| Sabtu, 02 Desember 2006 | KEDU & DIY |
Siswa SMK Ma'arif Salam Tuntut Pendidikan Tanpa KekerasanBOROBUDUR - Ratusan siswa SMK Ma'arif Salam, Kabupaten Magelang, berunjuk rasa menuntut tidak ada kekerasan dalam mendidik dan meniadakan jajan wajib di sekolah. Aksi itu dilaksanakan Selasa (28/11) siang. Keesokan harinya, proses belajar mengajar di sekolah itu kembali normal karena telah ada kesepakatan bermeterai Rp 6.000 yang ditandatangani Kepala SMK Ma'arif Salam H Muhyiddin BA dan Ketua OSIS Rofiq Mahali. Wakil Kepala SMK Ma'arif Salam, Sururi, mengemukakan, tuntutan siswa sudah dipenuhi karena saat ini siswa akan menghadapi ujian tengah semester. "Kami khawatir unjuk rasa siswa itu mengganggu proses belajar mengajar karena siswa mengancam akan menggelar aksi lanjutan, jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Namun setelah ada kesepakatan, kini proses belajar mengajar kembali normal," kata Sururi, Rabu (29/11). Bunyi kesepakatan kepala sekolah dan OSIS itu cukup unik. Kepala sekolah berjanji melaksanakan 10 butir kebijakan, sedangkan kewajiban OSIS dua butir, yakni melaksanakan kewajiban sebagai siswa secara baik dan ikut menyukseskan kinerja sekolah dengan memberikan masukan kepada sekolah melalui saluran yang benar. Adapun 10 butir kebijakan kepala sekolah yang berbunyi "jajan wajib ditiadakan" diganti dengan "jajan bebas dengan pengaturan dari pengurus OSIS. Kemudian sekolah harus meniadakan kekerasan dalam mendidik. Kendati demikian, para siswa masih mengancam akan melakukan aksi lagi untuk menuntut pembebasan biaya seragam sekolah. Sebab, tiap tahun siswa diharuskan beli seragam Rp 350.000. Padahal baju seragam yang dulu masih bagus. (pr-67n) |