logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Desember 2006 KEDU & DIY
Line

Yogya Sudah Terambah 62 Kasus HIV

YOGYAKARTA - Di Indonesia, negara Pancasila dengan jumlah penganut agama Islam terbesar di dunia dan mayoritas adalah nahdliyyin, ternyata tidak kalah maraknya dengan terjangkitnya HIV/AIDS. Secara kumulatif, sampai September 2006 dilaporkan sebanyak 6.987 orang menderita AIDS dan 1.651 di antaranya meninggal dunia. Sementara yang terinfeksi HIV dilaporkan sejumlah 4.617 orang, dan menyebar di 32 provinsi di Indonesia.

Hal itu dikatakan oleh Wakil Ketua PWNU DIY, Dr Ir Muhammad Maksum MSc, ketika membuka seminar HIV/AIDS dalam rangka menyongsong Hari AIDS se-Dunia oleh PWNU DIY di Wisma Kagama, Yogyakarta, Kamis (30/11).

Menurut Muhammad Maksum yang juga mantan Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM itu, periode Juli-Septembner 2006, 14 provinsi melaporkan kasus AIDS 655 dan infeksi HIV 90 kasus. Yogyakarta juga sudah terambah HIV dengan 62 kasus dan 1 infeksi HIV.

Tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas keterjangkitan itu didominasi oleh dekadensi sosial dalam bentuk heteroseksual, homoseksual, dan injecting drug user (IDU). Hanya sekitar 2,2 persen, keterjangkitan itu disebabkan oleh urusan prenatal, transfusi dan lain sebagainya.

Bisa Dimaklumi

Karena itulah, sangat bisa dimaklumi kalau hari ini sejumlah generasi muda NU mencermati dan menggugat peran sosial nahdliyyah dalam merespons mewabahnya penyakit yang dipicu sepenuhnya oleh penyakit-penyakit seksual yang tidak pernah memperoleh toleransi dalam kelompok agama apa pun, terutama Islam.

''Tentu saja keprihatinan akan penyakit sosial ini bukanlah dimaksud untuk mereduksi persoalan yang multidimensi kaitannya dengan HIV/AIDS, menjadi semata persoalan sosial-keagamaan, karena sifatnya sangat multidimensional,'' ujarnya.

Keadaan demikian, menurut Muhammad Maksum, menimbulkan pertanyaan, ''Mengapa negara yang sangat ndeso, miskin, dan agraris, negara Pancasila dan agamis, negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan dengan nahdliyyin sebagai mayoritas ini semakin ingar-bingar dengan HIV/AIDS?"

''Jangan-jangan kemelaratan dan segala atribut itu merupakan pemicu utama HIV/AIDS ketika para agamawan umumnya dan nahdliyyin khususnya, sudah tidak mampu menjadi penyejuk dan penawar peradaban dalam membangun masyarakat beragama di republik ini,'' imbuhnya. (P12-39d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA