| Sabtu, 02 Desember 2006 | SEMARANG |
Motif Batik Semarangan Harus DipatenkanKALAU tidak ingin diambil pihak lain, mau tidak mau motif batik semarangan harus segera dipatenkan. Pengakuan resmi terhadap hak atas kekayaan intelektual (HAKI) itu merupakan catatan penting terhadap warisan budaya Semarang. Dengan hak paten, pada masa mendatang, orang akan lebih mudah memperoleh rujukan jika hendak mencari tahu tentang batik semarangan. Pernyataan itu terlontar dari Wali Kota Sukawi Sutarip, ketika menghadiri pelatihan perajin industri kecil batik yang diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Semarang di Gedung Marabunta Jl Cendrawasih, beberapa waktu lalu. Pelatihan hingga 13 Desember itu diikuti 20 peserta. Mereka terdiri atas perajin batik yang telah memiliki bapak asuh, antara lain berasal dari Kecamatan Tembalang, Banyumanik, Ngaliyan, Semarang Utara, Semarang Selatan, Gajahmungkur, Gunungpati, dan Mijen. Pelatihan yang digelar bersama Paguyuban Pencinta Batik Bokor Kencono dan Disperindag itu juga dimeriahkan dengan peragaan busana. Sejumlah peragawan/peragawati dari Exist Modelling pimpinan Bayu Ramli, membawakan berbagai busana yang berbahan dasar batik semarangan. "Sungguh ironis, negeri kita yang begitu kaya akan berbagai motif batik. Akan tetapi, hak patennya justru dipegang Malaysia. Kita tentu tak ingin, hal itu menimpa batik semarangan," tutur Wali Kota. Dia berkisah, pada lawatan ke Nanning, China beberapa waktu lalu, batik semarangan merupakan salah satu hal yang disampaikan. Mendengar Kota Semarang punya batik, terkejutlah mereka. "Sebab yang selama ini didengar dan diketahui orang, batik ya punya Solo, Yogya, Pekalongan, atau Lasem." Ketika diceritakan tentang kekayaan motif batik semarangan, rata-rata mereka kagum. Apalagi, ketika mereka mendengar pemaparan tentang rencana menghidupkan kembali Kampung Batik yang konon merupakan cikal bakal batik di tanah Jawa. Inventarisasi Gayung bersambut, pernyataan Wali Kota ditimpali Ketua Dekranasda Kota Semarang Ny Sinto Adiprasetyorini. Menurut dia, Dekranasda telah menyiapkan konsep untuk mematenkan motif batik semarangan. Langkah pertama yang akan ditempuh, menginventarisasi motif-motif batik semarangan, dengan menggandeng para peneliti dan pakar dari kampus. "Hingga saat ini, proses inventarisasi itu terus berlangsung, sambil ditempuh langkah-langkah untuk merumuskan motif batik semarangan yang sebenarnya. Mudah-mudahan pada Hari Jadi Semarang tahun depan, kita sudah bisa mengumumkan motif batik semarangan," tutur dia yang didampingi Kepala Disperindag Kota Prijo Anggoro BR. Tentang revitalisasi Kampung Batik, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang itu menjelaskan, untuk sementara mengalami jeda. Sebab pihaknya terkendala penanganan limbah proses pembatikan. Selain itu, juga tengah ditata konsep untuk memadukan warna batik semarangan yang cerah dengan teknik pewarnaan alami yang cenderung lembut. (Achiar M Permana-18m) |