logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Desember 2006 SEMARANG
Line

Jual Motor, tetapi Belum Laku

WALNO (22) dikenal warga sekitar sebagai pemuda pendiam. Bahkan sejak bekerja sebagai buruh CV Wimo, perusahaan suplier bahan-bahan percetakan dua tahun lalu, dia tak pernah bermasalah. Hubungannya dengan para tetangga juga cukup baik.

Hal itulah yang membuat Kastur (46) pemilik warung makan tempat korban sering sarapan, merasa kehilangan. Apalagi korban meninggal mengenaskan.

Dia tak habis mengerti, kenapa ada orang yang tega melakukan perbuatan keji seperti itu. ''Bocah apik-apik kok meninggalnya kayak gitu. Kasihan dia. Padahal setahu saya, dia itu sangat pendiam. Tidak pernah punya musuh,'' tutur dia ketika ditemui Suara Merdeka, Jumat (1/12).

Dari gaya hidupnya, korban adalah orang yang hemat. Kalau di warung, dia makan, lauk apa saja tidak pernah menolak. Bahkan Walno sering memasak nasi sendiri, sedang lauknya beli di warung.

''Kadang beli mi, kadang tempe atau apalah, dia tidak pilih-pilih. Memang kalau makan irit benget, maklum upahnya sebagai buruh penjaga gudang dan suruhan di kantor itu sangat kecil,'' tutur dia.

Ny Kastur pun menimpali. Kematian korban meninggalkan kenangan baginya dan bagi anak gadisnya. Sebab bila jajan, korban kadang-kadang bercanda dengan anaknya.

''Bila mengenakan kaus belang-belang (motif bergaris-garis hitam putih-Red), selalu diledek anak saya seperti iklan permen di televisi swasta. Yang belang selalu enak dimakan,'' kenang dia sembari tersenyum.

Jual Motor

Nor Akhid Nawawi juga merasa kehilangan atas kematian korban. Sebab setiap hari, dia selalu tidur bersama korban satu kamar. Cukup banyak kenangan selama tinggal bersama di perusahaan milik Yusuf Wibowo itu. ''Walno pekerja keras. Dia disuruh apa saja oleh Bos, selalu mengerjakannya dengan baik. Kadang dia menjaga gudang, kadang mencatat keluar masuk barang,'' ungkap dia.

Sebelum meninggal, korban hendak menjual Honda Supra X H-4355-DL miliknya. Motor itu sempat ditawarkan kepada sejumlah orang, terakhir kepada warga Ngablak, Genuk. Motor itu ditawar Rp 6 juta, namun tidak dilepas. ''Kalau dibeli Rp 7,5 juta saya lepas,'' tutur Nor menirukan ucapan korban saat itu.

Namun dia tidak bisa memastikan apakah hal itu terkait dengan kasus pembunuhan tersebut atau tidak. Korban tidak pernah punya musuh. Selama bersama dengan korban, dia tidak pernah cerita kalau berkelahi atau bermasalah dengan orang. ''Dia itu pendiam. Selama ini, saya tidak pernah dengar dia punya musuh.''

Mengenai fisik, lanjut Nor Akhid, korban memang tipe cowok yang menarik. Tubuhnya atletis, dadanya bidang, dengan tinggi tubuh yang pas. Dia juga menjadi anggota klub fitnes di kawasan Medoho, Gayamsari.

Hubungannya dengan teman wanitanya juga baik. Dia tidak pernah mengajak teman wanitanya ke kantor. Justru korban yang keluar kantor menemui di suatu tempat. "Teman wanitanya banyak. Saya tidak kenal satu per satu. Apakah mereka pacar-pacarnya atau bukan, saya tidak tahu persis.'' (Karyadi-18m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA