logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Desember 2006 KEDU & DIY
Line

Memanfaatkan Ban Bekas untuk Mebel dan Pot Bunga

BARANG bekas tidak harus dibuang. Justru benda yang oleh sebagian besar orang dianggap sebagai sampah itu, melalui sentuhan Darusalam (36), warga Desa Pacarmulyo, Kecamatan Leksono, Wonosobo, berubah menjadi produk bernilai tinggi.

Jika di Desa Klilin, Kecamatan Kertek, ban bekas disulap menjadi sandal, namun oleh Darusalam, benda tersebut diubah menjadi perabot mebel; pot bunga, tempat sampah dan mainan. Setelah dijadikan produk seperti itu, nilai tambah yang diperoleh pun cukup tinggi.

Pria tak lulus SD yang membuka jasa tambal ban di depan rumahnya, ketika ditemui Suara Merdeka, mengatakan bahwa kemampuan membuat meja-kursi dari ban bekas dimiliki secara otodidak.

Belasan tahun silam, lanjut Darusalam, ia bekerja pada orang lain sebagai tukang tambal ban di Kota Wonosobo. Waktu itu, ia merasa sayang jika ban-ban bekas yang tidak terpakai dibuang atau dibakar.

Sehubungan dengan itu, ia pun merenung untuk dapat memanfaatkan ban bekas yang tidak terpakai. Berkat kemauan untuk berkreasi, Darusalam mulai berkarya dan mendaur ulang ban bekas.

Hasil karyanya, berupa pot bunga, tempat sampah, meja kursi dari ban bekas, mulai dikenal dari mulut ke mulut. Harganya pun relatif terjangkau dan kualitasnya cukup baik, mampu bertahan bertahun-tahun. Pelanggan juga terus bertambah.

Menurut dia, produk yang paling banyak dipesan adalah tempat sampah dan pot bunga. Pemesan tempat sampah biasanya sekolah-sekolah, sedangkan pot bunga, banyak dibeli masyarakat umum. Meja kursi acapkali hanya disiapkan untuk memenuhi pesanan.

Saat ini, satu set meja kursi (satu meja, empat kursi), harganya Rp 350.000 sampai Rp 400.000, sedangkan meja-kursi teras Rp 250.000. Tempat sampah berdiameter 50 cm Rp 25.000. Pot bunga harganya berkisar Rp 5.000 sampai Rp 7.500/buah.

Meski harga terjangkau, tandas Darusalam, kualitasnya tetap dijaga. Meja kursi mampu bertahan sampai tujuh tahun. Kursi ban bekas yang empuk dan lentur tersebut cukup kuat diduduki orang yang berbobot 75 kg. Demikian halnya dengan pot bunga dan tempat sampah akan bertahan bertahun-tahun. Produk daur ulang itu pun tidak lapuk dan tahan terhadap air.

Tukang Patri

Lelaki yang dikenal ulet dan kreatif tersebut, selain mendaur ulang ban bekas, ia pun dikenal piawai sebagai tukang patri plastik. Helm pecah dan bemper plastik sepeda motor yang rusak, bisa diperbaiki dan mulus kembali.

Darusalam termasuk tipe orang yang tidak mau berpangku tangan. Sejak beberapa tahun silam, ayah dua anak ini juga membuka jasa tambal ban di rumahnya.

Ia mengaku, untuk memperkenalkan hasil karyanya kepada masyarakat, ia mengikuti pameran memeringati hari jadi Wonosobo tahun 2002. Saat itu, kerajinan daur ulang ban bekas miliknya berhasil merebut juara I se-Kabupaten Wonosobo. Ia mendapat piagam penghargaan dan hadiah.

"Saat itu saya bangga. Penghargaan diberikan di Gedung Sasana Adipura Kencana secara meriah. Tetapi saya kecewa, hadiah yang saya terima ternyata hanya sebuah piring dan sebuah mangkuk. Meski demikian, hadiah itu, sampai sekarang masih saya simpan sebagai kenang-kenangan," ungkapnya.

Disinggung upaya pengembangan produk daur ulang, ia mengaku menghadapi kendala permodalan. (Sudarman-24)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA