logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Desember 2006 SEMARANG
Line

Kornet Daging Kurban untuk Daerah Bencana

SEMARANG - Menjelang Idul Kurban, Rumah Zakat Indonesia Cabang Semarang menggulirkan program Superqurban. Program itu merupakan inovasi, yakni mengolah daging kurban dan mengemasnya menjadi kornet sehingga lebih awet. Dengan teknologi tersebut, penyaluran daging kurban bisa lebih luas jangkauannya dan lama. Bahkan sewaktu-waktu dibutuhkan di daerah bencana, kornet dari daging kurban tersebut bisa disalurkan kepada para korbannya.

''Program ini dapat menjadi pilihan berkurban yang lebih cerdas mengingat nilai keunggulannya yang berbeda dibanding program sejenisnya,'' kata Amal Ustad Muhammad, Kepala Rumah Zakat Indonesia Cabang Semarang, Rabu (29/11), di sela-sela sosialisasi program itu di Simpanglima.

Sosialisasi diwarnai dengan menggelar happening art mulai pukul 06:30-08:30. Aksi tersebut ditandai dengan pembentangan spanduk Superqurban mengelilingi Simpanglima. Sebanyak 25 personel rumah zakat yang mengenakan atribut Superqurban berupa maskot kornet qurban berjalan mengelilingi Simpanglima. Sebanyak 120 spanduk berukuran 6 m x 1,15 m juga dipasang mengelilingi Lapangan Pancasila

Menurut Amal, kehadiran pihaknya pada aksi kali ini menjadi gebrakan, sekaligus seruan kepada warga Semarang agar lebih mengoptimalkan ibadah kurban mereka.

''Bayangkan, berapa banyak hewan kurban yang dipotong pada hari kurban dan habis dalam waktu tiga hari. Sering kita saksikan panitia kurban kebingungan membagikan daging hingga sampai berkantong-kantong diterima oleh satu orang. Ini sungguh mubazir, karena tidak sampai kepada yang lebih membutuhkan,'' kata dia.

Di Semarang, jelasnya, pada 2006 jumlah hewan kurban yang disembelih sebanyak 6.362 ekor kambing dan 849 ekor sapi. Jika harga 1 ekor kambing rata-rata Rp 500.000 dan 1 ekor sapi Rp 6 juta, uang yang dibelanjakan untuk kambing kurban sebesar Rp 3,2 miliar, sedangkan sapi Rp 5,094 miliar. ''Total pembelian hewan kurban mencapai Rp 8,3 miliar, dan habis hanya dalam waktu tiga hari. Itu baru Kota Semarang,'' ungkap dia.

Daerah Bencana

Di sisi lain, kebutuhan gizi para korban bencana sampai sekarang belum tercukupi karena bantuan makanan sering diberikan secara sporadis dan instan. Menurut Amal, fenomena itu cukup membuatnya miris.

''Bencana di Aceh, Yogyakarta, Klaten, dan Pangandaran, semuanya terjadi di luar hari kurban. Daerah minus dan desa-desa miskin, juga membutuhkan pembinaan gizi yang berkelanjutan, tidak cukup hanya sekali daging kurban dibagikan,'' ungkapnya.

Karena itu, Rumah Zakat Indonesia Cabang Semarang yang berada di Jl Lamper Tengah hadir untuk memberikan solusi kelanjutan program kurban. Solusi yang dimaksud, ungkap dia, mengoptimalkan daging kurban di daerah-daerah surplus dengan diawetkan, sesuai syariat, teknologi yang higienis, bebas penyakit, tahan lama, jaminan halal, dan jaringan distribusi yang luas.

''Ini menjadikan ibadah kurban lebih bermanfaat, sehingga tidak sekadar pesta sate dan gule,'' kata dia didampingi Dian Sulistiyani, Head Customer Relation Officer Rumah Zakat Indonesia Cabang Semarang. (G17-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA