bosan. Lebih baik membahas penyakit diabetis agar bisa sehat jasmani hingga akhirnya sehat jiwanya. Kerusakan bangsa ini kiranya berawal dari rusaknya badan (perut lapar karena miskin). Kemudian mengakibatkan rusaknya mental dan sakit jiwa. Soal diabetis, saya mengajak dokter Jakobus untuk meneliti manfaat alat ion detoks yang beberapa waktu lalu menjadi polemik. Banyak orang menyampaikan bahwa gula darahnya makin baik setelah menjalani terapi ion detoks. Begitu pula berbagai keluhan lain yang diderita ternyata juga dapat hilang. Sayangnya belum ada laporan penelitian ilmiah yang dapat dipakai acuan terhadap efektivitas dan dampak negatif dari alat tersebut. Semua pernyataan masih katanya dan tidak ada hasil statistik yang dapat dipertanggungjawabkan. Seandainya saja para dokter dapat merekomendasi khasiat ion detoks terhadap diabetis berdasarkan hasil penelitian, maka bisa dibayangkan betapa banyak nyawa terselamatkan. Tidak perlu diamputasi dan tidak perlu biaya tinggi serta tidak pula ada penderitaan dan ancaman sakit yang berkepanjangan. Selain kepada dokter Jakobus, saya juga berharap jika ada yang berminat meneliti pengaruh ion detoks terhadap diabetis, dengan senang hati saya bersedia bekerja sama. Daryoso Jl Tusam 1396, Semarang *** Tanggapan BCA Sehubungan dengan surat Bapak Budi Waluyo lewat surat pembaca 14 November 2006 rnengenai layanan BCA, kami ucapkan terima kasih. Mohon maaf atas kekurangnyamanan yang Bapak alami saat melakukan transaksi di salah satu cabang kami beberapa waktu lalu. Masukan yang disampaikan akan menjadi perhatian kami guna peningkatan layanan nasabah di masa mendatang dan berharap senantiasa memenuhi kebutuhan perbankan nasabah. Dwi Narini Manajer Biro Humas PT BCA Tbk |