logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Desember 2006 MURIA
Line

Turun, Penderita HIV di Kabupaten Rembang

REMBANG - Empat orang dinyatakan positif terserang HIV (Human Immunodeficiency Virus HIV) - virus penyebab AIDS - di Kabupaten Rembang pada tahun ini.

Jumlah tersebut turun satu orang dibandingkan tahun lalu, kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Rembang dokter Agus Setiyohadi.

''Dari lima orang yang tertular HIV pada tahun lalu, satu di antaranya meninggal karena Acquired Immune Deficiency Syndrome atau AIDS,'' jelasnya, di sela-sela Peringatan Hari AIDS se-Dunia di Kompleks Stadion Krida Rembang, Kamis (30/11) malam lalu.

Dikatakan, di Kabupaten Rembang saat ini telah ada Komisi Peduli AIDS Daerah (KPAD) yang akan menyosialisasikan bahaya AIDS kepada masyarakat.

''KPAD akan bekerja sama dengan sejumlah organisasi kemasyarakatan dan LSM, dalam rangka menanggulangi penyebaran HIV di Kabupaten Rembang,'' jelasnya.

Dalam memperingati Hari AIDS se-Dunia, LSM PLAN Rembang menggelar kirab obor yang diikuti ratusan orang, Kamis malam lalu. Pada kesempatan itu disebar brosur dan stiker mengenai bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat.

''Pengetahuan tentang HIV/AIDS perlu terus digalakkan di kalangan generasi muda,'' kata Direktur PLAN Regional Rembang Syamsu Salewangan.

Di Blora Tiga Meninggal

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) memantau ada tiga penderita AIDS di Kabupaten Blora dan semuanya telah meninggal dunia.

''Di Blora, ada tiga penderita AIDS, semuanya telah meninggal,'' jelas Kasubdin Pemeliharaan Kesehatan Dinkes Lilik Hernanto SKM MKes, kemarin.

Dia menjelaskan, di Indonesia, kasus HIV saat ini diperkirakan sudah mencapai 1 juta hingga 1,5 juta penderita. Sementara itu, di Blora hingga saat ini kasus HIV yang ditemukan sebanyak 20 orang. Untuk AIDS ada tiga orang dan penderita AIDS ini semuanya sudah meninggal.

Yang justru perlu mendapat perhatian adalah persoalan yang terjadi saat ini, untuk penderita yang masih hidup ada kesan dianggap sebagai sampah masyarakat. Bahkan cenderung dikucilkan. ''Kenyataannya, masyarakat belum bisa menerima orang dengan HIV/AIDS (ODHA), hidup berdampingan, dan bersosialisasi dengan masyarakat yang masuk kategori sehat,'' ungkapnya.

Terlebih, lanjut Lilik, selama ini ada anggapan dari sebagian besar masyarakat bahwa ODHA identik dengan orang yang tidak bermoral. Padahal, stigma tersebut tidak semuanya benar. Karena berdasarkan data yang ada, penyebab atau penularan penyakit yang masih menjadi momok masyarakat itu di antaranya melalui narkoba, suntikan, dan hubungan seks bebas.

Dia menyebutkan, pada prinsipnya penularan penyakit tersebut melalui tiga cara, yakni hubungan seks, dalam hal ini sering berganti-ganti pasangan. Melalui darah, misalnya pemakaian narkoba dengan jarum suntik tidak steril atau transfusi darah.

Selain itu, seorang ibu penderita yang hamil bisa menularkan kepada bayi yang dikandungnya.

Dengan hal itu, dapat disimpulkan tidak semua penderita HIV/AIDS adalah orang yang tidak bermoral. Dengan kata lain, penyakit tersebut tidak mutlak berhubungan dengan masalah moral atau iman. Pasalnya, seseorang yang bermoral pun bisa saja tertular dari pasangannya yang di luar nakal. Misalnya, sering berganti-ganti pasangan. Seorang bayi yang tidak berdosa pun juga bisa menjadi penderita karena tertular dari ibunya.

Dikatakan, masyarakat juga bisa tertular melalui transfusi darah atau juga dari jarum suntik atau peralatan kesehatan lain yang tidak steril di tempat-tempat pelayanan kesehatan umum.

Untuk itu, Lilik berharap, jangan menganggap penderita penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya itu sebagai sampah masyarakat, sehingga perlu dijauhi dan diasingkan.

Di Kudus

Di Kudus, puluhan simpatisan peduli AIDS, Jumat (1/12) pagi melakukan aksi kepedulian di sekitar Alun-alun Simpang Tujuh.

Mereka membagi-bagikan bunga kepada para pengguna jalan dan menyodorkan selebaran berisi imbauan untuk bersama mencegah penyebaran virus HIV.

Elemen masyarakat pelaku aksi kepedulian yang menamakan diri Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat (PIKM), melalui koordinatornya, Faid, juga meminta semua pihak untuk berempati kepada penderita penyakit mematikan tersebut.

Adapun Kabid Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kudus dokter Farid Noor mengimbau semua unsur masyarakat untuk secara aktif berupaya mengatasi kemungkinan penyebaran AIDS di Kota Kretek.

Sejak tahun 2005-2006, pihaknya mencatat ada dua orang yang positif terkena HIV. Satu orang di antaranya meninggal tahun ini. (ud,H19,H8-52,58v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA