logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Desember 2006 SEMARANG
Line

Memperingati Hari AIDS Sedunia 1 Desember

''Kuncinya Pengendalian Diri...''

HIV/ AIDS seolah menjelma jadi makhluk yang mengerikan. Virus ganas yang bisa merusak sistem kekebalan manusia itu, dapat menyerang siapa saja dengan berbagai cara penularan.

Bayi bisa terinfeksi virus, bila sang ibu juga terjangkit. Ibu sangat mungkin tertular HIV dari suami yang sering ''jajan'' ke lokalisasi. Suami terkena virus dari wanita penjaja seksual (WPS). Sementara mereka yang sudah terserang HIV dan menggunakan jarum suntik narkoba secara bersama, juga mudah menularkan virus yang di Indonesia ditemukan kali pertama tahun 1985 di Jakarta.

Semua serbamungkin tertular penyakit yang belum ditemukan penawarnya tersebut. Karena itu, semua harus peduli untuk bersama mencegah penularannya. Pemerintah telah membentuk Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di setiap kota/kabupaten.

Tidak terkecuali, di Kabupaten Semarang. Di daerah ini, jumlah penderita HIV/AIDS menduduki peringkat dua se-Jateng. Saat ini, ada 84 warga yang mengidap HIV. Dari jumlah itu, 10 di antaranya telah menjadi penderita AIDS. Satu di antara 10 orang itu, meninggal pada 2005. Korban yang meninggal di Bandarejo Ungaran itu ternyata pria homoseksual.

Untuk meminimalkan korban, Bagian Sosial Setda, KPA, dan Komisi D DPRD melakukan kunjungan kerja ke Medan dan Batam, belum lama ini.

''Hasil yang kami peroleh dari kunjungan itu, tumbuh semangat untuk membentuk Pokja HIV/ AIDS di setiap kecamatan, seperti yang dilakukan KPA Medan. Kabupaten Semarang juga telah menyusun rencana strategis (renstra) penanggulangan HIV/AIDS. Kuncinya pengendalian diri agar tidak terkena virus ini,'' tegas Drs Haris Pranowo Kabag Sosial Setda kemarin.

Transaksi Seksual

Dalam kunjungan itu, DPRD juga menyerap pengetahuan di Medan dan Batam yang angka penderita HIV cukup tinggi se-Indonesia.

Ketua Komisi D Bambang DN menyinyalir, banyak orang yang singgah di Kabupaten Semarang yang merupakan daerah lintasan provinsi dan berada di antara kota-kota besar di Jateng. ''Di Kabupaten Semarang yang berhawa dingin, banyak ''selimut'' yang berpotensi menarik orang luar. Sangat mungkin transaksi seksual menimbulkan HIV/AIDS,'' jelas dia saat bertemu dengan KPA dan jajaran PNS Pemkot Medan dan Batam.

Di wilayah ini banyak dijumpai rest area para sopir truk, seperti Tegal Panas dan Gembol.

Di Bandungan, juga terdapat lokalisasi yang sering dikunjungi lelaki hidung belang. Di sepanjang Jalan Semarang - Solo, bertebaran panti-panti pijat ''terselubung''.

Soal penanganan penderita AIDS yang meninggal, Pemkab Semarang akan meningkatkan kewaspadaan.

Termasuk, air untuk memandikan jenazah penderita AIDS harus ditampung dan disterilkan. (Rony Yuwono-16m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA