| Sabtu, 02 Desember 2006 | NASIONAL |
Di Daerah, Jasa Dokter Rp 5.000/OrangSEMARANG - Jabatan ketua umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Sabtu (2/12) ini akan diserahterimakan dari Prof Dr dokter FA Moeloek SpOG (K) kepada Dr dokter Fachmi Idris MKes. Masyarakat pun akan segera mengetahui, siapa ketua terpilih PB IDI 2009-2012 pada hari yang sama. Sederet pekerjaan rumah telah menanti ketua umum PB IDI yang baru terpilih, mengingat tema muktamar kali ini ''Pemantapan Peran dan Posisi IDI Menuju ke Sistem Pelayanan Kedokteran Terpadu''. Selain itu, hasil muktamar tidak hanya berpengaruh pada anggota IDI tetapi juga bagi masyarakat luas. Karena itu, sebagian peserta muktamar berharap agar ketua umum mendatang selain mampu menjawab berbagai tantangan, juga dapat melayani para anggotanya. Pasalnya, saat ini masih banyak dokter yang taraf kehidupannya memprihatinkan. Keadaan itu tentu akan memengaruhi kerja mereka dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pemimpin yang mau melayani, itulah harapan yang disampaikan Sekretaris Umum IDI Wilayah Sumatra Selatan dokter Masagus M Hakim. Ketua umum PB IDI mendatang, lanjutnya, harus lebih memperhatikan dan memikirkan kesejahteraan dokter khususnya yang bertugas di daerah terpencil. Pasalnya, di beberapa daerah jasa dokter setara dengan jasa tukang cukur, Rp 5.000 - Rp 10.000 per orang. Melihat kondisi itu, lanjut Masagus, ketua umum IDI nantinya harus bisa mencari dan merumuskan suatu sistem dengan pelayanan terpadu. ''Artinya, kesejahteraan dokter meningkat tetapi tidak menambah beban masyarakat.'' Untuk menutupi kebutuhan, dokter akhirnya bersedia menerima banyak pasien. Akibatnya, pelayanan kepada masyarakat kurang efektif. ''Waktu tatap muka hanya sebentar karena banyak pasien yang antre.'' Belum Merata Selain itu, menurut penilaiannya, jaminan asuransi untuk dokter juga belum merata. Karena itu, dia berharap, agar pemimpin IDI mampu menciptakan berbagai inovasi demi kemajuan salah satu organisasi profesi tertua di Indonesia itu. Dia menekankan, senioritas atau yunioritas bukanlah hal yang terlalu penting untuk sosok ketua umum IDI mendatang. Syarat kapabel dan kredibel seharusnya yang lebih banyak berbicara. Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum IDI Wilayah Jawa Barat dokter Wawang S Sukarya SpOG (K) MARS. Menurutnya, ketua umum mendatang seyogianya berpengalaman berorganisasi. ''Setidaknya anggota atau pengurus pada tingkat wilayah.'' Selain harus mampu menjawab tantangan baik dari dalam maupun luar, dia harus mampu mendobrak segala kekakuan di organisasi itu. Dia menekankan, posisi tawar IDI saat ini masih lemah. Pada masa depan, IDI harus dapat memberikan advokasi pada para anggotanya. Misalnya para dokter PTT yang akan diberangkatkan ke daerah terpencil. ''Sebelum diberangkatkan, harus dijelaskan dahulu jaminan dan kesejahteraannya di sana. Selain itu, soal perlindungan asuransi.'' Dia pun menyoroti kecilnya kesempatan melanjutkan sekolah bagi dokter yang telah melewati tahapan pegawai tidak tetap (PTT). ''Padahal, merekalah yang harus diprioritaskan dan bukannya dokter-dokter non-PTT.'' Menurut Wawang, seorang pemimpin yang pernah ''susah'' dengan berpraktik di daerah terpencil atau puskesmas kecil akan memiliki empati lebih besar terhadap para anggotanya. ''Dengan begitu, dia akan memperjuangkan nasib para dokter yang bertugas di daerah terpencil,'' ujar dia. Hingga semalam, sidang komisi masih berlangsung. Pemilihan ketua umum PB IDI 2009-2012 putaran pertama dilaksanakan setelah sidang komisi. (H11,H31-46j) |